Cakrawala

Kesederhanaan dan Kemiskinan yang Tak Berjarak : Kisah Sjafruddin Prawiranegara

Written by Ady Amar

Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya, sementara kesengsaraan adalah ketika seseorang dikuasai oleh nafsunya.” (Imam Al-Ghazali)

Ada kebiasaan ‘unik’ yang menempel pada diri ini. Setiap kesempatan ke toko buku, maka beberapa buku saya beli, tapi kebanyakan tidak langsung saya baca. Bahkan bisa jadi, baru saya baca berbulan-bulan kemudian, atau bahkan setahun pun belum tersentuh. Tapi pada saatnya pastilah buku itu saya baca juga. Tidak ada yang mubazir.

Ada beberapa sebab, kenapa kebiasaan itu seperti menjadi hal yang biasa-biasa saja. Mungkin, membaca menjadi ‘nikmat’ jika apa yang kita baca memang sedang dibutuhkan, atau membaca karena mood pada tema-tema tertentu sedang bergelora.

Semalam, sebuah buku genre Novel Epik Sejarah, yang saya beli beberapa tahun lalu menjadi menu untuk disantap. Saya ingin membaginya dengan anda.

Saya ingin mengutip intro novel itu, yang cukup menarik, tentang kesederhanaan salah satu pemimpin bangsa.

“Ayahmu Menteri Keuangan, Icah,” Lily menyeka matanya yang basah. “Ayah menguasai uang negara, tetapi tidak punya uang untuk membeli kain gurita untuk adikmu, Khalid, yang baru lahir. Kalau Ibu tidak alami sendiri kejadian itu, Ibu pasti bilang bahwa itu khayalan pengarang. Tapi ini nyata. Ayahmu sama sekali tak tergoda memakai uang negara, meski hanya untuk membeli sepotong kain gurita.”

Kalimat itu tentunya bukan episode abal-abal dalam sinetron Turki yang mengumbar kisah absurd, yang judul dan isi cerita tidak nyambung di pikiran normal. Kisah itu adalah secuil kisah yang disampaikan sepenuh hati oleh istri Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Tengku Halimah Sjihabuddin.

Saya tidak sedang ingin membahas kiprah pak Sjafruddin dalam episode pergerakan merebut kemerdekaan, atau dalam pusaran sejarah pasca kemerdekaan.

Saya hanya ingin menunjukkan, betapa kesederhanaan tokoh pergerakan yang satu ini amat sederhana, bahkan untuk ukuran orang yang hidup tidak beruntung pada saat ini.

Pak Sjaf sosok pribadi yang mampu menguasai nafsunya untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, meski kesempatan terbuka untuk itu. Itu sejalan dengan quote Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di atas.

Bayangkan, saat itu pak Sjafruddin menjabat sebagai Menteri Keuangan, tapi untuk membeli sepotong kain gurita untuk sang anak yang baru lahir tidak bisa, atau tidak mampu. Subhanallah.

Kesederhanaan dan kemiskinan tampaknya tak terlalu berjarak pada diri pak Sjaf itu. Sulit kita menafsiri, apakah itu masuk kategori ‘sederhana’ atau ‘miskin’.

Tampaknya saat ini, pemimpin sederhana itu sudah sulit kita temukan lagi. Sudah seperti barang langka. Zaman tidak berubah, tapi justru sikap hidup manusia yang berubah, dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor perubahan itu tidak perlulah kita bahas di sini.

Buku yang saya baca itu, karya Akmal Nasery Basral, berjudul Presiden Prawiranegara, Kisah 207 Hari Sjafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia

Layak dibaca siapa saja, yang suka melihat salah satu ‘episode’ sejarah yang tidak biasa

About the author

Ady Amar

Penikmat buku dan pemerhati sosial. Tinggal di Surabaya Jawa Timur

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat