Muzakarah

Menyusu pada Bibi

Saudara saya baru melahirkan. Tapi air susunya tidak keluar. Lalu untuk menyusui sang bayi, ia meminta bantuan adiknya yang juga kebetulan punya bayi. Bisakah itu dibenarkan menurut Islam?

Yohana (Jakarta)

Jawaban Tim Muzakarah Panji Masyarakat

Kalau Anda membaca Alquran, Saudari Yohana, aturan mengenai menyusui anak pun akan Anda dapatkan. Masya Allah. Sekarang orang tahu, air susu ibu alias ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, tetapi jauh hari sebelum itu, Alquran sudah membicarakan perlunya penyusuan. Seharusnya oleh ibu, dan sebaiknya, hingga dua tahun. “Dan para ibu menyusui anak-anak mereka dua tahun penuh, buat orang yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (Q. 2: 233). Seluruh ulama sepakat, menyusui anak wajib hukumnya buat para ibu. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat nanti, untuk hal itu. (Al-Fiqhul Islami, II: 698).

Jadi, seharusnya para ibu tidak mengelak, seperti yang dilakukan segolongan ibu-ibu muda zaman sekarang, karena ibu punya kewajiban mengasuh anaknya untuk menjaga kesehatannya. Penyusuan ini akan mempererat ikatan batin dan mempertebal temali kasih  antara anak dan ibu. Seperti kita tahu, ASI adalah makanan yang terbaik untuk kesehatan, pertumbuhan fisik, intelektual, dan kejiwaan anak.

Namun, itu bukan hanya ibu yang memikul beban. Ayah juga. Ia wajib menafkahi istrinya yang menyusui dan mencukupi segala kebutuhan sandangnya, selaku kepala keluarga. Perintah ini jatuh tepat setelah penegasan mengenai perlunya penyusuan oleh ibu – seperti untuk membuat keseimbangan. “Dan bagi bapak wajib memberi nafkah dan pakaian kepada mereka  (para ibu) dengan makruf.” (Q. 2: 233).

Saudari Yohana, kalau saudara Anda tidak keluar air susunya, ya kewajibannya gugur. Ia bisa, dan harus, minta orang lain untuk menyusui anaknya. Dalam masyarakat Arab dulu, ada wanita-wanita tertentu yang berprofesi menyusui. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri, kita tahu, disusui oleh orang lain (Halimatus Sa’diyah), setelah beberapa saat menyusu kepada ibu beliau. Kita sekarang bisa pula mencari orang upahan, dengan ongkos ditanggung sang bapak. Bahkan, seorang ibu yang sudah ditalak dan sudah habis masa idahnya juga berhak mendapatkan upah. “Maka, jika mereka menyusui (anak) untuk kalian, berikanlah upah mereka.”

Namun, pada masyarakat kita, upah untuk pekerjaan itu tidak lazim. Yang lazim adalah orang. Biasanya kerabat, dengan suka rela menyusui anak jika air susu ibunya tidak keluar. Dan itu baik. Tak ada masalah. Tapi secara hukum ada konsekwensinya. Penyusuan (yang tidak sekadar hanya satu dua kali isapan, tetapi banayak), mempertalikan hubungan persaudaraan antara anak dan ibu penyusu berikut seluruh keluarganya. Tak ubahnya anak kandung. Ia menjadi muhrim bagi sang suami ibu,  anaknya (saudara sepersusuan), ibunya (nenek), ayahnya (kakek), saudaranya (paman), dan seterusnya. Dalam arti, anak itu tidak boleh kawin dengan mereka.

Sumber: Panji Masyarakat, 24 Juni 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda