Bintang Zaman

Syah Waliyullah (3): Membangkitkan Kembali Masyarakat Dekaden

Written by Panji Masyarakat

Jantung agama Islam terletak pada hadis, dan hanya dapat disebarkan melaluinya. Ilmu hadis, menurut Syah Waliyullah,   adalah pondasi dan pilar bagi ilmu-ilmu lain dalam teologi dan kajian-kajian keagamaan lainnya.

Karier Intelektual

Setelah 14 bulan tinggal dan memperdalam ilmunya di Mekah dan Madinah, pada 1732 Syah Waliyullah kembali ke Delhi. Dan mulai menekuni kegiatan menulis. Sampai akhir hayatnya dia menghasilkan lebih 50 karya baik pendek maupun panjang dalam berbagai tema: Quran, hadis, fikih, ilmu kalam, tasawuf, etika, sert filsfat sosial dan politik. Namun, jumlah buku dan bervariasinya tema-tem tidak terlalu penting dibandingkan dengan caranya mendekati permasalahannya. Dia mengkombinasikan wawasan yang luas mengenai sejarah Islam dengan penglihatan yang mendalam kepada ide-ide dan nilai-nilainya.

Periode belajar di Haramain dapat disebut sebagai titik balik karier intelektual ulama Delhi ini. Namun, hasil utama yang memberikan pencerahan intelektual kepadanya bukan berasal dari meningkatnya pengetahuan yang diperolenya melalui kontak dengan para ulama dari berbagai negara yang bermukim di Hijaz, melainkan lebih disebabkan oleh perdebatan yang dilakukan dengan para koleganya. Beragamnya pandangan yang acap kali berbenturan satu sama lain, yang muncul dari perdebatan itu, membangkitkan kesadaran Waliyullah akan pentingnya bersikap terbuka dalam melihat perbedaan dan metode untuk mencari titik temu dari permaslahan yang diperselisihkan.

Tampaknya, menanjaknya  popularitas tokoh ini ikut mengangkat popularitas Madrasah Rahimiah sehingga banyak kaum muda terpelajar yang tertarik menjadi murid. Di antara muridnya yang terkenal di dunia Arab adalah Sayyid Murtadha az-Zabidi (wafat pada 179), pengarang kitab Tajul ‘Arus (kamus bahasa Arab yang merupakan perluasan dari Al-Qamusu Muhit-nya Firuzzabadi) dan Ithafus Sadr al-Muttaqin (komentar atas Ihya Ulumuddin Al-Ghazali)        

Karya Utama

Hujjatullah al-Balighah (argumen Tuhan yang Menentukan) adalah karya utama Syah Waliyullah. Untuk kitab yang satu ini,Waliyullah lebih memilih menggunakan bahasa Arab ketimbang bahasa Persia yang kala itu tergolong bahasa intelektual. Hal itu dia lakukan lantaran dia menyadari bahwa disintegrasi moral keagamaan telah melanda umat Islam secara umum, bukan hanya di India. Waliyullah berkeinginan untuk merehabilitasi kegamangan global itu.

Melalui karyanya itu Waliyullah menekankan signifikansi hadis Nabi s.a.w. Bahkan dia menilai bahwa jantung agama Islam terletak pada hadis, dan hanya dapat disebarkan melaluinya.Ilmu hadis, menurut dia, adalah pondasi dan pilar bagi ilmu-ilmu lain dalam teologi dan kajian-kajian keagamaan lainnya. Penekanan ini dapat dimengerti dengan memahami lingkungan historis yang menunjang lahirnya proses itu. Selama ini mazhab keagamaan di India lebih mentikberatkan pada kajian fikih untuk memenuhi permintaan negara dalam melatih para hakim (qadi) bagi jabatan-jabatan peradilan. Setelah kekuasaan Mughal bangkrut, dukungan ekonomi bagi program ini pun merosot sehingga fikih hanya dipelajari untuk tujuan formal statis. Karenanya, kajian fikih hampir tidak dapat diharapkan untuk membangkitkan kembali jiwa masyarakat yang dekaden. Sementara itu, dua tarekat terkemuka, takn Qadiriah dan Naqsyabandiah, telah kehilangan dinamsme spiritualnya. Tasawuf tidak lagi dapat diandalkan seperti pada masa Ahmad Sirhindi ketika umat Islam menghadapi tantangan sikritisme, tetapi belum betul-betul memasuki tahap dekadensi dan degradasi.

Dalam merujuk hadis, Waliyullah banyak bersandarkan pada Maliki dalam pendekatannya terhadap hadis-hadis ketimbang Hanafi, misalnya. Karena itu, dia lebih suka kepada Muwaththa’ Imam Malik dari Kutubussittah. Bahkan dia meletakkan kitab ini satu tingkat di bawah Alquran. Uwaththa, seperti dikemukakan Azyumardi Azra,penulis Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII-XVIII  bukan semata-mata sebuah buku hadis, melainkan juga memuat banyak referensi kepada kesepakatan (ijmak) sahabat terpercaya, dan dalam beberapa hal, dari para tabi’un, menyangkut masalah yang tidak ada hadisnya. Apa yang dikerjakan Waliyullah dalam Muwaththa’ adalah praktek-praktek aktual dan hitoris serta petunjuk dari Nabi dan para sahabat beliau, bukan semata-mata hadis-hadis hukum doktrinal sebagaimana tertulis dalam Kutubussittah (Azra 1995). Bagi Waliyullah, sunah Nabi dalam sejarah adalah fakta yang stabil dan tidak dapat diubah.     

Bersambung

Penulis: Irfan Abubakar,  dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, direktur Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Sumber: Panji Masyarakat, 30 September 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda