Cakrawala

Beton-Beton Pesantren

Written by Saeful Bahri

Membaca judul di atas, barangkali Anda teringat dengan sebuah buku yang berjudul ‘Bilik-Bilik Pesantren’. Buku itu ditulis oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur). Seorang guru bangsa yang pada masa kecilnya pernah mengenyam pendidikan pesantren. Beliau dikenang sebagai lokomotif nilai-nilai keislaman, kemoderenan, dan keindonesiaan.

Dalam buku tersebut, Cak Nur memotret perjalanan panjang pesantren di negeri ini. Terutama pada aspek historis dan kulturalnya. Termasuk bagaimana pergumulan pesantren dari masa ke masa dengan segala dinamika yang ada di dalamnya. Kiai, santri, kitab kuning, dan dengan segala tradisinya dikupas tuntas olehnya.

Bilik. Jika merujuk kepada maknanya, adalah anyaman yang terbuat dari bambu. Bilik digunakan sebagai dinding sebuah rumah. Begitulah model rumah-rumah mayoritas rakyat Indonesia dahulu kala. Bukan tidak ada pasir, batu, atau semen sebagai bahan olahan membuat bangunan. Tapi lebih karena keterbatasan finansial untuk membelinya.

Begitu juga dengan pesantren. Asrama santri yang dikenal dengan kobong, juga berlapis anyaman bambu. Kobong-kobong itu dibangun oleh santri untuk mereka tinggali. Di tempat itulah mereka tidur dan menyimpan barang-barangnya, sambil menanti waktu mengaji bersama kiai. Bilik-bilik pesantren yang pilih Cak Nur sebagai judul bukunya itu, mencerminkan santri punya latar belakang ekonomi kelas bawah. Dan pesantren menjadi tempat belajar paling pas untuk kalangan muslim kelas bawah.  

Seiring waktu berjalan. Kita jumpai banyak pesantren banyak yang masih bertahan. Meski tak sedikit yang berguguran. Pesantren yang gugur biasanya ditandai dengan wafatnya sang kiai. Tidak ada generasi yang mampu melanjutkan sepak terjang sang kiai, terutama pada aspek kharisma dan kapasitas keilmuan yang mumpuni. Pesantren yang masih bertahan, mementingkan aspek kaderisasi pengganti kiai. Beragam pola dan cara yang ditempuh untuk menjaga kesinambungan dan keberlangsungan pesantren. Seperti menikahkan anak kiai dengan anak kiai lainnya. Atau menggangkat murid terbaiknya sebagai menantu. Dengan cara seperti inilah pesantren bisa terus berlangsung.

Dahulu kala, pesantren memang menjadi lembaga pendidikan non formal yang dibangun atas swadaya masyarakat, terutama para kiai. Bahkan pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan khas pribumi. Jauh sebelum Islam datang atau penjajahan melanda negeri ini, pesantren sudah ada sebagai lembaga pendidikan umat Hindu. Hal ini bisa dilihat dari nama pesantren itu sendiri, yang berasal dari Bahasa Sansakerta, yang artinya tempat para santri. Sedangkan santri sendiri berasal dari kata cantrik, yang artinya seseorang yang mengikuti guru. Selain cantrik, kata santri juga berasal dari kata shastri yang berasal dari kata shastra, bahasa Tamil, yang berarti orang baik yang mempelajar kitab suci. Dari kata cantrik, shastri, lalu menjadi santri. Agak dekap pelafalannya dengan kata santo atau saint dalam bahasa Inggris yang artinya orang suci. dan pesantren hari ini memang identik sebagai tempat yang tepat bagi orang tua untuk mendidik anak-anaknya supaya shaleh.

Begitulah sekilas perjalanan pesantren. Tempat para santri belajar menjadi orang baik. Mengkaji ilmu-ilmu agama yang mereka yakini akan menjadi petunjuk hidup, wasilah mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan hidup. Pesantren menjadi jalan sunyi para santri untuk melepaskan hiruk pikuk dan kegaduhan duniawi. Mereka memilih dekat dengan seorang maha guru, kiai, yang mereka pandang memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi.

Kini, pesantren dengan bilik-biliknya nyaris tidak ada lagi. Bangunan pesantren sudah berganti menjadi beton-beton yang keras. Infrastrukturnya semakin canggih dan modern. Jalan-jalan di komplek pesantren mulus beraspal. Asrama santri lebih nyaman. Masjidnya megah dan indah. Lahannya berhektar-hektar. Santri-santrinya gagah, bersih, dan rapi. Tidak ada lagi yang gudikan. Kiainya hidupnya  berkah dengan rumah yang megah dan kendaraan mewah. Bahkan spesantren mampu berekpansi dengan mendirikan cabang-cabang di tempat lain. Bilik-bilik itu kini berganti dengan beton-beton sekeras baja. Alumni pesantren juga mampu berperan di ruang-ruang publik dengan segenap profesi yang bervariasi. Pesantren tidak lagi menjadi pendidikan kelas dua. Santri tidak lagi menjadi kelompok marginal yang dulu dipandang tidak jelas masa depannya.

Namun, jika bilik dimaknai simbolis, dengan artian pola hidup santri yang sederhana dan kemauan meninggalkan sangkar emas di rumahnya. Bilik dengan pengertian simbolis itu masih ada. Kita masih bisa menjumpai kehidupan santri di pesantren yang diajarkan oleh para kiai untuk belajar hidup supaya berani, mandiri, dan percaya diri.   Santri ditempa untuk mau meninggalkan kesenangan sesaat, mau melepaskan ketergantungan dengan orang tua. Beralih dari pola hidup yang serba dilayani (home service) kepada pola hidup melayani diri sendiri (selfservice), maka bilik-bilik pesantren itu masih ada. Dan sepatutnya harus terus ada. Sebab pendidikan di pesantren mampu mengasah dan menempa lebih nyata aspek aspek non kongnitif seperti yang disebutkan di atas. Sebab, hari ini dan masa depan, bukan gelar akademik yang menjadi andalan. Tapi seseorang yang punya keberaniaan, kemauan, kreatifitas yang tinggi.

Karena itulah pesantren sepatutnya mempertahankan jati diri dan identitas aslinya. Sebagai lembaga tafaquh fi diin dan kawah candradimuka untuk menyemai manusia-manusia Indonesia yang bermental baja, beradab, terampil, dan bersahaja. Semboyan pesantren harus terus dijaga dan dipelihara: Melestarikan nilai-nilai lama yang masih baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • Hamka