Bintang Zaman

Bacaan Maulid: Untaian Cinta untuk Sang Pencinta (3)

Written by Hamid Ahmad

Dialah  makhluk yang ditunggu-tunggu. “Dan seluruh makhluk di alam ini merindukan kehadiranmu, menunggu cemlorot-nya cahayamu,” tulis Ad-Daiba’i. Dialah poros dari segala penciptaan. Andaikan Allah tak hendak menciptakannya, tak bakal Dia menciptakan alam in. “Alam ini hanyalah isyarat, ekses, dan engkaulah maksud yang sebenarnya,” tulis Ad-Daiba’i. Dialah tujuan, yang lain hanya ekses, sesuatu yang semu. Dia bahkan sudah “ada”, sebelum manusia ada, hanya ujud wadaknya yang baru lahir pada abad ke-6 Masehi itu.

Nabi yang Bukan Historis.

Untuk menjelaskan itu, maulid-maulid menyodorkan teori tentang Nur Muhamad (NM). Ini adalah teori yang pertama kali diperkenalkan seorang sufi-filosof  Ibnul Arabi. Menurt dia, NM diciptakan sebelum alam ini dciptakan (zaman azali). Nur ini dipindahkan dari satu nabi ke nabi yang lain, dan mencapai kesempurnaannya di dalam diri Nabi Muhammad. Tapi, para wali bisa pula memperoleh NM, yaitu melalui latihan tasawuf  (riyadhah).

Salah satu hadis qudsi (firman Allah yang bukan Alquran (yang populer di kalangan pesantren, dan menjadi sandaran buat paham NM, “Kalaulah bukan karenamu (Muhammad), niscaya tak akan Kuciptakan jagat raya ini.” Menurut pakar hadis KH Ali Musthofa Ya’qub, hadis ini ternyata hadis maudhu’ (palsu), tercantum dalam kitab Al-Maudhu’utul Kubra, buku pertama yang mengimpun hadis-hadis dha’if, disusun Ibnul Jauzi pada abadke-7 H. Imam Jalaluddin As-Suyuthi, seorang penulis abad ke-10 H yang sangat produktif dan buku-bukunya jadi referesi kalangan pesantren, dalam bukunya Al-La’alil Mashnu’ah fil Ahaditsil Maudhu’ah juga menyebut hadis itu “sangat palsu”, karena dalam rangkaian sanadnya berderet tiga orang (tidak hanya satu) yang dikenal sering membuat hadis palsu, yaitu Yahya Al-Bashri (bahkan orang ini dijuluki kadzdzab alias tukang dusta), Muhammad ibn Isa ibn Hayan Al-Mada’ini, dan Ibrahim ibn Al-Yasa’ (keduanya dujuluki muttaham  bil kadzib, dicurigai perkataannya). Ali  Musthofa menduga, hadis-hadis yang semakna dengan ini  pasti sama lemahnya. Tapi ia tidak tahu kapan hadis-hadis sejenis itu muncul pertama kali, apakah di zaman Ibnul Arabi atau sebelumnya.

Kautsar Azhari Noer, ahli tasawuf yang menlis disertasi Wihdatul Wujud Ibnul Arabi dan Panteisme, menduga hadis-hadis tentang NM sudah beredar di kalangan ulama jauh hari sebelum Ibnul Arabi. Karena paham NM sendiri sebenarnya sudah ada sebelum itu, hanya belum dirumuskan secara sempurna.

Menurut Kautsar Azhari, memang banyak hadis yang dilansir para sufi yang lemah. Sebab, bagi mereka, derajat otentisitas hadis tidak jadi soal, yang penting maknanya. Ibnul Arabi, misalnya, dalam bukunya Al-Futuhat Makkiyah mengakui hadis qudsi “Aku adalah kekayaan yang tersembunyi” atau hadis (Kautsar tak yakin, red) “Sungguh Allah menjadikan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”,  dha’if adanya, tapi tetap dia pakai  karena dari segi kasyaf (penyingkapan tabir) benar.

Namun dalam hal NM, setidaknya ada  yang menilai sahih hadis yang dikedepankan Ibnul Arabi, seperti tercantum dalam Al-Mu’jamus Sufi, sebuah buku indeks khusus mengenai tasawuf Ibnul Arabi, disusun dosen tasawuf Universitas Lebanon Dr. Suad Al-Hakim. Menjawab pertanyaan Abu Hurairah, Nabi menjawab, “Aku sudah menjadi nabi ketika Adam masih antara ruh dan jasad.” At-Tirmizi, si rawi (yang meriwayatkan hadis) menyebut hadis ini “hasan dan sahih”.

Perlu ditekankan, kata Kautsar, bahwa nabi di situ bukan nab historis, dan Muhammad sebagai Nur Muhammad  bukan Muhammad historis. Ia adalah model asli, prototipe. Seperti halnya ide yang muncul di benak arsitek ketika hendak membangun gedung, yang kemudian direalisasikannya nanti. Nah, NM tak ubahnya ide demikian, yang ada dalam “pikiran Tuhan”. “Jadi sudah ada di zaman azali, sebelum adanya alam ini,” katanya.

Yang dikutip para penulis maulid justru hadis-hadis lain, yang panjang-panjang, bukan yang dikemukakan Ali Musthofa dan Kautsar tadi. Di tangan para penulis maulid,  agak berbeda dengan konsep Ibnul Arabi yang canggih dan njilmet, NM dipakai untuk memperlihatkan betapa mulianya Nabi, bahwa ia memiliki posisi yang sangat istimewa di mata Tuhan. Sangat istimewa malah. Dialah poros dari segala penciptaan. Hulu dari sungai mayapada ini. NM juga dipakai untuk menunjukkan bahwa penciptaan Muhammad sudah berlangsung  sejak lama, bahkan 2.000 tahun sebelum manusia pertama (Adam) diciptakan. Hanya ujud jasad wadaknya baru lahir pada abad ke-6 Masehi.

Teori tentang NM, yang kemudian dititipkan pda setiap nabi yang diutus, juga untuk membuktikan kehebatan Muhammad. Bahwa berkat wibawa nur tersebut, para nabi memiliki mukjizat. Nur itu memancar di wajah Adam dan malaikat bersujud padanya atas perintah Allah. Juga berkat NM Nabi Nuh selamat di atas perahunya, di tengah  banjir besar. Dan seterusnya. Sampai kemudian akhirnya dipindahkan kepada ayahnya, Abdullah, lalu keluar dari rahim ibunya, Aminah.              

Bersambung   Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Juli 1998.    

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda