Bintang Zaman

Bacaan Maulid: Untaian Cinta untuk Sang Pencinta (2)

Written by Hamid Ahmad

Kitab-kitab maulid  seperti Al-Barjanzi, Ad-Daiba’i, Syaraful Anam, dan Maulidul Azab memang sarat dengan pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Ada pujian kepada fisik Nabi: terang dahinya seterang fajar ketika gelap malam undur diri; hitam rambutnya sepekat malam hari; mancung hidungnya bak huruf alif, melengkung  alisnya laksana huruf nun. Lebih detail lagi penggambaran Maulidul Azab: kulitnya putih kemerahan, badannya tegak, janggutnya lebat, kepala besar, mulut lebar dengan untaian mutiara nan elok di antaranya, matanya seperti bercelak, dahinya lebar, alisnya tebal, pipinya kemerahan, dan giginya patah-patah. Bahkan pendengarannya dapat menangkap suara halus gesekan pena, dan pendengarannya menembus langit ketujuh.

Ada pula pujian terhadap sikapnya: jika disakiti memaafkan, tidak mau membalas, dan jika didebat tidak mau menjawab. Sangat pemaaf. Tapi kalau hak Allah disia-siakan, ia akan marah besar, sampai tak seorang pun sanggup menahannya. “Jika dia berjalan di antara sahabat-sahabatnya, dia seakan bulan di tengah-tengah bintang mencorong,” tulis Ad-Daiba’i.

Dialah Nabi yang menghadap ke hadirat Allah, dalam peristiwa Isra Mikraj, dan melihat Dia langsung dengan mata kepala dan mata hatinya. Dialah nabi yang paling mulia di antara para nabi, yang kedudukannya belum pernah dicapai orang sebelum dan sesudahnya. Bahkan binatang pun bersujud, untuk mencium kedua telapak kakinya.

Dialah lelaki yang kelahirannya mengguncangkan dunia. Sampai burung-burung dan binatang-binatang liar berebut untuk mengasuhnya. “Biarlah kami yang mengasuhnya agar kami mencicipi hikmahnya,” kata burung-burung. “Jangan. Kami lebih berhak mengasuhnya supaya merasakan kemuliaannya,” tukas binatang-binatang liar. “Ssst diam kalian semua,” tiba-tiba ada suara menyergah. “Karena Allah sudah memutuskan hikmah-Nya untuk dia.”

Sebuah kelahiran yang agung. Bahkan malaikat diperintahkan menyeru makhluk-makhluk  di bumi dan di langit dengan berita gembira. Alam pun berpendaran, penuh cahaya. Arsy berguncang. Kursi bertambah mencorong, bertambah wibawa, dan langit terang benderang.

Bahkan sejak jauh-jauh hari, Aminah ibunya sudah diberi tahu bahwa ia bakal melahirkan seorang hamba yang paling mulia, melalui mimpi. Mula-mula Nabi  Musa, lalu Nabi Ibrahim, dan seterusnya. Lantas pada malam kelahirannya , datang Asiah, istri Fir’aun, Maryam, ibu Nabi Isa, dan para bidadari.

Dialah  makhluk yang ditunggu-tunggu. “Dan seluruh makhluk di alam ini merindukan kehadiranmu, menunggu cemlorot-nya cahayamu,” tulis Ad-Daiba’i. Dialah poros dari segala penciptaan. Andaikan Allah tak hendak menciptakannya, tak bakal Dia menciptakan alam ini. “Alam ini hanyalah isyarat, ekses, dan engkaulah maksud yang sebenarnya,” tulis Ad-Daiba’i. Dialah tujuan, yang lain hanya ekses, sesuatu yang semu. Dia bahkan sudah “ada”, sebelum manusia ada, hanya ujud wadaknya yang baru lahir pada abad ke-6 Masehi itu..         

Bersambung   Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Juli 1998.

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda