Adab Rasul

Bertapa di Tengah Keramaian

Di waktu kecil penulis sering mendengar orang-orang tua menyebut para Wali Songo yakni Sembilan Wali Allah penyebar agama Islam di Pulau Jawa, adalah orang yang sudah mampu melakukan topo ngrame, atau bisa bertapa di tengah keramaian dan hiruk pikuk dunia.

Apa yang dimaksud dengan mampu bertapa di tengah keramaian?Wali, ulama atau para sufi yang hidup biasa di tengah keramaian dan tidak  melakukan uzlah, atau hidup mengasingkan diri di tempat sunyi nan jauh dari kehidupan manusia yang lain, agar bisa senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Panutan utama menjalani kehidupan kita adalah Kanjeng Nabi Muhammad saw. karena memang tidak ada umatnya yang memiliki kedekatan dengan Allah melebihi kedekatan Rasulullah dengan-Nya. Rasulullah dan para sahabat hidup dalam suka dan duka di tengah dan bersama rakyat. Ikut mengerjakan pekerjaan rumahtangga, kerja bakti menggali parit Khandaq untuk pertahanan perang dan juga ikut berperang.

Meski banyak kemenangan dan kehidupan duniawi umatnya sudah meningkat, beliau tetap hidup sangat sederhana. Tak mau menyimpan harta benda serta makanan untuk esok hari. Pernah beliau ketahuan oleh para sahabatnya, mengganjal perutnya dengan bungkusan batu karena semakin kurus lantaran sering menahan lapar. Sementara alas tidurnya ada dua macam yakni kantong kulit yang diisi sabut, dan yang satu lagi anyaman kasar pelepah kurma sehingga menimpulkan bekas berupa bilur-bilur pada tubuhnya. Padahal kalau mau Rasulullah bisa hidup penuh kemewahan.

Demikianlah, Kanjeng Nabi saw. mengajarkan umatnya mengatur kesimbangan urusan dunia dan akhirat tanpa mengganggu hati kita dengan fantasi-fantasi pesona dunia, serta meniatkan segala pikiran dan perilaku kita semata-mata karena Allah.

Menjawab pertanyaan seorang sahabat perihal bagaimana menjalani zuhud, Rasulullah menjawab, “Berzuhudlah di dalam dunia, niscaya dikasihi Allah dan berzuhudlah di antara sesama manusia niscaya engkau dikasihi manusia,” (HR.Ibnu Majah).

Ulama sufi penulis Al Hikam,Ibnu Athaillah Askandary menjelaskan, sebaik-baik uzlah adalah menghindarkan hari dari keramaian pikiran duniawi. Kehidupan seperti itulah yang oleh orang-orang tua Jawa tempo dulu disebut topo ngrame. Orang yang sudah bisa menjalani topo ngrame, hidup bermasyarakat seraya menjunjung tinggi ajaran-ajaran Islam, hidup sederhana dengan makan minum sekedarnya demi menjaga kesehatan tubuh supaya bisa berbuat amal saleh, taat kepada Allah dan perintah-perintah-Nya, menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan, serta membasmi kemungkaran dan kezaliman.

Semua itu akan bisa dijalani apabila kita senantiasa mengingat Allah dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap lintasan pikiran dan dalam setiap perilaku. Semua itu karena sudah mencapai tahap suwung, suwung pamrih tebih ajrih. Tidak takut apapun, apalagi menegakkan kebaikan dan membasmi kemungkaran, sebab sudah tidak punya pamrih pesona dunia. Yang ditakuti hanya Gusti Allah.

Dalam bagian akhir tulisan “Mengingat Allah di Mana dan Kapan Saja” minggu lalu, penulis kemukakan, itulah makna mengingat Allah yang hakiki. Namun mengingat Allah yang demikian tadi tidaklah mudah. Memerlukan latihan yang terus-menerus. Memerlukan cara. Islam mengajarkan cara tersebut dimulai dengan  meneladani Rasulullah, melaksanakan Rukun Iman, Rukun Islam dengan syariat-syariatnya sebagaimana diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Ibnu Athaillah Askandary mengajarkan tiga tahapan berzikir atau mengingat Allah. Pertama zikir jali yaitu melakukan zikir yang jelas dan nyata berupa  perbuatan mengingat Allah dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan doa misalkan empat macam bacaan zikir yang diajarkan Kanjeng Nabi yaitu, subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illal-laah dan Allahuakbar. Juga bacaan zikir yang sekaligus mengandung doa sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Araaf: 180, “Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik, maka hendaklah kamu berdoa dengan nama-nama itu.”

Kedua,melatih zikir khafi, yaitu zikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai zikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan zikir khafi, akan senantiasa merasa memiliki hubungan dengan Allah. Ia selalu merasakan kehadiran Allah kapan dan di mana saja.

Ketiga, zikir hakiki, yaitu zikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan ketat menjaga seluruh jiwa raganya dari larangan Allah, serta mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.

Dalam rangka berlatih mengingat Allah, Ibnu Athaillah Askandary mengajarkan agar setiap melihat sesuatu, lihat pulalah Allah Sang Mahapencipta yang berada di balik sesuatu itu. Jika menghadapi sesuatu, ingatlah pada Sang Mahasutradara yang mengatur segala sesuatu. Jika mengerjakan sesuatu, ingatlah pada Sang Mahapenentu lagi Mahakuasa.

Orang yang sudah mencapai tahap atau berada dalam golongan kedua dan ketiga, itulah yang dalam penilaian orang-orang tua Jawa tempo dulu, sudah mampu melakukan topo ngrame, mampu melipat dunia sehingga tidak terkurung dan terbenam  dalam pesona dunianya.

Fisiknya berada di dunia, di tengah hiruk pikuk keramaian, namun dunia itu bagaikan selimut yang terlipat, sehingga jiwanya melesat menembus langit dan senantiasa berada di sisi-Nya. Itu disebabkan karena jiwanya telah dipenuhi oleh rahsa, hakikat nurani, inti kalbu sebagai sumber kekuatan batin, kebijaksanaan dan belas kasih, sehingga bisa mengendalikan cipta atau pikiran dan karsa atau nafsunya.  Tidak tergoda dan tidak terpengaruh dengan gelombang perubahan zaman dan kekuasaan raja-raja dunia. Tidak  menuntut dan membutuhkan apa-apa bagi dirinya sendiri, lantaran sudah merasa cukup puas dengan segala apa pun yang dikaruniakan Gusti Allah kepadanya.

Imam Al Ghazali dalam puncak karyanya, Minhajul Abidin, pada wejangan bab terakhir tentang Tanjakan Puji Syukur,  menyebut ada 40 karomah atau kemulian dari Gusti Allah yang diberikan kepada manusia yang senantiasa mengingat serta menyegerakan diri menuju Allah.

Dua puluh kemuliaan dianugerahkan di dunia dan 20 lainnya di akhirat. Karomah-karomah di dunia antara lain senantiasa disebut dan dipuji Allah, dicintai Allah, senantiasa memeroleh pertolongan, kehidupannya penuh berkah, doanya senantiaa dikabulkan sampai dengan berbagai anugerah luar biasa lainnya.

Sedangkan kedua puluh karomah akhirat adalah berbagai anugerah kemudahan, kebahagian serta kemuliaan kehidupan di akhirat, bahagia dan mulia di sisi-Nya. Semoga kita dimasudkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa  mengingat-Nya dengan sepenuh ketaatan. Amin.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad, shalawat untuk Kanjeng Nabi pada peringatan hari kelahirannya, 12 Rabiul Awal 1442 H atau 29 Oktober 2020.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda