Muzakarah

Nyaris Berdosa dalam Aksi Penjarahan Massal

Waktu kerusuhan 14 Mei lalu (1998, Ed) saya nyaris ikut-ikutan menjarah. Mungkin karena pengaruh massa. Di sebuah toko elektronik saya sudah mengangkat sebuah televisi 20 inci. Kebetulan sudah lama saya ingin mengganti pesawat televisi saya yang 14 inci. Tapi tiba-tiba kedua tangan dan kaki saya bergetar di tengah aksi penjarahan massal itu. Saya  teringat kepada Tuhan. “Ya Allah bagaimana saya harus mempertanggungjawabkan ini?” kata saya di dalam hati. Lalu saya letakkan barang yang sudah saya siap angkut itu. Sambil istighfar. Ustadz, apakah tindakan saya itu tergolong dosa? Bisakah dosa itu diampuni hanya dengan mengucap istighfar saja? Haruskah saya meminta maaf kepada si pemilik toko?

ARH (Bekasi, Jawa Barat)

Jawaban Tim Muzakarah PM

Persoalan Anda ini cukup menarik. Mirip dengan pengalaman Dennis Rodman, pemain basket kawakan Amerika Serikat. Ketika ia bekerja di Bandara Dallas Forth Worth, sebagai petugas kebersihan sekaligus yang mengawasi 13 toko cenderamata dengan bayaran US$6,5 perjam, ia pernah menjarah toko-toko tersebut. Tapi, barang-barang jarahan itu ia tak apa-apakan. Malah ia kembalikan. Ia memang tak bermaksud menggasak barang-barang itu. Rodman hanya ingin dibilang hebat. Tak urung, ia harus menjalan hukuman kurungan satu malam,  dan diberhentikan dari pekerjaannya.

Niat itu penting, Saudara ARH. Besabda Nabi Muhammad s.a.w.: “Sungguh  amal itu tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Umar ibn Khattab). “Katakanlah, setiap orang berbuat sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Q. 17: 84). Dalam pandangan Islam, Rodman berdosa sesuai dengan natnya itu, yaitu ingin gagah-gagahan. Plus  dosa telah membuat bingung, panik, pemilik toko, sebagai konsekwensi dari tindakannya.

Perbuatan Anda, Saudara ARH, lain lagi. Anda punya niat (menjarah) tapi belum melakukannya. Anda belum memindahkan barang itu dari toko kan? Tindakan Anda bisa dibandingkan dengan yang diperbuat Nabi Yusuf. Waktu itu, istri majikannya, yang pejabat tinggi di Mesir itu, merayunya sehingga terbersit di pikirannya untuk berbuat zina. Tapi Allah masih menyayanginya. Diperlihatkan-Nya tanda atau peringatan-Nya guna mencegah perbuatan itu. “Dan sungguh wanita itu sudah bermaksud (berbuat melakukan itu) pada Yusuf, dan Yusuf sudah pula bermaksud padanya, kalau saja Yusuf tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkannya dari kemunkaran. Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang tulus.”(Q. 12: 24). Konon, tiba-tiba Yusuf melihat bayangan ayahnya, yang memukul dadanya. Kabar lain menyebutkan, mendadak terlintas wajah majikannya sehingga ia mengurungkan niatnya. Maka selamatlah ia dari dosa, dan dia disebut hamba yang ikhlas.

Dalam Islam, orang yang bermaksud melakukan kebajikan, ia langsung mendapat pahala, meski belum melakukannya. Tapi, kalau orang berkehendak akan kejahatan, itu belum ditulis dosa sampai ia mengerjakannya. Bahkan, kalau ia mengurungkan maksudnya, itu ditulis sebagai kebajikan. (Tafsir Ibnu Katsir, II: 474). Berfirman Allah dalam satu hadis qudsi, seperti dituturkan Rasulullah s.a.w.: “Apabila berkehendak hamba-Ku melakukan kebajikan, maka tulislah baginya (pahala) satu kebajikan; dan jika dia melakukannya, maka tulislah untuknya  10 kali lipat kebajikan. Jika dia berkehendak berbuat kejahatan, tapi tidak dilakukannya, maka tulislah itu sebagai satu kebajikan. Jika dia melakukan kejahatan itu, maka tulislah itu sebagai satu kejahatan.” (HR Bukhari dan Muslim). Itulah keadilan Tuhan.

Yang pasti, Saudara ARH, Anda patut bersyukur karena telah diselamatkan Allah. Mungkin Allah masih menyayangi Anda. Beristighfar, di saat demikian,  sungguh tindakan tepat. Mudah-mudahan Anda ditulis sebagai “hamba yang ikhlas” dan terus dijaganya. Amin. Sumber: Panji Masyarakat, 1 Juli 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda