Aktualita

Andai Emmanuel Macron Memiliki Kearifan

Written by Arfendi Arif

Jangan coba mengusik kesucian Nabi Muhammad, kalau tidak ingin rusuh. Itulah yang terjadi di Perancis, 16 November lalu. Bagaikan cerita film, Abdullakh Anzorov, 18 tahun, seorang pelajar membunuh dan memenggal kepala Samuel Paty, seorang guru sejarah tidak jauh dari rumahnya  di Conflans -Sainte Honorine, pinggiran kota barat laut Paris.

Kisah ini berawal ketika Paty mengajar tentang kebebasan berekspresi, dan mengajak muridnya berdiskusi. Paty membawa karikatur Nabi Muhammad sebagai topik bahasan. Sebelumnya,  Paty mengizinkan muridnya yang beragama Islam untuk keluar, atau berpaling, karena ia ingin menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

Sikap Paty yang ceroboh itu rupanya lupa pada peristiwa 7 Januari 2015  lalu, ketika majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, akibatnya kantor redaksinya didatangi dan  diberondong tembakan 3 orang pemuda bermasker yang mengakibatkan 12 orang redakturnya  tewas  seketika, dan 10 orang lainnya  terluka.

Usai Samuel Paty tampil mengajar tersebut, benar saja reaksi keraspun muncul dari orang tua murid. Ada yang mengancam melalui medsos, dan ada pula mengusulkan agar ia dipecat.

Dalam situasi tersebut muncullah Abdullakh Anzorov, seorang muslim asal  Chehnya, Rusia. Ia bukan pelajar SMP tempat Paty mengajar, namun tinggal masih di kawasan Conflans, sekawasan dengan Paty. Alamat Paty bisa diketahui setelah beredar di Medsos. Dan, Anzorov pun menguntitnya yang kemudian dibunuh di tengah jalan. Anzorov yang ternyata tidak punya rekam jejak dengan kaum radikal itu tewas ditembak polisi dalam bentrokan ketika penangkapan dirinya.

Simpati memang berdatangan terhadap Samuel Paty. Dalam demo di Paris mereka menyataan ” Je Suis Samuel” artinya Saya Adalah Samuel. Slogan ini mirip dengan “Je Suis Charlie“, ketika unjuk rasa dalam kasus Charlie Hebdo. Pemerintah Perancis sendiri memberikan penghormatan buat Samuel Paty di Universitas Sorbonne, 21 Oktober lalu. Ia mendapat penghargaan sipil tertinggi, yaitu Legiun Kehormatan dan memperjuangkan nilai-nilai sekuler dan demokrasi di Perancis.

Pernyataan Mengundang Ketegangan

Namun, sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam merespon terbunuh Samuel Paty telah menimbulkan reaksi keras umat Islam  dunia. Ia tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa tidak akan melarang pencetakan karikatur Nabi Muhammad, sebab itu bagian dari kebebasan berekspresi. Padahal, di dunia Islam dan ajaran Islam menggambar Nabi Muhammad sesuatu yang  dilarang sangat keras.   Ditambah lagi tudingannya,  Islam sebagai agama teroris dengan menunjuk adanya pemenggalan guru tersebut. Ia juga mengatakan,  dari kasus itu  adanya gerakan bermaksud merubah Perancis dari negara sekuler. ” Dia dibunuh karena kelompok muslim menginginkan masa depan kami. Mereka tidak akan mendapatkannya,” tegas Macron.

Sebelumnya, dalam pidatonya yang diunggah BTN TV 2 Oktober 2020 Macron juga melontarkan pernyataan yang menyinggung umat Islam. “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis, di manapun di dunia. Tidak hanya yang kita lihat sekarang,” tudingnya.

Macron menegaskan, Perancis akan tetap mempertahankan sebagai negara sekuler. Pemerintah juga akan mengajukan undang undang untuk memperkuat undang undang tahun 1905 yang memisahkan gereja dan negara, dan secara resmi menjadikan Perancis sebagai negara sekuler.

Pernyataan Macron ini jelas menimbulkan reaksi keras pemimpin negara Islam. Salah satunya yang cukup tajam bereaksi adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia menyerukan untuk memboikot seluruh produk asal Perancis di negaranya. Bahkan, dengan pedas Erdogan menohok Macron agar perlu menjalani pemeriksaan kesehatan mental usai mengumumkan rencana mereformasi Islam sesuai dengan nilai-nilai sekularisme di negaranya.

Pernyataan tajam.juga datang dari Iran, koran garis keras Iran Vatan-e Emrooz menggambarkan Macron sebagai iblis dan memanggil Presiden Perancis itu dengan sebutan Setan dalam sebuah kartun yang terpampang di halaman depan.

Sementara itu parlemen Pakistan mengeluarkan resolusi yang mengutuk penerbitan kartun nabi. Dan, puluhan orang di kota pelabuhan selatan Karachi memprotes penolakan Perancis untuk mengutuk publikasi kartun tersebut. Pengunjuk rasa meneriakkan slogan anti  Macron dan membakar patung presiden Perancis itu.

Hal yang sama terjadi di Libya, wajah presiden Perancis dicorat-coret. Sedangkan di Jalur Gaza warga Palestina membakar foto Macron..

Di Timur Tengah, Kuwait telah menarik yogurt Perancis, keju dan botol air soda dari rak mereka, Universitas Qatar membatalkan pekan budaya Perancis ,dan seruan untuk menjauh dari jaringan toko bahan makanan Carrefour milik Perancis yang menjadi trend di media sosial Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Indonesia melalui Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan kecaman keras atas terjadinya kekerasan di Paris dan Nice yang telah memakan korban. Kedua, mengecam.keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia yang bisa memecah belah persatuan antar umat beragama   di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid 19.

Selanjutnya, kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan. “Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme.  Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apapun,” tandas Presiden Jokowi.

Bagi Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, sosok Nabi Muhammad tidak tepat untuk divisualkan,  baik dalam gambar maupun patung. “Tak ada satupun wajah yang mirip dengannya, melainkan semata sebagai Rasulullah pembawa rahmat bagi semesta dengan akhlaknya yang terpuji,”paparnya.

Komaruddin Hidayat, yang juga Rektor Universitas Islam Internasional ini, mengingatkan pendapat Wilfred Cantwell Smith (1916-2000) pendiri Institute of Islamic Studies  di McGill University , Kanada, jauh jauh hari sudah mengingatkan kepada dunia Barat. Dua hal kalau dihinakan pasti akan memancing kemarahan umat Islam,yaitu jika Nabi Muhammad dan Al-Quran dilecehkan .

Rupanya, Perancis tidak pernah belajar dari peringatan Wilfred Cantwell Smith ini. Bahkan, kasus Charlie Hebdo yang sebelumnya sudah memakan korban jiwa itu, tidak membuat Perancis jera. Apakah ke depan akan terulang lagi kekerasan ini. Mudah-mudahan Emmanuel Macron menjadi pemimpin yang arif dan bijak!

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda