Tafsir

Tafsir Tematik: Persaudaraan yang Bisa Kisruh (5)

Written by Panji Masyarakat

Adapun para mukmin tak lain satu saudara. Karena itu damaikanlah dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat. (Q. 49: 10).

Keniscayaan Transparansi

Di atas segala-galanya, zaman ini adalah zaman ketika politik ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang membentuk diri dalam wadah-wadah partai dan atau pressure groups yang tak resmi partai dan yang klandestin. Khasnya di negara-negara Islam, tempat warga negara (berbeda dengan di Barat) sudah lebih dulu mendapat bekal pandangan hidup dan satu gugusan perasaan dari ajaran, tugas partai-partai, jam’iyah atau organisasi yang membawakan aspirasi Islam (baik yang tanpa maupun yang lebih-lebih yang dengan nama Islam) mendapat tambahan: mereka juga dituntut untuk merawat ukhuwah islamiyah dengan menghindarkannya dari semangat ‘ashabiyah (fanatisme kelompok) yang sering membawa seluruh organisasi kepada tindakan yang mengesankan dirinya sebagai mewakili “seluruh Islam”, demi tujuan perjuangan. Dan itu berarti pertengkaran.

Mengingat kembali semangat ber-syi’ah-syi’ah di kalangan Islam,sampai ke tingkat yang mengikutsertakan paham (bagian dari) agama dalam kelompok, dipahami kiranya bahwa yang perlu dijaga ialah agar jangan doktrin keagamaan khas sebuah kelompok, kalau ada, diteguhkan demi identitas diri. Sebuah paham atau paradigma penafsiran baru mungkin saja berkembang. Tetapi tanpa menjadikannya doktrin titik tolak, pembaruan – dan perjuangan bagi pemasaran ide-ide – akan tidak merugikan usaha merawat ukhuwah yang dituntut itu.

Begitulah maka doktrin-doktrin keagamaan resmi yang ada dalam sebagian kelompok Islam tidak mustahil ditilik ulang (baca: Memecahkan Perpecahan). Demikian maka organisasi adalah organisasi – dan bukan agama atau bagian dari agama – sementara kelebihannya ditentukan oleh programnya dan prestasinya dalam membawakan misi. Itu berarti gerak menyatu, dan dengan itu kemajuan – dengan kemungkinan perubahan – tidak dihadang.

Sudah tentu hal itu menuntut pembukaan – “transparansi” – kelompok-kelompok agama di hadapan sesama  saudara. Tidak seperti sebuah tarekat, yang mungkin saja mewejang para murid dalam ruang tertutup untuk pelatihan melulu pada dimensi esoteris, pada organisasi keagamaan atau sosial keagamaan Islam modern kebijaksanaan klenik-klenik semacam itu tak bisa lain kecuali eksklusivisme yang bisa, bicara agak keras, mengkhianati persaudaraan. Itu terlihat jika sebuah pesantren modern atau klub keagamaan menutup orang luar dari menyaksikan proses belajar-mengajar, atau menghalangi para santri dari mendengar pengajaran ulama lain. Q. 39: 17-18:

Orang-orang yang menyingkiri berhala untuk mereka sembah, dan bertobat kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Karena itu gembirakanlah para hamba yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang paling baik. Merekalah yang diberi petunjuk Allah, dan mereka itulah orang-orang yang punya akal budi.

Ukhuwah islamiyah adalah sebuah lalu lintas terbuka. Sebuah kesatuan, tetapi juga dinamika. Kecuali kalau Anda memang bukan bagian dari jamaah besar.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 22 Juli 1998    

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda