Tafsir

Tafsir Tematik: Persaudaraan yang Bisa Kisruh (3)

Written by Panji Masyarakat

Adapun para mukmin tak lain satu saudara. Karena itu damaikanlah dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat. (Q. 49: 10).

Bangkitnya Kesukuan Baru

Dan muncullah, kemudian, gejala kesukuan baru – kali ini dibawa tokoh-tokoh sesama Quraisy (Mekah) sendiri. Kurang dari dua dasawarsa setelah wafatnya Rasul yang mulia, semangat kabilah itu sudah mulai tampak pada pemerintahan Utsman r.a. yang diipenuhi oleh para pejabat dari keluarga besar beliau, Bani Umaiyah. Memang, di pihak lain, idam-idaman  keluarga besar Ali r.a. untuk kursi khiafat bisa juga dinilai secara negatif sebagai digerakkan oleh semangat yang sama untuk Ban Hasyim. (Hasyim buyut Muhammad s.a.w. bertemu dalam silsilah dengan Umaiyah, buyut Muawiyah r.a., pada tokoh Abd Manaf, keturunan kedelapan dari Fihr alias Quraisy).

Paling tidak, niatan besar mengetengahkan Ali itu didorong oleh “rasa kepantasan”: di tangan Bani Hasyimlah (atau terasnya, Bani Muthalib) selama ini dipegang hak tradisional pelayanan haji, dalam hal ini penyediaan minum jamaah (siqayah), kemudian di tengah mereka dibangkitkan Rasul Allah. Semangat ini kelihatan terutama pada Abbas ibn Abdil Muthalib r.a., paman Nabi dan Ali, sponsor utama Ali yang adalah menantu Nabi. Sementara bagi umumnya sahabat senor kenyataan tersebut tidak relevan, dan memang hanya “faktor kepantasan” di sekitar nasab itulah yang mendorong mereka menjagokan Ali.

Kalau ada lebihnya, maka itu karisma di mata pencinta. Ali digambarkan sebagai tokoh berkulit cokelat gelap, gemuk, tidak tinggi, botak. Janggutnya putih  panjang, terkadang disemir. Mata besar menatap tajam di wajah yang tampan. Kalau tersenyum, tampak giginya. (Mas’udi, tanbih, 297).

Tetapi, sejak gugurnya Utsman, sebenarnya baru ketika Muawiyah membaiat putranya sendiri, Yazid, sebagai pengganti sepeninggalnya, sosok kesukuan itu muncul – sebagai Dinasti Umaiyah. Itu kemudin menjadi sunnah (tradisi) yang diikuti semua pihak – kecuali kaum Khawarij. Di samping kaum Abbasi, para Alawi sudah lebih dulu mengangan-angankan (dan kemudian membentuk, sebagai tandingan)  khalifah-khalifah (imam-imam) berdasarkan keturunan, yang baru setelah lebih dari satu abad mereka beri legitimasi teologis. Dan inilah segi kedua yang bisa kita pikirkan mengenai ayat ini: ukhuwah islamiyah itu punya kemungkinan bergeser menjadi hanya persaudaraan sebagian umat Islam.        

BersambungPenulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 22 Juli 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka