Aktualita

Teror Charlie Hebdo dan Primitivisme Macron

Written by Ady Amar

Pekan ini dan bulan berbilang hingga tahun berikutnya, entah sampai kapan jagad pemberitaan masih dipenuhi berita Charlie Hebdo dan Emmanuel Macron.

Charlie Hebdo, surat kabar mingguan satire, yang terbit dari Paris, Prancis. Media kiri dengan menampilkan karikatur kontroversial, dan opini pemberitaan yang sekuler. Berlindung di balik kebebasan berekspresi, lalu tampil mengobrak abrik kohesivitas hubungan antarsesama, dan bahkan sensitivitas agama (Islam).

Charlie Hebdo, untuk kesekian kali menampilkan karikatur Nabi Muhammad. Sebuah upaya menafikan tatanan yang ada, dan itu sejatinya teror meski dibungkus atas nama kebebasan berekspresi, yang terus digelorakan. Lalu, memunculkan reaksi umat Islam dengan tindakan pemenggalan kepala seorang guru, Samuel Paty (47 tahun), oleh seorang pemuda bernama Abdullah Anzorov, 18 tahun.

Upaya Samuel Paty mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad yang dimuat majalah satire kiri itu, di kelas dia mengajar di Conflans-Sainte-Honorine. Maka Anzorov yang tinggal di wilayah Eure, Evreux, menempuh perjalanan 88 km untuk menemui Paty. Lalu terjadilah pemenggalan kepala itu.

Abdullah Anzorov sejak enam tahun hijrah dari desa Shalazhi, Chechnya, Rusia. Sudah 12 tahun berada di Prancis. Pemuda yang dikenal ramah dan tidak punya riwayat kriminal, sehingga ia tidak perlu pengawasan imigran yang bermasalah. Tapi lalu bisa melakukan upaya di luar nalar.

Apa yang melatarbelakangi Anzorov melakukan tindakan yang sedemikian penuh risiko bagi diri sendiri dan pastilah diganjar dengan kematian? Jawabnya, tentu tidak ada dalam kamus Barat, yaitu iman. Dan setiap muslim pun memiliki kadar iman dan bahkan pilihan-pilihannya berbeda satu dengan lainnya. Anzorov tentu tidak membaca ash-Shaarimul Maslul alaa Syaatimir Rasuul, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dimana dalam kitab itu tertulis pendapat semua madzhab yang sepakat, siapa pun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW, maka ganjarannya pidana hukum mati.

Teror dan Primitivisme

Perbedaan Human Right antara Barat dan Timur, tampaknya sulit bisa dipertemukan. Perspektif Huntingtonian tampaknya masih relevan, dimana perang peradaban Barat dan Islam ibarat Perang Bharatayudha. Dan ini perang pamungkas, karena hanya ada dua kutub peradaban paling eksis.

Revolusi Prancis dengan semboyan liberté egalité fraternité membawa kebebasan individual yang ekstrem, sampai meminggirkan peran agama, sebagaimana kata Ben Saphiro, “Eropa berada pada the wrong side of history, sedangkan Amerika berada pada the right side of history, karena masih memberi tempat pada peran agama. Tentu bukan agama formal, tapi agama madani civil religion.”

Charlie Hebdo, dan lalu Samuel Paty adalah pihak yang menstimulan, yang memunculkan respons terjadinya pemenggalan kepala. Dan respons lanjutan lainnya, pembunuhan pada tiga orang jamaah gereja di Nice.

Tidak mustahil respons itu akan terus, bahkan bisa tanpa henti, dan Prancis akan berada dalam suasana mencekam. Stimulus dari Charlie Hebdo itulah teror yang sebenarnya pada keyakinan umat Islam. Menjadi aneh jika lalu kata teror itu disematkan pada mereka yang merespons dengan membela keyakinannya.

Mungkinkah ada pemenggalan kepala dan pembunuhan lainnya, jika tidak dimulai dengan teror yang mengusik rasa keimanan? Reaksi (respons) bukanlah teror, ia hanyalah ekspresi pembelaan atas keyakinan yang sakral, yang mustahil bisa diolok-olok.

Teror itu upaya mengusik lalu memunculkan reaksi kemarahan umat Islam, dan itu berhasil diperankan Charlie Hebdo dengan dukungan rezim Macron yang berdalih bagian dari kebebasan  berekspresi.

Dalih Macron itu bisa dimaknai kebebasan berekspresi tanpa aturan dalam masyarakat beradab. Bentuk menafikan konvensi akan aturan apa yang boleh dan tidak boleh. Meski lakunya itu mendapat cemooh, dan bahkan dari rekan sejawatnya sendiri di Barat, sebagaimana Perdana Menteri Kanada, Justine Trudeau, yang mengatakan bahwa kebebasan berekspresi bukan tanpa batas. Tapi Macron tetap mengumbar kecongkakan strukturalnya. Dan itu primitif.

Pada masyarakat beradab, kebebasan berekspresi itu pun terbatas yang dibatasi oleh aturan-aturan baku. Apalagi menyangkut keimanan dalam beragama. Jika tidak, maka itu tidak ubahnya laku primitif mengobrak- abrik konvensi, dan Macron memaksa primitivisme hadir kembali, mengingatkan pada sejarah brutal Prancis dalam jejak sejarahnya, khususnya di Afrika, yang mustahil dihapus.

Bahkan penasihat Presiden Aljazair, Abdul Majed Cheriki, mengatakan bahwa “Aljazair merupakan lapangan percobaan nyata untuk praktik brutal. Dan kemudian diterapkan Prancis di koloni lain, terutama di Afrika.”

Prancis menduduki Aljazair selama 132 tahun (1830-1962), selama pendudukan itu lebih dari 1,5 juta orang Aljazair mati terbunuh. Awal tahun ini, Aljazair mengubur jenazah 24 pejuang yang diserahkan pemerintah Prancis, setelah lebih dari satu setengah abad, saat negara itu memperingati ulang tahun ke-58 kemerdekaannya.

Tengkorak para pejuang Aljazair itu, mati karena ditembak dan dipenggal pada tahun-tahun awal pendudukan Prancis di Aljazair. Belum lagi di negara-negara Afrika lainnya, misal Rwanda yang tidak kurang 800 ribu orang mati terbunuh.

Watak Macron ini tidak terlepas dari latar belakang Prancis di masa kolonialisme, sebagai negara brutal. Bahkan Macron menganggap bahwa penduduk imigran dari kebanyakan negara-negara bekas jajahan Prancis, terutama Afrika, masih pantas diperlakukan dengan diskriminasi.

Provokasi yang Berulang

Charlie Hebdo terbit awal 1970, dan tahun 1980an berhenti terbit karena faktor pendanaan. Terbit lagi tahun 1992.

Sejak 2006, majalah ini mencetak kartun kontroversial Nabi Muhammad, yang mengambil dari surat kabar Denmark, Jyllands-Posten. Penguasa Prancis saat itu, Presiden Jacques Chirac, mengkritisi Charlie Hebdo sebagai tindakan provokasi berbahaya.

Lalu di tahun 2011, setelah mengulang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, kantornya dilempar bom molotov. Dan 2012, saat mengulang penerbitan yang sama, memaksa Prancis menutup 20 kedutaannya, di tengah kekhawatiran aksi pembalasan dari kelompok muslim.

Dan peristiwa selanjutnya yang dahsyat, dan itu di tanggal 7 Januari 2015, dimana dua laki-laki bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, sekitar jam 11 siang waktu Prancis, masuk ke kantor Charlie Hebdo. Berbekal beberapa jenis senapan dan granat tangan, lalu memberondongkan senapan itu. Membunuh 12 orang, dan melukai 11 lainnya.

Peristiwa ini mengguncang jagad pemberitaan, dan di 2020 peristiwa serupa terulang, Charlie Hebdo meneror umat Islam, dan mendapat balasan kematian Paty. Maka mustahil ada pemenggalan kepala guru jika tidak dimulai dengan pelecehan atas lambang Islam yang sakral, Nabi Muhammad.

Adalah naif jika negara kukuh melindungi sebuah penerbitan dengan berdalih kebebasan berekspresi, tapi melupakan tanggung jawabnya yang lebih hakiki, memberi rasa aman dan perlindungan warganya.

Agaknya Charlie Hebdo akan terus melakukan upaya-upaya kontroversial tidak biasa, tabu dan “menyiksa” umat beragama (Islam), sampai ada upaya kekuatan akal sehat, utamanya kemauan negara (Prancis) yang bisa menghentikannya.

Reaksi umat Islam melakukan protes dengan demonstrasi besar-besaran, dan itu tampak dilakukan di belahan dunia di mana muslim sebagai mayoritas, termasuk di negara kita. Bahkan di India pun ratusan ribu muslimin melakukan protes yang sama.

Di samping itu, mestinya upaya mem-pressure dengan boikot produk-produk Prancis tidak kendor dilakukan. Jika itu bisa dilakukan konsisten di seluruh negara mayoritas Islam, maka tidak mustahil Charlie Hebdo tidak akan terus menerus bisa menyusu dalam tetek kekuasaan. Jika tidak ingin perusahaan-perusahaan multinasional Prancis gulung tikar lebih cepat, karena boikot itu.

Pilihannya ada pada meralat makna kebebasan itu sendiri, bebas mestinya terukur tanpa mengusik kehormatan kelompok tertentu. Itu pastilah terbatas, terutama jika menyangkut keyakinan yang mesti dihormati secara manusiawi.

Menarik jika Macron membaca buku karya John Tolan, Faces of Muhammad (2019), merupakan hasil kajian panjang penulisnya. Dimana pada bagian awal buku ini dituliskan, bahwa sosok Muhammad telah menerbitkan rasa ingin tahu, rasa cemas, keheranan sekaligus kekaguman masyarakat Eropa sejak Abad Pertengahan, sampai dunia modern saat ini. Membaca buku ini diharapkan Macron tidak gagal paham melihat Islam yang dibawa Muhammad dengan obyektivitas memadai, dan memperlakukan dengan respek meski tidak mengikuti ajarannya.

About the author

Ady Amar

Penikmat buku dan pemerhati sosial. Tinggal di Surabaya Jawa Timur

Tinggalkan Komentar Anda