Jejak Islam

Mahkota Raja-Raja: Petuah Pemerintahan dari Bukhari Al-Jauhari (3)

Dunia adalah tempat ujian, tempat amal ibadah dan perbuatan manusia ditentukan arahnya. Hukuman yang berat akan diterima para penguasa  yang zalim dan tidak adil. Mereka memiliki kekuasaan lebih, sehingga leluasa mengatur dan memerintahkan serta mengarahkan nasib dan kehidupan manusia lain

Adil dan Ulul Albab

Sesungguhnya  Allah Ta’ala memerintahkan manusia berbuat adil dan ihsan. Demikian pengarang memulai Pasal 6 bukunya. Maksud adil ialah benar dalam perbuatan dan perkataan, dan maksud ihsan ialah segala perbuatan dan pekerjaannya dilandasi kebajikan. Raja yang adil merupakan khalifah Tuhan di muka bumi dan bayang-bayang-Nya yang menaungi kehidupan negeri. Raja yang zalim adalah bayang-bayang iblis yang membuat negeri dalam kegelapan.

Menurut Bukhari Al-Jauhari, walaupun merupakan tempat sementara bagi manusia, duna ini memiliki nilai dan makna penting sebab di dunialah kehidupan manusia di hari kemudian disemai. Dunia adalah tempat ujian, tempat amal ibadah dan perbuatan manusia ditentukan arahnya. Hukuman yang berat akan diterima oleh raja-raja yang zalim dan tidak adil. Mereka memiliki kekuasaan lebih, sehingga leluasa mengatur dan memerintahkan serta mengarahkan nasib dan kehidupan manusia lain.

Dalam membicarakan keadilan, Bukhari Al-Jauhari tidak hanya memberinya makna etis atau moral. Tetapi juga memberi makna ontologis. Raja yang baik adalah seorang ulul albab, yaitu di yang menggunakan akal pikiran dengan baik dalam menjalankan perbuatan dan pekerjaan, apalagi dalam menjalankan pemerintahan yang menyagkut nasib orang banyak. Akal (al-‘aql) dalam bahasa Arab dikiaskan sebagai gua ynag terletak di atas bukit yang tinggi dan sukar dicapai. Kemudian akal dinyatakan dalam sebuah hadis, Awwalu ma khalaqallahu ‘aql (Yang diciptakan Allah pada mulanya adalah akal).

Oleh sebab itu apabila pemecahan suatu persoalan tidak dijumpai petunjuknya dalam Quran dan hadis, seorang ulul albab akan melakukan ijtihad. Tetapi ijtihadnya ijtihad yang baik dan dipertimbangkan sematang-matangnya.

Tanda orang yang menggunakan akal dan pikiran yang baik ialah: (1) Tetap menunjukkan sikap dan budi pekerti yang baik di hadapan orang yang senang berbuat jahat; hatinya tetap gembira dan mau memaafkan apabila orang tersebut meminta maaf dan bertobat; (2) Bersikap rendah hati kepada orang yang berkedudukan lebih rendah,  dan menghormati orang yang bermartabat dan berilmu; (3) Mengerjakan dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang baik dan terpuji; (4) Membenci pekerjaan yang keji, perbuatan jahat dan fitnah; (5) Senantiasa menyebut nama Allah dan memohon petunjuk kepada-Nya, ingat akan maut dan siksa kubur; (6) Mengatakan apa yang benar-benar diketahui dan dipahami, sesuai dengan tempat, keadaan dan waktu; (7) Dalam kesukaran maupun kemudahan selalu bergantung kepada-Nya.

Akal merupakan perhiasan kerajaan. Orang adil yang berakal diumpamakan pohon yang elok dan lebat buahnya. Buahnya enak dan berguna, serta menimbulkan keinginan orang untuk menyukainya. Bukhari Al-Jauhari mengutip Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa akal dalam diri seseorang bagaikan raja dalam sebuah negeri. Negeri akan baik jika raja menjalankan tugas sebagai pemimpin yang adil dan menggunakan akal.       

Bersambung.

Penulis:  Prof. Dr. Abdul Hadi WM., penyair, kritikus sastra, dan dosen estetika dan sejarah kebudayaan Islam d Universitas Paramadina,Jakarta. Sumber: Majalah Panjmas, 09-22 Januari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda