Tasawuf

Dikepung Malaikat dan Dipenuhi Rahmat Allah

Written by A.Suryana Sudrajat

Berzikir  bukan sekadar mengingat nama Allah. Tapi  merupakan kesadaran berketuhanan dalam seluruh aktivitas kehidupan kita. Karena itu ia bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Bukan hanya pada waktu-waktu dan di tempat-tempat tertentu.

Setelah membaca Alquran, rutinitas lain yang dijalankan  para penempuh jalan tasawuf dalam proses penyucian diri adalah berzikir. Yakni mengingat Allah. Dari penuturan Ibn Umar, Rasulullah bersabda: “Maukah kuceritakan kepada kalian tentang orang yang terbaik dan paling bersih dalam pandangan Tuhanmu, serta orang-orang tertinggi derajatnya da antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuh kalian dan memenggal leher mereka, dan mereka juga memenggal leher kalian?” Para sahabat bertanya:  “Apakah itu, Rasulullah?” Nabi menjawab: “Zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (H.R. Baihaqi).

Zikir dibagi dua yaitu  zikir lisan dan zikir hati. Anda baru bisa mencapai taraf zikir hati dengan melakukan zikir lisan.  Dan zikir hatilah menurut para sufi yang membuahkan pengaruh sejati. Ia ibarat pedang yang mampu menebas setiap musuh dan menjaga kita dari setiap ancaman.

Berzikir memang bukan sekadar mengingat nama Allah. Tapi lebih merupakan kesadaran berketuhanan dalam seluruh aktivitas kehidupan kita. Karena itu ia bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Bukan hanya pada waktu-waktu dan di tempat-tempat tertentu. Karena itu dalam situasi apa pun kita akan merasakan kehadiran-Nya. Lalu bagaimana kita menghadirkan-Nya? Atau bagaimana caranya agar kita bisa merasa dekat dengan-Nya? tegasnya, apa yang bisa kita lakukan dalam berzikir?

Sudah disebutkan bahwa bahwa zikir bisa dilakukan melalui lisan dan atau di dalam hati. Oleh karena itu, ketika kita berzikir harus ada sesuatu yang kita baca atau kita ucapkan. Bacaan-bacaan ini kita namakan saja ragam atau bacaan dalam berzikir. Dan Ibnul Qaiyim al-Jauziyah membaginya dalam empat macam. Yakni pertama  membaca Quran, yang dikatakan zikir paling utama. Kedua,  membaca tasbih yakni  “Subhanallah” (Mahasuci Allah), tahmid yaitu “Alhamdulillah  (segala puji bagi Allah), tahlil yaitu “La ilaah illa-Allah” (Tiada tuhan selain Allah), takbir yakn “Allahu Akbar” (Allah Mahabesar) dan istighfar yakni”Astaghfirullahal adziim” (Aku mohon pengampunan Allah yang Mahaagung).

Tak hanya sendiri. Zikir juga bisa dilakukan secara berjamaah. Forum ini lazim disebut majelis zikir. Ini memang sangat diutamakan sebagaimana disabdakan Nabi:  Setiap ada sekelompok orang duduk dalam suatu majelis yang berzikir kepada Allah, niscaya mereka akan dikepung  para malaikat dan dipenuhi rahmat, dan Allah akan menyebut mereka kepada para malaikat yang berada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim).

Ketiga, membaca salawat Ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah ini sejatinya adalah doa untuk beliau, yang biasanya kita baca di antara bacaan-bacaan  zikir yang lain. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi.Hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kalian kepada Nabi, dan sampaikanlah salam penghormatan kepada-Nya.” (Q. 33: 56).

Keempat, membaca wirid-wirid tertentu. Bacaan-bacaannya bisa kita peroleh dalam berbagai kitab himpunan tentang zikir dan wirid. Wirid-wirid itu biasanya dibaca menuruti waktu dan kondisi yang berbeda-beda. Setiap perkumpulan tarekat, misalnya saja Qadiriah, Naqsyabandiah, Rifa’iah, Syadziliah, punya bacaan-bacaan wiridnya sendiri, yang disusun oleh masing-masing pemuka (syekh) tarekatnya.   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768