Cakrawala

Membangun Batin yang Tercerahkan

Manusia hidup di dunia ini dibekali unsur rohani dan jasmani. Rohani  berkaitan dengan batin atau jiwa. Sedangkan jasmani adalah fisik atau badan kasar manusia. Dalam kehidupan ini setiap manusia menghadapi permasalahan baik rohaniah maupun jasmaniah.

Masalah jasmaniah terkait dengan kebutuhan fisik seperti sandang dan pangan. Ini bisa dipenuhi dengan aktivitas manusia di bidang ekonomi dan kreativitas dalam mengolah bahan mentah atau sumber daya alam yang telah tersedia di dunia.

Masalah rohani terkait dengan jiwa, hati atau batin. Ini adalah kunci dari problema kehidupan di dunia. Hati, jiwa atau batin mempengaruhi perilaku manusia. Apakah kehidupan ini akan berjalan dengan baik dan tentram sangat ditentukan oleh suasana hati manusia. Yaitu hati yang baik yang punya kecenderungan pada kebajikan dan prihatin pada perbuatan kemanusiaan. Sedangkan hati yang kotor dan kasar  gemar berbuat kejahatan, merusak, menyakiti orang lain dan menciptakan kegaduhan serta kezaliman. Kehidupan yang dikuasai oleh hati yang rusak hanya  menyisakan tangis dan kepedihan bagi anak manusia. Tepat sekali ungkapan sebuah hadist Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Bukhori-Muslim yang artinya, ” Dalam diri manusia ada segumpal daging. Manakala segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh jasadnya, tetapi jika daging itu buruk maka buruk pula seluruh jasadnya. Itulah yang disebut hati”

Manusia di dunia ini dalam hidupnya selalu berebut kebutuhan, namun kebutuhan yang diperebutkan hanya kebutuhan fisik, terkadang kebutuhan fisik ini sudah lebih dari cukup, tapi manusia tidak pernah puas. Ia bisa saja menumpuk  kebutuhan fisik tersebut hingga orang lain tidak kebagian. Ia tidak peduli dengan penderitaan orang lain, tidak peduli dengan lingkungan yang rusak, tidak peduli dengan hutan gundul, terbakar dan bahkan banjir akibat perbuatannya demi mengeruk keuntungan.

Manusia kebanyakan tidak tertarik dengan kebutuhan rohaniah, sebab kebutuhan rohani mengajarkan pada kemuliaan hidup. Kebutuhan rohaniah mencoba mengontrol kebutuhan jasmani, mengendalikannya  untuk tidak berlebih-lebihan memperturutkan nafsu dan  keinginan. Kebutuhan rohani menuntut perbuatan kebajikan. Kebutuhan rohaniah senang pada amal shaleh, ia merasa puas saling berbagi.

Kebutuhan jasmaniah tertarik dengan kelezatan yang nyata, kelezatan yang langsung dirasakan. Kelezatan yang nampak di mata dan bisa segera dinikmati. Kebutuhan jasmaniah gandrung pada kemegahan, baik kemegahan harta, pangkat maupun kuasa. Watak perilaku jasmaniah menganggap hidup ini hanya untuk dunia, ia tidak ingat hidup ini hanya sementara dan tidak abadi. Ia tidak peduli bahwa hidup ini berproses dari lahir, muda, tua dan mati. Bahwa hidup ini ada kalanya sehat, bugar, sakit dan berujung kematian. Alam pemikiran jasmaniah tidak berfikir mencari bekal untuk kehidupan akhirat setelah kematian atau kehidupan dunia ini berakhir dan musnah. Ia berfikir selama masih hidup maka pergunakanlah untuk merasakan kenikmatan dan  kepuasan.

Kebutuhan rohaniah dan jasmaniah senantiasa berperang dan saling mempengaruhi. Rohaniah cenderung pada kebaikan. Potensi manusia memang dekat dengan kebaikan, karena ia makhluk mulia yang diciptakan Allah, namun tarikan untuk berbuat keburukan sangat keras. Godaan dengan kesenangan dan kenikmatan hidup menjadi magnit dalam hidup manusia. Jika ini tidak bisa dikendalikan maka ia bisa menjadi pemicu lahirnya perilaku anti sosial atau kejahatan.

Jika kehidupan dunia yang kita jalani dengan tidak baik dan rusak, maka kerusakan itu bukan hanya diri sendiri yang merasakan, tetapi merembet ke dalam keluarga, teman, tetangga dan masyarakat. Sebaliknya, jika kehidupan dunia ini kita jalani dengan baik, maka kebaikan itu juga akan dirasakan oleh diri sendiri keluarga, dan tentunya juga masyarakat.

Kebahagiaan rohaniah dan akhirat bisa kita capai kalau kita jalani dengan baik, dengan tidak melupakan Allah, dengan menjaga iman kita, maka hati dan pikiran akan merasakan kenikmatan.

Tetapi, untuk mencapai kebahagiaan rohaniah, yakni kehidupan akhirat yang abadi, yang merupakan inti dari ajaran Islam, baik dengan segala daya tariknya maupun  rintangannya, merupakan ujian bagi manusia.  Jika Anda merasa hidup berkecukupan, rumah mewah, kendaraan dua,tiga,  makan serba enak, pendidikan keluarga terjamin, berlibur menyenangkan, jangan mengira ini bukan sebuah ujian. Bila Anda terlena dengan kenikmatan tersebut, tanpa mensyukurinya bisa jadi suatu saat ia dicabut dari Anda, menyebabkan stress dan mengguncang diri dan keluarga Anda.

Dalam Islam, harta dan anak-anak yang kita miliki adalah ujian dari Allah untuk melihat keimanan kita. Firman-Nya dalam al-Qur’an,” Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu merupakan ujian. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar “( al- Thagabun ayat 15). Kemudian dalam surat al-Munafiqun ayat 9 Allah berfirman,” Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan siapa-siapa yang berbuat demikian, itulah orang-orang yang menderita kerugian”. Dalam surat al-Baqarah 155-157 dengan tegas pula Allah menyatakan,” Sesungguhnya akan Kami coba kamu dengan ujian berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Mencapai kebahagiaan rohaniah memang berat, menuntut kemampuan mengendalikan diri untuk tidak memperturutkan hawa nafsu atau keinginan, apalagi keinginan yang buruk, yang kenikmatan ragawinya nyata di depan mata. Namun, kebalikan dari kenikmatan jasmaniah, kenikmatan  rohaniah di alam nyata ini, tidak bisa langsung dirasakan. Kenikmatan itu hanya  menimbulkan kepuasan di hati. Dengan perbuatan mulia yang dilakukan hati terasa lega. Kenikmatan rohaniah menjadikan perbuatan kemanusian dan kebajikan sebagai tujuan hidup, karena disitulah icon atau tujuan hidup kenikmatan rohaniah   Dengan amal shaleh itu itu juga merupakan media atau jalan untuk meraih kebahagiaan abadi di kampung akhirat kelak. Jelaslah, bahwa kebahagiaan rohaniah memberikan kepada manusia harapan dan optimisme. Bahwa, ketika kehidupan ini berakhir dan hancur masih ada kehidupan lain yang menyenangkan dan abadi, ketimbang kehidupan  di dunia  yang tak henti dirundung masalah

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda