Jejak Islam

Damaskus, Pusat Peradaban Islam Abad VII-VIII Masehi (1)

Pesawat udara Emirates Airlines mendarat dengan mulus di Bandara Damaskus. Dan Jumat sore itu, 4 Januari 1997, menjadi kunjungan saya yang pertama ke wilayah Timur Tengah itu.

Saya ke Damaskus atas undangan pemerintah Republik Suriah untuk menghadiri seminar internasional “Arabes in raditional Craft of OIC Country”. Dari Jakarta saya hanya membawa kertas kerja dan pakaian sekadarnya. Tiket dan akomodasi ditanggung pihak pengundang. Dari Asia Tenggara yang mendapat undangan selain Indonesia adalah Malaysia, tapi peserta dari negeri jiran itu datang ke Damaskus atas biaya sendiri. Saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis sore menuju Dubai. Di ibu kota Uni Emirat Arab itu kami harus menunggu empat jam sebelum perjalanan disambung ke Amman, Yordania. Dari Amman baru ada pesawat langsung ke Damaskus.

Panitia seminar sudah menunggu di Bandara, dan kami tidak mengalami kesulitan berarti ketika melewati pemeriksaan imgrasi. Kami langsung dibawa ke hotel . selama dalam perjalanan dari Bandara ke pusat kota, kami mengobrol dalam bahasa Inggris dan Arab, meski bahasa Arab saya patah-patah. Komunikasi akhirnya berjalan lancar ketika saya ajak sang pengemudi bicara dalam bahasa Prancis. Seperti  Yordania, Suriah pernah dijajah Prancis. Berbeda dengan jalan-jalan raya di negeri kita yang sekelilingnya hijau, jalan dari Bandara ke Kota Damaskus, yang jaraknya 40 kilometer, tampak kering dan berdebu. Memang tidak ada pepohonan di tepi jalan yang kami lalui.

Kalau kita menelusuri jazirah Arab, di mana Damaskus menjadi bagian dari peradaban Arab, secara geografis masyarakat yang mendami kawasan Arabia berasal dari satu ras manusia, yaitu Kakukasia atau Asia Barat, yang juga dikenal dengan sebutan “Semit” atau “Semitik”. Kita bisa melihat catatan ini dari dokumen yang ditemukan ahli-ahli Perjanjian Lama pada abad ke-18. Mereka yang pertama kali menyadari bahwa ada masyarakat, bahasa, dan peradaban “Semit” – di samping masyarakat, bahasa, dan peradaban Ibrani, Arab dan Eitopia – dapat diketahui berkat adanya penemuan arkeologis di wilayah “Bulan Sabit yang Subur”. Dengan petunjuk silsilah Perjanjian Lama, Johan Gottfried Eichhom memberikan nama “Semit” kepada keturunan Sem atau Shem (Samiah), putra Nuh, yang menurut Gottfried anak Ibran keturunan Ishaq, putra Ibrahim.

Meski sebutan ini hampir secara universal diterima, tetap tidak pas karena dua alasan berikut ini. Pertama, ditemukan dalam klaim Perjanjian Lama bahwa air bah besar merupakan peristiwa universal, kosmis, ketika semua manusia ,  kecuali Nabi Nuh dan anak-anaknya binasa. Klaim itu  hanya didukung oleh keyakinan kepada kata harfiah Perjanjian Lama. Meskipun Kota Orim (Ur dalam Bibel) di Mesopotamia makmur dalam dua periode sejarah yang dipisahkan oleh banjir yang terjadi sekitar 3000 SM, tak ada bukti bahwa banjir universal terjadi pada pada waktu itu. Dengan demikian, klaim Perjanjian Lama haru dibatasi, yaitu hanya menjelaskan lokalitas Nuh secara umum.

Kedua, orang yang disebut “Semit” tak pernah memandang diri mereka sebagai keturunan bilogis dari Shem, kecuali orang-orang risten dan Yahudi Barat modern. Ibrani yang melakukannya; dan kecuali untuk mereka, persepsi ras tak ada di Arabia.

Para aktor jazirah Arab adalah semua penduduk asli wilaah in. Mereka pindah dari satu bagian ke bagian lain, tapi bukan dari luar jazirah masuk ke jazirah, juga bukan dari dalam jazirah ke dunia luar, kecuali di bawah orang Foenesia (1730-1570 SM) dan di bawah Islam mereka masuk Mesir.     

Kota Damaskus , berdasarkan catatan sejarah, merupakan kota yang terasa di dalamnya terdapat peradaban Islam. Sebagai kota warisan zaman lampau, kita melihat hasilnya berupa peninggalan-peninggalan istana yang kosmopolitan maupun dalam bentuk-bentuk keagamaan masyarakat perkotaan.

Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 13-26 November 2002.  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda