Cakrawala

Kiai dan Santri yang Dirindukan

Written by Saeful Bahri

Sirah sebuah pesantren adalah rangkaian peristiwa yang dilakoni oleh sosok bernama kiai dan santri. Keduanya seiring sejalan dalam pergulatan mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu keislaman dari berbagai aspeknya. Pada kurun waktu yang tak tentu di sebuah tempat bernama masjid. Kiai, santri, kitab kuning, dan masjid menjadi rukun dan syarat sebuah institusi bernama pesantren.

Semuanya bermula dari seorang yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, perangai dan budi pekerti yang elok yang memancarkan kharisma bagi orang lain untuk mendekat kepadanya. Sosok itu bernama kiai.

Seorang kiai sudah pasti mengalami proses menjadi santri. Melewati perjalanan waktu untuk menjadi seorang pembelajar dan pengembara menimba ilmu dari seorang alim ke alim lainnya sampai batas waktu yang tidak menentu. Lalu detak waktu membawanya menjelma menjadi pribadi seperti gurunya pada masa lalu. Barangkali ini yang bisa menjelaskan untuk menggambarkan sirah seseorang yang masyarakat menggelarinya dengan sebutan kiai.

Pesantren dengan tokohnya bernama kiai, memang nama khas yang digunakan di pulau Jawa. Dibelahan negeri yang lain, seperti di Aceh, masyarakat setempat menyebutnya dayah atau meunasah dengan seorang teuku sebagai tokohnya. Di Sumatera Barat lain lagi, dikenal dengan istilah surau dan sosok seorang buya. Di Jawa Barat nama lain dari seorang kiai adalah ajengan. Di Madura beda lagi, orang menyebutnya dengan bendara yang disingkat ra.  Gelar-gelar itu disematkan oleh masyarakat kepada mereka yang alim dalam bidang agama, meskipun ia tak memiliki pesantren.

Dalam sirah selanjutnya, kiai dan pesantren bagaikan dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Sejarah keduanya bermula dari pihak ketiga bernama santri yang datang tanpa undangan. Kiai menjadi magnet yang menarik santri berdatangan dari berbagai kawasan. Seorang santri rela melintas batas, menyeberang pulau, menempuh jarak yang tak dekat dari kampung halamannya. Demi usaha dan tekadnya untuk mencari ilmu dari seorang guru. Santri adalah musafir yang mencari sumber-sumber air pengetahuan dari banyak kiai di berbagai lokasi. 

Setelah santri datang, pantang bagi seorang kiai menolak niat santri untuk belajar kepadanya.  Baginya,  santri adalah ladang untuk menanam benih-benih kebaikan dalam wujud pengamalan ilmu.  Rumahnya ia jadikan tempat persemaian untuk menanam benih dengan pupuk ikhlas,  sabar,  dan tawakal.  Agar tumbuh generasi yang paham ilmu agama dan berakhlak mulia.  Berat memang tugasnya. Yang sudah belajar ilmu agama saja belum tentu bisa memahaminya, apalagi yang tidak pernah mempelajarinya.

Tugas berat itu menjadi ringan dengan perpaduan seorang kiai yang ikhlas mengajar dan santri yang ikhlas diajar. Namun,  perjuangan seorang kiai dan santri  tak seasyik yang dibayangkan.  Satu sisi ia tak boleh menolak santri untuk datang belajar kepadanya,  tapi sisi lain,  ia harus berpikir,  di mana tempat untuk santri tinggal, dan bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.

Di rumahnya yang sederhana, ia izinkan santri itu tinggal bersamanya. Menjadi abdi dalam rumah sekaligus belajar dari sang kiai. Dalam konteks yang lain, jika rumahnya tak mampu menampung santri,  dengan lahan seadanya yang kiai punya,  ia persilahkan santri menggunakannya.  Santri-santri itu lalu mendirikan kobong-kobong sendiri, berdinding bilik beratap rumbia.  Asal  terhindar dari panas dan hujan. Santri-santri itu sendiri yang memikirkan bagaimana mereka harus makan.  Untuk itu  kiai yang memerintahkan mereka bercocok tanam,  memelihara ikan atau ayam.  Mereka makan dari apa yang mereka tanam dan pelihara.  Kadang sebulan sekali mereka pulang menemui orang tua di kampung halaman.  Lalu kembali ke pesantren membawa bahan pangan,  lauk pauk yang tahan lama bekal dari orang tua mereka.  Tak lupa mereka datang ke rumah kiai, menyampaikan salam dari orang tua sekaligus memberikan sagu hati untuk kiai berupa hasil bumi atau sejenisnya.  Hampir jarang yang memberikan uang,  karena orang tua mereka hanya petani yang hanya punya hasil bumi. Itulah yang bisa mereka berikan kepada kiai sebagai wujud terima kasih.  Dari sinilah petualangan pesantren berjalan. Kiai yang mukhlas dan santri yang mukhlis, melahirkan jiwa jiwa ikhlas untuk memberi dan menerima.

Di pesantrian ada pesantren itu,  kiai dan santri seperti ikan dan air. Keduanya saling membutuhkan untuk belajar dan diajar, untuk mendidik dan dididik. Kiai menjadi imam, santri menjadi makmum, kiai bicara santri mendengar, kiai menyampaikan santri menerima. Begitulah kehidupan mereka selama bertahun tahun. Sampai tiba saatnya sang kiai berkata: ajaztuka: “Saya izinkan engkau, saya perkenankan engkau, saya bolehkan engkau untuk kembali ke rumah dan mengajarkan ilmu yang telah saya berikan”. Dari kata ajaztuka itulah menjadi ijazah yang diterima santri dengan rasa bangga dan haru karena ia boleh mengamalkan ilmu dan mengajarkan kepada orang lain.

Bagi santri yang masih haus dengan ilmu, ia berpindah ke tempat lain, menimba dari sumber yang berbeda. Sampai sang guru mengatakan ajaztuka. Lalu ia kembali ke kampung halamannya. Mengabdi kepada masyarakatnya. Mengajarkan kaumnya seperti yang pernah ia alami ketika menjadi santri.

Sirah kiai dan santri semacam inilah dengan etos memberi dan menggali ilmu pengetahuan yang dirindukan, yang mukhlas dan yang mukhlis. Seorang kiai yang memimpin santri bukan untuk mengejar popularitas. Seorang santri belajar bukan untuk secarik kertas bernama ijazah yang diandalkan untuk mencari pekerjaan. Karena popularitas yang  sesungguhnya adalah pengakuan masyarakat atas pengabdian dan jejak kebaikan yang mereka tinggalkan. Maka wajar seorang kiai meskipun telah mati, tapi hidupnya lebih panjang dari usianya.

Pulai Pandan Jauh Di Tengah

Di Balik Pulau Angsa Dua

Hancur Badan Dikandung Tanah

Budi Baik Dikenang Juga

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024