Adab Rasul

Mengingat Allah di Mana dan Kapan Saja

Orang Jawa sering menasihati  sanak saudara  yang sedang stres akibat sesuatu musibah, agar eling dan nyebut. Eling artinya ingat. Eling apa? Ingat apa? Nyebut apa? Ingat kepada Gusti Allah. Nyebut asma Allah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Ingat akan takdir, akan kejadian yang sudah ditetapkan Allah. Ingat bahwa segala sesuatu yang kita alami itu sudah merupakan skenario Allah, oleh karena itu kita harus ikhlas, harus berbesar jiwa menerimanya.

Kalimat di atas merupakan pendahuluan tulisan saya yang berjudul “Eling Dalam Tasawuf Jawa”, dalam  buku “Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan”, Bina Rena Pariwara-2009.  Penulis  melanjutkan, lebih-lebih jangan sekali-kali kita mengeluh dan protes  terhadap ketentuan Allah tersebut. Menangis meraung-meraung, mengeluh apalagi protes tidaklah akan mengubah takdir yang sudah berjalan. Orang yang mati misalkan, tidak mungkin bisa hidup kembali dengan kita tangisi. Sementara dengan mengeluh atau protes bahkan bisa membuat Allah menjadi “tidak berkenan” terhadap kita.

Dalam bahasa Arab, kata eling atau mengingat dan menyebut samadengan zikir. Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru van Hoeve – 1994, menyatakan, zikir adalah menyebut, menuturkan, mengingat, menjaga, mengerti, perbuatan baik; ucapan lisan, gerakan raga, maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT; upaya untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah dengan selalu ingat kepada-Nya; keluar dari suasana lupa, masuk ke dalam suasana musyahadan atau saling menyaksikan dengan mata hati, akibat didorong rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Ulama sufi penulis Al Hikam, Ibnu Athaillah Askandary membagi zikir dalam tiga tingkatan. Pertama zikir jali yaitu zikir yang jelas dan nyata berupa  perbuatan mengingat Allah dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan doa misalkan dengan membacakan tahlil, tasbih, takbir, ayat suci atau doa-doa lainnya.

Kedua, zikir khafi, yaitu zikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai zikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan zikir khafi, akan senantiasa merasa memiliki hubungan dengan Allah. Ia selalu merasakan kehadiran Allah kapan dan di mana saja.

Ketiga, zikir hakiki, yaitu zikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan ketat menjaga seluruh jiwa raganya dari larangan Allah, serta mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.

Orang Jawa menyebut orang seperti ini sudah mencapai tahap manunggaling kawulo-Gusti, penyatuan hamba dengan Sang Pencipta, sudah mencapai tahap suwung, kosong. Suwung ing pamrih, tebih ajrih. Kosong dari segala nafsu pesona dunia dan tidak takut terhadap apa saja kecuali murka Allah. Kehidupannya bukan untuk bersenang-senang, hepi-hepi menikmati pesona dunia, tetapi untuk mengemban amanah Allah selaku khalifah fil ard-Nya. Ia sudah topo ngrame, bertapa di tengah keramaian dunia dan duniawi.

Perawi hadis Muslim meriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah senantiasa mengingat Allah dalam setiap saat. Sedangkan ucapan zikir yang paling disenangi Allah menurut Kanjeng Nabi, ada empat yaitu Subhanallah (Mahasuci Allah), Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), Laa ilaha illal-laah (tiada Tuhan kecuali Allah) dan Allahuakbar (Allah Mahabesar). “Bacaan itu lebih aku gemari daripada mendapatkan kekayaan sebanyak apa yang berada di bawah sinar matahari (HR.Muslim).

Perintah mengingat Allah dituangkan dalam Surat Al-Ahzaab : 41 – 42, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kamu sekalian (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah pada pagi dan petang”.

Firman Allah tersebut dipertegas lagi dengan sabda Rasulullah sebagai berikut, “Maukah kamu kutunjukkan amal perbuatan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhanmu, paling dapat mengangkat derajatmu, yang lebih baik bagimu daripada engkau menafkahkan emas dan perak, dan yang lebih baik bagimu daripada engkau menjumpai musuh lalu kamu memenggal tengkuk-tengkuknya.” Para sahabat menjawab, “Baiklah ya Rasulullah.”  Lanjut beliau, “Zikirlah. Ingatlah Allah.” (HR.Tarmidzi dan Ibnu Majah).

Bagaimana kita mengingat Allah SWT?  Kapan dan di mana harus mengingatnya? Selaku khalifah fil ard, wakil atau utusan Allah di muka bumi, kita wajib senantiasa mengingat yang mengutus kita, yakni Allah, di mana saja, kapan saja, dalam keadaan susah maupun senang. Dalam setiap tarikan napas. Dalam keadaan berfikir, berbicara, mendengarkan sesuatu, mencium sesuatu, mengerjakan sesuatu, semuanya adalah semata-mata demi menjalankan tugas sebagai khalifah fil ard. Semuanya adalah dalam rangka ibadah kepada Allah Ta’ala. Jadi bukan demi nafsu dan ambisi pribadi kita, bukan demi diri sendiri apalagi orang lain. Kalau kita membantu orang misalkan, maka itu adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya, bukan agar kita dipuji orang.

Oleh karena itu pahamilah maksud dan tujuan melakukan sesuatu. Hayatilah makna bismillahirahmaanirrahiim  sebelum mulai melakukan sesuatu. Hayatilah maknanya dan praktekkan dalam perilaku sehari-hari. Jangan sesudah membaca bismillah atau kalimat zikir lainnya,  perbuatan kita justru bertentangan dengan maknanya serta melanggar kaidah-kaidah kemanusiaan dan agama misalkan korupsi, berbohong, mengumbar janji yang tak ditepati, zalim dan perbuatan tercela lainnya.

Itulah makna mengingat Allah yang hakiki. Namun mengingat Allah yang demikian tadi tidaklah mudah. Itu semua memerlukan proses, memerlukan latihan yang terus-menerus. Memerlukan cara. Islam mengajarkan cara tersebut dimulai dengan  melaksanakan Rukun Iman, Rukun Islam dengan syariat-syariatnya sebagaimana diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad saw. (Zikir & Doa Persembahan Anak Saleh, B.Wiwoho, Penerbit Bina Rena Pariwara,  cetakan ke-10, 2006).

Sembari dengan itu, berlatih terus mengamalkan sabda Kanjeng Nabi, “Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam segala situasi  dan kondisi,saling menyadarkan satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya, yang memerlukan, (HR.Adailami).          

Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda