Jejak Islam

Mahkota Raja-Raja: Petuah Pemerintahan dari Bukhari Al-Jauhari (4)

Negara bakal hancur jika pemimpinnya  tidak memperoleh informasi yang benar tentang keadaan negeri; jika  hanya mendengar pendapat satu pihak; melindungi orang jahat, keji, serta  memusuhi orang baik dan berilmu;  jika aparat senang menyampaikan berita bohong, menyebarkan fitnah dan intrik-intrik. 

Mahkota  Pemimpin

Menurut penulis Tajus Salatin seorang pemimpin harus memenuhi syarat: (1) Hifzh, memiliki ingatan yang baik; (2) Fahm, memiliki pemahaman yang benar terhadap berbagai perkara yang penting; (3) Fikr, tajam pikiran dan luas wawasan; (4) Iradat, yaitu kuat kehendaknya terhadap kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan masyarakat; (5) Nur, menerangi negeri dengan cinta dan kasih sayang kepada semua golongan dan lapisan masyarakat. Seorang pemimpin yang baik dikehendaki sehat secara ruhani maupun jasmani. Kelima perkara tersebut merupakan mahkota seorang pemimpin.        

Dalam Pasal 5, dengan merujuk kepada Kitab Adab al-Mulk, dikemukakan syarat-syarat seorang raja atau pemimpin yang dapat menjalankan pemerintahan dengan adil dan benar: (1) Dewasa dan matang pikirannya, sehingga dapat membedakan yang baik dan yang buruk bagi dirinya, masyarakat luas dan kemanusiaan; (2) Memiliki ilmu pengetahuan yang cukup berkenaan dengan etika, pemerintahan, politik, agama dan kebudayaan. Orang-orang berilmu dan beradab hendaknya dijadikan sahabat dan seorang raja harus bersedia mendengar dari mereka berbagai perkara yang tidak diketahuinya dengan baik; (3) Menteri-menteri juga harus dewasa dan matang, serta berilmu, menguasai bidang tugas dan pekerjaannya; (4)  sepatutnya pemimpin memiliki wajah yang baik dan menarik agar orang menyukainya; (5) Raja harus ingat kepada orang yang telah berbuat baik dan pernah membantunya mengatasi kesukaran; (6) Tegas dan berani. Jika rajanya pengecut  maka pegawai dan tentara juga akan menjadi pengecut dalam  menghadapi orang jahat dan negara lain yang mengancam kedaulatan negeri; (7)  Tidak suka makan dan tidur banyak, tidak gemar berfoya-foya; (8) Raja lelaki dikehendaki tidak gemar main perempuan.

Ada tiga perkara yang membuat kerajaan runtuh: (1) Raja tidak memperoleh informasi yang benar dan rinci tentang keadaan negeri;, serta komplotan penjahat yang melakukan keonaran; juga apabila seorang raja hanya mendengar pendpat satu pihak dan golongan;  (2)  Raja melindungi orang jahat, keji, bebal, tamak dan pemeras rakyat, serta memusuhi orang baik, mulia dan berilmu; (3) Pegawai raja dan aparat senang menyampaikan berita bohong, menyebarkan fitnah dan intrik-intrik.  

Bersambung.

Penulis:  Prof. Dr. Abdul Hadi WM., penyair, kritikus sastra, dan dosen estetika dan sejarah kebudayaan Islam di Universitas Paramadina,Jakarta. Sumber: Majalah Panjimas, 09-22 Januari 2003. .

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda