Jejak Islam

Mahkota Raja-Raja: Petuah Pemerintahan dari Bukhari Al-Jauhari (2)

Written by Panji Masyarakat

Pengarang Tajus Salatin memulai pembicaraan keadilan dari sebuah rumusan: “Jangan melakukan sesuatu terhadap orang lain apa yang engkau sendiri tidak mau melakukan terhadap diri sendiri.”

Ciri dan Kandungan

Kitab Tajus Salatin  disusun berdasarkan kompilasi 30 karangan  Arab dan Persia mengenai keagamaan dan politik, kebijakan kenegaraan dan sosial, sejarah dan etika, tasawuf dan kesusasteraan. Sekalipun merupakan kompilasi, keasliannya tidak berkurang. Tema pokoknya ialah tentang keadilan. Sebagaimana karangan penulis muslim klasik, buku ini dimulai dengan doksologi, puji-pujian kepada Tuhan. Pengarangnya jelas menguasai fikih, ushuluddin, tafsir, Alquran, ilmu hadis, tasawuf, adab, falsafah, dan sejarah. Ilmu-ilmu ini dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan Islam di dunia Melayu pada abad ke-16 dan 17 Masehi.

Adapun corak Persia-nya antara lain kentara dalam  hal: (1) Sisipan puisi berbentuk matsnawi , ghazal, ruba’i, dan menggunakan sajak (saj’);  (2) Buku-buku rujukan kebanyakan berasal dari  bahasa Persia; (3) Paham teologisnya campuran paham Asy’ariyah dan Maturidiyah. Maturidiyah berkembang di Asia Tengah dan menekankan pentingnya akal selain bimbingan wahyu  dalam mencari kebenaran. Sedangkan ajaran tasawuf yang dijadikan rujukan ialah ajaran Imam Al-Ghazali. Hal ini tampak dalam nukilan pasal yang menerangkan peri mengenai dunia; (4) Cerita dan tokoh-tokoh yang dikemukakan ada umumnya bercorak Persia. Pendek kata, secara keseluruhan, secara isinya memuat pandangan Sunni Tradisional tentang agama dan negara.

Pasal-pasal yang terdapat dalam buku ini menunjukkan kandungan isinya. Pasal 1 tentang perlunya manusia mengenal dirinya, yang dengan itu dapat mengenal Tuhan. Pasal 2 menguraikan peri mengenai Tuhan, kejadian alam dan Adam. Pasal 3 menerangkan hakikat dunia dan kedudukan manusia di alam semesta. Pasal 4 menerangkan akhir kehidupan manusia dan eskatolog Islam. Pasal 5 menerangkan pangkat kerajaan, kedudukan para hakim dan raja-raja. Pasal 6 menerangkan keadilan dan perbuatan adil.

Pasal 7 peri pekerti raja yang adil dan cerita mengenai raja-raja yang adil. Pasal 8 menguraikan raja-raja yang kafir tetapi adil di Persia dan Cina. Pasal 9 menerangkan arti zalim dan perbuatan zalim, disertai beberapa cerita. Pasal 10 peri keadaan menteri dan cerita-cerita para menteri yang mulia. Pasal 11 mengenai sekretaris dan pentadbir kerajaan. Pasal 12 tentang pekerjaan sekretaris negara. Pasal 13 peri segala bawahan raja dan duta. Pasal 14 mengenai pegawai tinggi. Pasal 15 pedoman memelihara anak. Pasal 16 bagaimana menghemat keuangan negara secara benar. Pasal 17 menyatakan syarat-syarat kerajaan.

Pasal 18 tentang ilmu kiafah dan firasah. Pasal 19 tentang tanda-tanda kiafah dan firasah. Pasal 20 tentang hubungan rakyat  dan kepala negara. Pasal 21 tentang hubungan rakyat kafir dengan raja Islam.  Pasal 22 tentang orang yang dermawan dan orang bakhil. Pasal 23 uraian tentang kesetiaan dan janji yang harus dipenuhi pemimpin. Pasal 24 penutup.           

Mengenai syarat-syarat kerajaan, Bukhari Al-Jauhari mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah. Menurut kisah Imam Abu Hanifah dicambuk oleh Khalifah Al-Mansur (754-775 M) karena tidak mau menerima jabatan qadi atau hakim agung di Kufah yang dilimpahkan kepadanya. Ia menolak jabatan itu karena Kerajaan Abbasiyah di bawah pemerintahannya tidak memenuhi syarat-syarat keadilan. Pertama, khalifah memperoleh kekuasaan melalui kudeta. Kedua, ia zalim dan korup, sering merampas hak rakyat. Begitu pula para qadi, gubernur dan mufti yang merupakan para pembantunya. Ketiga, Imam Abu Hanifah menuntut pemisahan kekuasaan eksekutif dan judikatif, yang tidak dipenuhi oleh Khalifah Al-Mansur.

Secara keseluruhan buku ini membicarakan keadilan, harga, diri manusia yang luhur, kebijaksanaan, dan sikap toleran kepada agama-agama lain. Menurut Braginsky 1998, kitab ini tepat pada waktunya ditulis. Wilayah yang ditaklukkan Aceh sudah cukup luas dan penduduknya bukan saja terdiri dari orang Melayu beragama Islam, tetapi juga orang-orang non-Melayu yang menganut kepercayaan Shamanisme, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu

Bukhari Al-Jauhari berharap melalui bukunya itu dapat melembutkan perangai raja-raja dan pembesar Aceh yang telah memerangi musuh-musuh mereka dengan cara yang kejam. “Jangan melakukan sesuatu terhadap orang lain apa yang engkau sendiri tidak mau melakukan terhadap diri sendiri.” Dari rumusan inilah pembicaraan keadilan dimulai oleh pengarang Tajus Salatin

Bersambung

Penulis:  Prof. Dr. Abdul Hadi WM., penyair, kritikus sastra, dan dosen estetika dan sejarah kebudayaan Islam d Universitas Paramadina,Jakarta. Sumber: Majalah Panjimas, 09-22 Januari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda