Aktualita

Deklarasi Partai Islam Baru, Harapan atau Keprihatinan

Jika semuanya berjalan mulus umat Islam Indonesia memiliki banyak pilihan partai setiap musim pemilu. Dalam dua bulan terakhir dua partai dideklarasikan. Pertama, Partai Ummat yang dimotori Amien Rais, tokoh yang disebut lokomotif reformasi, pendiri Partai PAN yang belakangan merasa di depak oleh bawahannya.

Kedua, Partai Masyumi yang diinisiasi sejumlah tokoh Islam bertepatan dengan hari lahirnya ke 75 Partai Masyumi di Kantor DDII Kramat 45 Jakarta Pusat. Bahkan, partai baru ini telah memilih ketua majelis syuronya yaitu mantan penasehat KPK Abdullah Hehamahua.

Ketiga, setahun yang lalu telah pula dideklarasikan Partai Gelora yang merupakan sempalan dari PKS akibat konflik internal. Partai ini telah menetapkan Ketua Umum Anis Matta, Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, dan Sekjen Mahfud Siddiq.

Menurut Fahri Hamzah, salah seorang pendiri, partai yang didirikannya dengan maksud untuk menghapus konsep dikotomi yang dinilai menyesatkan, yaitu, salah satunya  adanya dikotomi Islam dan Nasionalisme.

” Selain itu kami ingin mengeluarkan dari situasi saat ini  yang bisa menjebak Indonesia dari keterpecahan. Kami keluar dengan narasi one nation, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa” ujar mantan Wakil Ketua DPR ini.

Sementara itu Partai Ummat yang digagas Amien Rais dan dideklarasikan  1 Oktober lalu menyatakan, akan berjuang menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Menurut mantan Ketua Umum Partai  PAN ini ,  Al-Quran mendorong umat beriman menegakkan kebajikan dan memberantas keburukan.

“Partai Ummat akan bekerja dan berjuang memegang teguh Pancasila,UUD 45, dan semua aturan demokrasi universal,” tuturnya.

Partai Masyumi dalam dalam deklarasinya mengatakan, akan berjihad demi terlaksananya ajaran dan  hukum Islam di Indonesia melalui Masyumi. Deklarasi dibacakan Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII) A.Cholil Ridwan.

Sebelumnya, Taufik Hidayat, Sekretaris BPU-PPII menyatakan,, kebangkitan Masyumi didasari kerinduan akan partai Islam ideologis seperti Masyumi masa lalu. ” Pihak- pihak di belakang Masyumi kali ini merasakan sudah sedikit sekali partai yang ideologis baik kebijakannya  maupun integritas para politisinya,” ungkapnya.

Munculnya beberapa partai baru Islam ini memang gaungnya terasa dingin saja. Baik dari kalangan partai nasionalis maupun yang bercorak Islam tidak ada keterkejutan atau merasa tersaingi. Malah deklarasi  partai dalam situasi pandemi Covid 19 ini rada ditanggapi pesimis.

Profesor Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai PBB mengatakan, mendeklarasikan berdirinya partai memang mudah. Tetapi mengelola, membina dan membesarkan tidaklah gampang

” Partai tidak sekadar dideklarasikan. Partai butuh bergerak dan tentu membutuhkan dana besar. Bagi partai Islam, memperoleh dana yang besar itu sulit. Sebagian besar umat Islam hidup dalam kekurangan. Yang punya dana besar itu para cukong, para pengusaha dalam maupun luar negeri,” terang Yusril.

Yusril menuturkan pengalamannya sebagai ketua umum.partai, bahwa tidak  ada para cukong dan pengusaha besar yang sudi mendanai partai Islam. “Makanya kebanyakan partai-partai Islam itu hidupnya ngos-ngosan,” katanya, seraya menambahkan, sekarang sangat jarang ada anggota partai membayar iuran  seperti zaman dulu. Dan, di tengah pandemi Covid 19 saat ini partai baru ini akan bekerja keras membangun cabang-cabang dan merekrut anggota.

Menurut Yusril,  yang perlu dipikirkan saat ini bagaimana partai-partai Islam bersatu memikirkan agar partai Islam tetap eksis di negara mayoritas muslim ini. Yusril berpikir begini karena belajar dari pengalamannya memimpin PBB, untuk  mempertahankan struktur PBB yang sudah menjangkau seluruh provinsi, kabupaten dan kota di  Tanah Air saja sudah sangat sulit.

Yusril yang ahli hukum tata negara ini juga mengungkapkan, bahwa orientasi politik rakyat juga sekarang sudah banyak berubah. Bahkan tidak lagi terbelah pada perbedaan ideologi yang tajam seperti tahun 1945-1960.

Kini, menurut Yusril, masyarakat lebih praktikal–untuk  menyatakan tidak pragmatis–dalam menentukan pilihan politik. ” Sebagian malah transaksional. Anda sanggup kasih apa, berapa dan kami akan tentukan sikap kami seperti apa, ” urainya.

Memang, tidak mudah untuk membangun partai saat saat ini. Tidak hanya cukup bermodal semangat, namun juga manajemen dan organisasi yang kuat. Seperti dikemukakan Direktur Eksekutif  Parameter Politik, Adi Prayitno,    diperlukan empat modal penting bagi partai untuk berkembang dengan baik. Pertama, memiliki figur kunci yang bisa menjadi penarik seluruh lapisan masyarakat. Kedua, memiliki logistik yang memadai.

Potret pemilih sekarang bersifat pragmatis,  sangat sedikit yang merasa bagian dari parpol tertentu. ” Angkanya di kisaran 30 persen, sisanya 70  persen pemilih yang tidak terafiliasi parpol tertentu. Itu adalah ceruk pemilih yang mesti diperebutkan,” jelasnya 

Keempat, menurut Adi Prayitno, sebuah partai perlu memiliki branding dan posisioning yang apik agar mudah diterima pemilih.

Tiga partai baru yang ada tampaknya akan memperebutkan segmen pemilih utama yang sama yaitu kalangan pemilih muslim   Di antara partai yang pecah karena faktor internal seperti Partai Ummat dan Partai Gelora mungkin akan masih berharap mendapat pasokan suara dari pemilih PAN bagi Partai Ummat, dan  pemilih PKS bagi partai Gelora. Tapi, seberapa kuat, belum bisa dipastikan. Buktinya, hengkangnya Fahri Hamzah dan Anis Matta dari PKS pada pemilu lalu tidak berpengaruh signifikan bagi perolehan suara PKS.

Sedangkan dampak kehadiran Partai Ummat dan Partai Masyumi bisa dibuktikan pada pemilu yang akan datang. Namun, yang dikhawatirkan bertambahnya partai Islam belum.menjamin partai Islam bisa bertengger di papan atas pada pesta demokrasi nanti. Bahkan, sejak munculnya reformasi, partai Islam cenderung turun dan kalah dari partai baru bercorak nasionalis yang muncul, seperti Gerindra, Demokrat dan Nasdem.

Saatnya, partai Islam bangkit dan bersatu untuk menjadi besar. Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Harapan akan selalu ada, meski juga muncul keprihatinan

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda