Aktualita

Pesantren dan Kaderisasi Kepemimpinan

Written by Saeful Bahri

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang ada di negeri ini. Seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, banyak pesantren yang mampu mengimbangi perubahan, meski tak sedikit yang tergerus arus perubahan. Banyak yang masih bertahan, tak sedikit yang punah tertelan zaman. Beragam alasan dari sebab kemajuan dan kepunahan itu. Salah satunya soal kepemimpinan dan bagaimana pesantren mampu menyiapkan kadernya. Karena dari kaderisasi itu akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Banyak contoh pesantren yang bisa dijadikan teladan. Saya ajak Anda untuk melihat salah satunya.  Kita ke Gontor.

Tahun 2020 menjadi tahun duka cita bagi Pesantren Darussalam Gontor. Dua pemimpinnya berpulang keharibaan Allah SWT. Setelah kepergian KH. Syamsul Hadi Abdan, pada 25 Mei 2020, lima bulan kemudian menyusul KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, 21 Oktober 2020. Namun, tak berselang lama dari wafatnya Kiai Syukri, Badan Wakaf Gontor, sebagai lembaga tertinggi di pesantren itu, bermusyawarah dan telah memutuskan pemimpin baru, yakni KH. Prof. Amal Fathullah, KH.Drs. Akrim Mariat. Sebagai pendamping KH. Hasan Abdullah Sahal.

Gontor memang tak pernah kehabisan kader terbaiknya. Faktor inilah yang membuat Gontor tetap eksis diusianya yang telah memasuki kepala sembilan. Barangkali ini yang menjadi salah satu magnet, hingga menjadi daya tarik ribuan calon santri berlomba-lomba untuk dapat kesempatan menimba ilmu dan pengalaman di tempat itu.

Gontor telah tumbuh dan berkembang dengan belasan cabang yang tersebar di seantero negeri. Belum termasuk ratusan pesantren yang didirikan oleh alumninya, Gontor telah beranak pinak, bercucu dan bercicit. Alumninya tersebar di mana-mana, mengisi ruang-ruang yang beragam bentuknya.

Tidak banyak pesantren yang mampu meniru Gontor pada sisi kepemimpinan yang terbuka dan kolektif kolegial. Kebanyakan pesantren adalah imperium layaknya kerajaan pada abad klasik atau pertengahan. Meskipun tidak ada yang salah dari model kepemimpinan itu, masing-masing punya alasan yang bisa dimaklumi.

Namun, sejarah mencatat berapa banyak pesantren yang punah. Banyak sebab dari kepunahan itu, salah satunya adalah persoalan kepemimpinan. Kader penerus yang tidak mumpuni. Sementara kiai sebagai pemimpin, masih menjadi tolak ukur dan magnet yang menarik orang luar datang untuk belajar.

Kepemimpinan terbuka model Gontor, menjauhkan krisis kepemimpinan pada masa yang akan datang. Siapapun tentunya ingin lembaga yang dibangun mampu bertahan sampai kiamat datang. Karenanya penting menjaga kesinambungan agar dinamika perubahan zaman tidak membuat sebuah pesantren punah ditelan zaman.

Upaya Gontor untuk menjaga kesinambungan itu terumuskan dalam program jangka panjang, bagaimana menciptakan kader yang mumpuni untuk mengisi kebutuhan pesantren di masa yang akan datang.  Maka kepergian para pemimpin Gontor ke alam baka, tidak memengaruhi eksistensi pesantren. Mati satu tumbuh seribu.

Gontor patut dicontoh soal kaderisasi oleh pesantren dan lembaga-lembaga lainya. Sebagai upaya untuk bisa bertahan hidup di masa depan. Supaya tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. Kaderisasi yang dibangun berlandasakan visi dan misi yang terarah dan tepat sasaran.  Merekalah, para kader yang berasal dari rahim Gontor sendiri. Yang memahami nilai dan falsafah pesantren. Mereka didik, dibina, disekolahkan. Mereka akan menjadi kekuatan dengan totalitas pengabdiannya menjaga, melestarikan, dan memajukan pesantren. Ada darah ideologis yang kental melebihi darah biologis.

Saya jadi teringat dengan sebuah klub sepak bola asal Inggris, Manchester United. Salah satu filosofi klub ini adalah “Pemain yang Anda ciptakan, lebih baik daripada pemain yang Anda beli”. Lihatlah apa yang terjadi dengan klub ini. Suatu ketika mereka merajai benua Eropa. Sampai-sampai pemainnya menjadi legenda yang disebut dengan Angkatan 92, yang dikader dan disiapkan oleh Akademi United. Para kader itu adalah David Bechkam, Ryan Gigs, Paul Scholes, Gary, Nevil dan lainya. Mereka bermain dengan ideologi dan nilai-nilai filosofis United. Sehingga tertanam dalam diri mereka perjuangan dan pengabdian memajukan MU. Lalu, jika sekarang MU merosot ke papan tengah, ada yang bilang karena melanggar filosofinya sendiri, terlalu banyak membeli pemain daripada menciptakannya.

Meskipun urusan klub sepak bola berbeda dengan urusan pesantren, tapi ada sisi yang nyaris sama, yaitu soal manajemen dan kepemimpinan. Kiai tak ubahnya sebagai seorang coach, yang melatih, membuka, dan mengembangkan potensi anak asuhnya. Kiai di pesantren pun demikian, ia melatih dan mendidik santri dengan nilai dan falsafah hidup, sehingga santrinya siap untuk diterjunkan menjadi pemimpin-pemimpin baru.

Santri-santri itu melewati tangga-tangga kepemimpinan. Sampai kapasitas pengetahuan dan kepribadiannya mumpuni dan siap untuk memimpin. Para kiai yang menyadari bahwa hidupnya dibatasi usia, akan menciptakan pemimpin dengan sebaik-baiknya. Bukan membeli pemimpin dari luar lembaganya. Yang bisa jadi dari latar belakang yang sama. Tapi soal ideologi, orientasi, dan nilai-nilai bisa saja berbeda. 

Pesantren masa depan harus dibangun dan dimulai dari persoalan kepemimpinan. Serta bagaimana caranya supaya bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru. yang visioner, kuat, gigih, teguh, dan tangguh.  Sebab pesantren yang akan bertahan bukan pesantren yang hari ini punya kekuatan, tapi yang paling adaptif dengan perubahan. Salah satunya menyiapkan kader pemimpin. Karenanya masa depan pesantren dapat terdeteksi dari cara pesantren menyiapkan kadernya.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768