Bintang Zaman

Bacaan Maulid: Untaian Cinta untuk Sang Pencinta (6)

Written by Hamid Ahmad

Ungkapan Estetis

Sekarang di Indonesia, terutama di kota-kota besar, peringatan maulid hanya dilangsungkan dengan menampilkan penceramah. Selain yang khas seperti grebeg mulud  yang diselenggarakan Keraton Yogyakarta dan Cirebon. Atau arak-arakan mengusung barang, makanan,  dengan bendera uang kertas, yang akan disedekahkan  seperti di beberapa tempat di Banten, sebelum dilangsungkan ceramah maulid di malam hari. Tapi, masih banyak yang dilakukan dengan membaca maulid-maulid itu. Dan Al-Barjanzi, prosa maulid yang diakui paling indah, paling banyak dibaca di sini, juga di seluruh dunia.

Maulid telah berkembang menjadi ungkapan estetis. Suara dimerdukan, irama diperindah, ketika membacanya. Al-Barjanzi, juga yang lain, dibaca dengan berbagai lagu: lagu ragbi, lagu hijaz, lagu rast, lagu husaini, lagu nahawand, dan lagu mashri, yakni lagu-lagu yang dipakai para qari/qariah. Tak hanya pada maulid, tapi juga pada pesta khitan alias sunatan, cukur rambut/penamaan bayi, perkawinan, dan semacamnya. (Dan jangan lupa Bengkel Teater Rendra pernah beberapa kali mementaskan Kasidah Barjanzi, yang penerjemahannya dilakukan Syu’bah  Asa, Ed).

Komposisi maulid-maulid itu sendiri dirancang untuk menerbitkan keindahan: dimulai dengan kasidah, lalu prosa, diakhiri  dengan kasidah pula. Kalau pada Ad-Daiba’i dan Al-Barjanzi hanya ada satu-dua rangkaian kasidah di tengah-tengah, maka dalam Syaraful Anam prosa dan syairdatang berselang-seling, silih berganti.

Ada acara berdiri dalam setiap maulid. Yaitu ketika sampai cerita tentang kelahiran nabi, sebagai penghormatan. Sambil berdiri, hadirin melantunkan salawat. (Di Banten, pembacaan cuplikan dari Al-Barjanzi  ini disebut Marhaba, dan kerap dilombakan dalam peringatan-peringatan hari besar Islam, Ed). Biasanya diiringi rebana, dengan irama beraneka ragam. Sebuah kekayaan budaya tersendiri di negeri ini. Tapi di Jawa Timur, terutama pada bulan Maulud, ada acara khusus yang disebut hadrah. Seluruh syair di Syaraful Anam dilantunkan dengan iringan rebana. Dan ada kelompok tersendiri (disebut kelompok hadrah) untuk ini, terdiri dari atas penabuh rebana dan sejumlah penari. {Kalau tidak salah mendiang Teguh Karya pernah memasukkan adegan yang melibatkan unsur tari dan rebana ini dalam salah satu filmnya, Ed).

Prakteknya: kelompok hadrah tampil mengawali acara dengan membawakan salawat pembuka. Usai itu, prosa dibaca, lalu tampil lagi kelompok hadrah lain membawakan kasidah berikutnya, dan begitu seterusnya. Biasanya, hingga dini hari.

Yang Menentang Maulid

Melihat tarian hadrah dan yang semacamnya, kita jadi teringat akan tarian sufi, yang rujukan utamanya tentu saja Jalaluddin Rumi. Rebana itu sendiri dipakai kelompok sufi tertentu. Dan kalau kita merunut sejarah, pengaruh tasawuf baik dalam pelahiran peringatan maulid maupun bentuk upacaranya  sendiri memang besar. Isi maulid-maulid pun, yang ditulis para sufi, sangat kuat aroma tasawufnya. Ada pula pengaruh Kristen, yaitu pada prosesi dengan lilin. Toh, tradisi itu sudah lenyap. Pengaruh Syi’ah pun nyaris tidak ada, kecuali di zaman Fathimiyah. Maulid pada masa itu ternyata hanya menjadi satu fragmen sejarah yang terputus, yang tidak pernah dirujuk para penulis maulid ataupun buku-buku tentang sejarah maulid.

Peringatan maulid bukannya tanpa tentangan. Bahkan sejak awal kelahirannya sudah banyak ulama yang menilainya bid’ah. Para pendukung membela, itu memang bid’ah, tapi bid’ah hasanah (yang baik). Ada pula yang mengajukan hadis pendukung, tetapi hadis itu dinilai dha’if  alias lemah.  Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha termasuk dalam barisan penentang. Tentangan menggencar ketika muncul aliran Wahabi. Begitu Dinasti Saud yang Wahabi menguasai kawasan Hijaz dan Najd,  yang kemudian menjadi wilayah Arab Saudi sekarang, pada awal abad ke-20, mereka melarang habis peringatan maulid. Orang juga dilarang berziarah ke maulidun Nabi, rumah tempat kelahiran Nabi.

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda