Tafsir

Tafsir Tematik: Persaudaraan yang Bisa Kisruh (1)

Written by Panji Masyarakat

Adapun para mukmin tak lain satu saudara. Karena itu damaikanlah dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat. (Q. 49: 10).

Ada da segi ang dapat dipikirkan sehubungan dengan ayat itu. Pertama, adanya anggapan seakan-akan prinsp “persaudaraan Islam” (ukhuwah islaiyah), seperti yang diajarkan ayat, menuntut diwujudkannya kondisi kesatuan umat dengan segala cara. Termasuk, pertama, dengan mengesampingkan semua bentuk dan gejala penyimpangan doktrinal d dalam ubuhnya, sampai pun yang paling fundamental.. Kedua, dengan membela seorang saudara bahkan dalam kasus kejhatan yang diperbuat, khususnya bila situasinya diangap membuat umat ini berhadap-hadapan dengan yang di luar.

Yang benar, ayat ini – dan dengan demikian ukhuwah islamiyah —  tidak ada kaitannya dimensi agama maupun secara langsung bentuk-bentuk jinayah (tindakan kriminal)sehubungan dengan golongan-golongan. Baik berdasarkan asbabun nuzul (sebab-sebab turun) maupun rangkaian ayat dalam Alquran, yang dimaksudkan tak lain adalah kerukunan antarkabilah (dan dengan demikian juga antargolongan modern) yang berkelahi, dengan dorongan berbagai kepentingan, juga harga diri, yang semuanya bersifat dunawi alias sehari-hari.

Dari konteks dalam rangkaian , ayat ini merupakan satu unit bersama Q. 49: 9 sebelumnya: “Jika dua kelompok dari para mukminin berperang, damaikanlah mereka berdua. Sedangkan dari asbabun nuzul, kita ketahui bahwa, mengenai ayat ini, sepasang suami-istri bertengkar. Mereka berbeda kabilah. Lalu masing-masing dibela kabilahnya sendiri-sendiri, sampai ke tingkat perkelahian berombongan.

Atau juga, sebuah kerumunan orang, terdiri dari para mukmin, musyrik, dan Yahudi, bergumul gara-gara salah seorang kafir, Abdulah ibn Ubai ibn Salul, dengan sinis meminta Nabi s.a.w. menghentikan tablig yang sedang beliau berikan dan menyingkir – setelah onta beliau kencing. Mereka berkelahi, dengan terompah, kayu, segala macam, sepeninggal Nabi, sampai beliau terpaksa kembali untuk mendamaikan keadaan (Zamakhsyari, III: 563; Al-Khazin, IV: 167-168).

Tetapi yang lebih substansial tentu saja sabab yang menyangkut permusuhan lebih seabad antara kabilah-kabilah Aus dan Khazraj. Jadi, tak ada hubungannya dengan paham keagamaan. Untuk yang terakhir ini, rujukannya tidak kepada ayat ini, melainkan Q. 6: 159: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-memecah agama mereka sambil mereka bersyi’ah-syi’ah, engkau tidak termasuk mereka dalam apa pun juga.”  Adapun pembelaan kepada si muslim dalam kasus kejahatan yang diperbuat, semata-mata karena ia “satu saudara”, juga berada di luar wilayah ukhuwah islamiyah , karena pada hakikatnya ia adalah pelahiran ta’ashshub fanatisme golongan) yang hanya diberi alasan baru.

Yang jadi soal, memang,  sering ukhuwah itu  demikian kuatnya,  sehingga terkadang “dimanfaatkan”. Bahkan diyakini bahw persaudaraan karena agama acap kali lebih teguh dibanding yang karena nasab (garis keturunan), “karena persaudaraan nasab bisa putus akibat perbedaan agama, sementara persaudaraan agama tidak putus karena perbedaan nasab” (Qurthubi, XVI: 322-323). Ayat ini sendiri, untuk persaudaraan yang bukan karena keturunan itu, memakai kata ikhwah (yang kita salin dengan “satu saudara”, dengan arti “satu sama lain saudara” – atau, dalam ungkapan populer, “masih saudara”). Arti harfiah ikhwah sebenarnya adalah “saudara-saudara”. Ia jamak al-akh.         

 Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 22 Juli 1998      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka