Tafsir

Tafsir Tematik: Persaudaraan yang Bisa Kisruh (4)

Adapun para mukmin tak lain satu saudara. Karena itu damaikanlah dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat. (Q. 49: 10).

Digantinya Kekuasaan Kabilah

Sejak gugurnya Khalifah  Utsman ibn Affan, tetapi sebenarnya baru ketika Muawiyah membaiat putranya sendiri, Yazid, sebagai pengganti sepeninggalnya, sosok kesukuan itu muncul – sebagai Dinasti Umaiyah. Itu kemudin menjadi sunnah (tradisi) yang diikuti semua pihak – kecuali kaum Khawarij. Di samping kaum Abbasi, para Alawi sudah lebih dulu mengangan-angankan (dan kemudian membentuk, sebagai tandingan)  khalifah-khalifah (imam-imam) berdasarkan keturunan, yang baru setelah lebih dari satu abad mereka beri legitimasi teologis. Dan inilah segi kedua yang bisa kita pikirkan mengenai ayat ini: ukhuwah islamiyah itu punya kemungkinan bergeser menjadi hanya persaudaraan sebagian umat Islam.

Dalam contoh sejarah, itu adalah ukhuwah nasabiyah, berdasarkan nasab alias keturunan: Umawiah, Alawiah, maupun Abbasiah. Tapi ukhuwah syi’iyah, baladiyah, hizbiyah, atau jama’iyah (kelompok pengikut,  kedaerahan, partai, organisasi ) bisa muncul di segala zaman – dalam kedudukan yang menggeser kepentingan ukhuwah islamiyah – baik sampai maupun tidak sampai ke tingkat menafikan yang kedua itu.

Pada tingkat yang menafikan, ukhuwah kelompok itu sudah menggantikan yang islamiyah itu, berdasarkan klaimnya sebagai “satu-satunya yang Islam”. Dan inilah jenis yang paling merugikan. Toh kedua-dua jenis itu bisa dipenuhi semangat yang sama tentang “pembelaan sesama saudara” yang kita sebut  di muka, khususnya dalam pengandaian kasus kejahatan yang diperbuaut seorang warga. Ini hanyalah contoh tentang kemungkinan bagaimana faktor wadah, orgaisasi, menjadi lebih penting dibanding substansi – sebuah sikap yang, sehubungan dengan tujuan dibentuknya kelompok itu, boleh merupakan tanda awal bagi adopsi metode kaum komunis tempo hari: The end justifies the mean, “Tujuan menghalalkan cara”.

Dengan kemungkinan tujuan organisasi yang barangkali mulia, “garis kebijaksanaan” seperti itu sering membubuhkan air muka yang kisruh pada wajah ukhuwah kita, dan menyembunyikan kenyataan indah yang merupakan buah dari seluruh perangkat ajaran tentang persaudaraan yang simpulnya diberikan berupa ayat ini, yakni tentang bagaimana, misalnya, segenap muslimin di bumi merasakan nasib yang menimpa sebagian dari mereka (di Bosna, di Palestina, di Kosovo, di Myanmar, di Bulgaria…) sebagai nasib mereka sendiri. Tidak adakah yang bisa diusahakan, dalam rangka selalu merawat ukhuwah yang bagus itu?

Tapi zaman punya beberapa kecenderungannya sendiri, orang berkata. Dan kekuasaan berdasarkan kabilah bukan lagi ciri abad ini. Benar bahwa di sebagian wilayah Islam, Afghanistan, misalnya, juga Pakistan, persaingan ntarsuku masih menentukan, tetapi (dan ini bedanya dengan di negeri-negeri  Eropa Timur – Uni Soviet, Yugoslavia, Chekoslovakia –yang masing-masing pecah menjadi satuan-satuan etns), di negeri-negeri Islam dalam contoh tersebut peranan suku betapapun terbatas sebagai faktor pendukung, meski pendukung yang bisa sangat kuat. Yang berada di depan adalah ide.Atau, untuk lebih hati-hati, karisma – dan itu tidak selalu harus datang dari orang sesuku. (Rabban, misalnya, di Afghanistan, didukung oleh  kekuatan sejumlah suku, meski yang terbesar satu suku tertentu. Juga Hekmatyar, lawannya).

BersambungPenulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 22 Juli 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda