Bintang Zaman

Bacaan Maulid: Untaian Cinta untuk Sang Pencinta (5)

Written by Hamid Ahmad

Dari Rumah Nabi Lahir

Ibu Khalifah Harun Ar-Rasyid bukan main gemas melihat rumah tempat Nabi Muhammad s.a.w. lahir di Mekah berubah jadi kandang kambing. Maka direnovasilah rumah itu. Dan dirawat sebagaimana lazimnya rumah.

Dan ini akibatnya: rumah itu berubah jadi tempat ziarah. Setiap jamaah haji tak akan melewatkan waktunya untuk tabarruk alias mencari berkah. Makin lama makin ramai rumah itu dkunjungi peziarah. Puncaknya pada hari kelahiran Nabi, 12 Rabiul Awal. Khusus pada tanggal ini rumah yang disebut maulidinn Nabi (tempat kelahiran nabi) itu dibuka sepanjang hari. Tak cukup berziarah, pada hari itu orang menggelar haflah, pesta, maulid. Bukan ceramah atau pembacaan riwayat Nabi, melainkan upacara seperti yang dilakukan para pengikut tarekat. Pemimpin upacara ini memang kaum sufi.

Tidak diketahui mulai kapan tradisi yang kemudian dikenal dengan sebutan lailatul maulid alias malam kelahiran ini mulai berlangsung, dan  bagaimana pula penyebarannya. Yang pasti, pada masa-masa pertengahan atau akhir pemerintahan Dinasti Fathimiyah yang syi’i sudah dikenal tradisi demikian di Mesir. Bukan upacara ala tarekat. Hanya prosesi di siang bolong oleh pejabat dan ulama di Kairo menuju istana, dilanjutkan dengan khutbah dari tiga orang penceramah. Rakyat tidak ikut-ikut.

Karena bersifat elitis, tradisi ini belakangan memudar. Dan ketika kekuasaan Fathimiyah  ditumbangkan Dinasti Ayubiyah orang nyaris lupa. Kemudian muncul lagi, dalam bentuknya yang berbeda, dihidupkan Al-Malik Muzhaffaruddin Kokburi dari Dinasti Ayubiyah pada abad ke-13. Mungkin ini ada kaitannya dengan Perang Salib yang masih marak, yakni untuk mengkonsolidasikan kekuatan rakyat. Nama panglima Perang Salib yang kerap dikaitkan dengan acara maulid ini adalah Salauddin Al-Ayubi.

Kala itu maulid diselenggarakan secara besar-besaran, melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Beberapa hari menjelang 12 Rabiul Awal, berduyun-duyun orang dari berbagai pelosok Mesir ke kota Arbala. Untuk menampung mereka dibangun banyak kubah dari kayu. Mereka dihibur dengan musik, nyanyian, dan pertunjukan lain. Seluruh kota ramai bukan main, seperti  layaknya festival tahunan atau pasar malam raksasa.

Lantas pada malam maulid, bakda salat magrib, dilakukan prosesi dengan membawa lilin menuju istana, dipimpin sendiri  Raja Muzhaffaruddin. Esok paginya, orang-orang berkumpul di halaman istana. Di sana terpancang menara untuk tempat Raja dan sebuah mimbar untuk penceramah. Usai ceramah, Raja memanggil para tamu terhormat untuk diberi hadiah jubah kehormatan. Acara dilanjutkan dengan perjamuan: rakyat di halaman dan tamu-tamu terhormat di dalam istana, tentu saja.

Upacara maulid kemudian diketahui sudah menyebar ke berbagai bagian dunia Islam. Di zaman kerajaan-kerajaan Islam di Nsantara, misalnya, dikenal upacara grebeg mulud yang sampai sekarang masih diselenggarakan Keraton Yogyakarta dan Cirebon  Belakangan, berkembang tradisi baru, yang diduga bermua di daerah Hijaz (Mekah). Yakni pembacaan maulid, yakni karangan pendek yang berisi pujian dan riwayat Nabi. Mula-mula yang dibaca syari Banat Su’ad gubahan sahabat Ka’b ibn Zuhair dan Qashidatul Burdah serta Hamziyah karya Al-Buyiri. Pada periode ini, bermunculan bacaan-bacaan maulid dikarang orang, bak jamur di musim hujan. Di antaranya Iqdul Jawahir, yang masyhur dengan Maulidul Barjanzi, karya Syekh Ja’far Al-Barjanzi, ulama Madinah pada abad ke-18 M. Maulid-maulid lain yang populer di Indonesia, Ad-Daiba’i, Syaraful Anam  dan  Al-Azab, diperkirakan  juga lahir pada periode ini. Bacaan-bacaan atau petikan-petikan syair dari kitab-kitab itu tentu saja tidak hanya dibawakan pas acara maulid.              

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda