Bintang Zaman

Bacaan Maulid: Untaian Cinta untuk Sang Pencinta (4)

Mimpi Yahudi

Maulid-maulid ditulis untuk mengungkapkan suka cita atas kelahiran Nabi, lalu merunut riwayat hidupnya, tapi tidak dengan lengkap. Ad-Daiba’i malah lebih banyak menghabiskan tintanya utuk menggores masa-masa sebelum kelahiran (penciptaan dan perjalanan Nur Muhammad serta kehebohan menjelang kelahiran) di samping kelahirannya sendiri, masa persusuan dan masa kecil. Semuanya dipilih yang menunjukkan kehebatan atau pengalaman “aneh tapi nyata”. Selanjutnya pembahasan mengenai kualitas dan kemuliaan Nabi.

Adapun Maulidul Azab, setelah bertutur tentang Nur Muhammad lalu menelusuri riwayat kelahiran  Nabi, masa persusuan, waktu kecilnya hingga usia empat tahun, saat ibunya wafat, mendadak meloncat ke cerita Isra Mikraj, yang kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang hijrah.

Yang paling lengkap dan runtut adalah Al-Barjanzi. Inilah maulid yang bercerita dengan cukup rinci hikayat Nabi, semenjak kelahirannya sampai hijrahnya ke Madinah. Toh ia berhenti sampai hijrah. Tak dilanjutkannya hingga beliau wafat.

Cerita-cerita di dalam maulid itu sejatinya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada cerita tentang perdagangannya di usia 25. Ada tuturan tentang turunnya wahyu  pertama dan orang-orang pertama yang masuk Islam. Ada cerita tentang kematian pamannya, Abu Thalib, berikut bulan dan tahunnya (Syawal tahun ke-10 dari kenabian). Peristiwa Isra mikraj diurai secara rinci, berikut reaksi orang terhadapnya – dan Abu Bakr tampil sebagai satu-satunya orang yang mempercayainya tanpa reserve ketika banyak yang ragu. Begitupun perjalanan hijrah, berikut  persinggahannya di Quba selama lima hari. Malah ada cerita tentang proses turunnya kewajiban salat: mula-mula diwajibkan melakukan salat pada beberapa waktu di tengah malam, lalu dihapus dengan firman-nya, “Maka bacalah yang mudah darinya (Alquran) dan dirikanlah salat” (Q. 73:20), dan diwajibkan masing-masing dua rakaat masing-masing di pagi dan sore hari. Kemudian diganti lagi dengan kewajiban salat lima waktu di malam Isra Mikraj. Akan  halnya  Nur Muhammad, Al-Barjanzi tidak memberikan perhatian berlebihan, hanya dibahas secara lintas, tak lebih dari dua baris kalimat.

Syaraful Anam menyajikan riwayat Nabi dengan komposisi dan isi yang hampir sama dengan Ad-Daiba’i, minus cerita masa kecil. Tapi ada tambahannya, semacam “bonus”, yaitu  sisipan cerita mengenai seorang Yahudi di Mesir yang punya tetangga muslim, yang tiap tahun rajin menggelar pesta maulid. Istri si Yahudi sampai heran dan bertanya kepada suaminya, “Buat apa tetangga muslim kita itu menghambur-hamburkan uang begitu banyak di bulan in  (bulan Maulid/Rabi’ul Awwal)?” Suaminya menjawab, “Ia menyangka nabinya lahir di bulan ini. Itu dilakukan untuk mengungkapkan suka cita dan penghormatan kepada sang nabi dan kelahirannya.”

Malam harinya sang istri bermimpi melihat seorang lelaki yang ganteng, gagah dan berwibawa. Lelaki itu  masuk ke rumah tetangganya yang muslim tadi, lalu dikerumuni  orang-orang yang yang mengelu-elukannya.

“Siapa lelaki ganteng ini?” tanya wanita itu kepada salah seorang pengunjung.

“Ini Rasulullah s.a.w. Ia masuk ke rumah ini untuk memberi salam kepada penghuninya lantaran suka cita mereka atas kelahirannya.”

“Apakah ia mau bicara kepadaku jika aku ajak ia berbincang?”

“Tentu saja.”

Dihampirinya Rasulullah s.a.w. seraya menyapa: “Wahai Muhammad!”

“Labbaik!”

“Mengapa Anda mau menyahuti orang sepertiku dengan talbiyah (labbaik), padahal saya tidak seagama denganmu, bahkan salah satu dari musuh-musuhmu.”

“Demi Zat yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi, aku tidak mau menyahut panggilanmu sampai aku tahu Allah sudah menganugerahkan hidayah-Nya kepadamu.”

“Engkaulah seorang nabi yang mulia. Engkau memiliki akhlak yang mulia. Celakalah orang yang tidak menuruti  perintahmu, dan rugilah orang yang tidak tahu derajatmu. Ulurkan tanganmu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa engkau, Muhammad, utusan Allah.”

Perempuan itu berniat, bila pagi tiba, menyedekahkan seluruh yang dia miliki dengan menyelenggarakan pesta maulid sebagai ungkapan suka cita atas keislamannya dan sebagai rasa syukur atas mimpi yang dia alami. Tapi betapa kaget, pagi-pagi sekali, ia lihat suaminya telah menyiapkan sebuah pesta.

“Hei, kulihat kamu begitu bersemangat. Rupanya kamu punya hajat yang baik.”

“Ya, ini demi keislamanmu di hadapannya tadi malam,” suaminya menjawab.

“Lo, siapa yang menyibakkan rahasia ini padamu?”

“Aku kan yang masuk Islam setelah kamu.”   

Bersambung   Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda