Adab Rasul

Rasulullah Lebih Dulu Mengucapkan Salam dan Mengulurkan Tangan. Kita?

Sudahkah kita sambut salam dan doa sahabat? Masak sih  nggak mau didoakan?

Seorang ibu anggota Jemaah Pengajian  An-Nisa di kediaman kami, bertanya bagaimana menyikapi tetangga yang tidak mau membalas ucapan salam. Pertanyaan seperti ini bukan pertama penulis terima. Juga pertanyaan mengapa teman-teman media sosial jarang yang mau membalas salam dan doa. Mengapa dikirim doa kok tidak pada mau menjawab?

Sebelum mengupas lebih lanjut, ijinkan penulis mengisahkan bagaimana sikap Kanjeng Nab Muhammad saw. dalam bersilaturahmi dan bertegur sapa. Muhammad Husain Haekal dalam Hayat Muhammad  menulis, Rasulullah apabila mengunjungi sahabat-sahabat duduk di mana saja ada tempat yang terluang. Ia bergurau , bercakap-cakap, bergaul dengan mereka.  Anak-anak mereka pun diajak bermain dan didudukkan dipangkuannya.

Dipenuhinya undangan yang datang dari orang merdeka atau dari si budak dan si miskin. Dikunjunginya orang yang sedang sakit, termasuk yang jauh di ujung kota. Orang yang datang minta maaf dimaafkan, dan luar biasa, dengan rendah hati Baginda Rasul memulai memberi salam kepada orang yang dijumpainya. Bahkan ia yang lebih dulu mengulurkan tangan menjabat sahabat-sahabatnya. Baik hati ia kepada setiap orang dan selalu senyum.

Dalam rumahtangga, Rasulullah ikut memikul beban keluarga, ia mencuci dan menambal pakaian , memerah susu kambing, menjahit terompahnya, menolong dirinya sendiri dan mengurus unta. Ia mengurus  keperluan orang yang lemah, yang menderita dan orang miskin.

Beliau sangat rendah hati, selalu memenuhi janji. Tatkala ada sebuah delegasi dari pihak Nasrani datang, dia sendiri yang melayani, sehingga para sahabat menegur mengingatkan, “sudah cukup ada yang lain.”

Demikianlah utusan Allah yang mulia ini , telah mengajarkan kepada semua umat Islam sehingga pasti tahu ucapan,  “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, yang artinya “Semoga kedamaian, rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada anda”. Ucapan salam yang merupakan doa tersebut menjadi kebiasan dan ciri khas umat Islam, mematuhi ajaran Kanjeng Nabi Muhammad saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah sebagai berikut: “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan yang bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian”.

Jika kita kaji secara cermat, hakekat dan tujuan menyebarkan salam yang dilandasi keimanan itu adalah untuk saling mencintai. Kata saling berarti ada dua pihak yang melakukan hal yang sama terhadap satu sama lain. Ibarat bertepuk tangan, tak mungkin dilakukan hanya dengan satu telapak tangan, melainkan harus dengan dua telapak tangan.

Demi terwujudnya suasana serta hubungan saling mencintai maka salam atau kedamaian – rahmat dan berkah itu harus diamalkan, dikerjakan sebagai perilaku menjadi perbuatan dan tindakan yang saling dipertukarkan. Bukan hanya sekedar diucapkan dan satu arah, tetapi timbal balik dua arah. Yang satu mengucapkan lebih dahulu, yang lain membalasnya atau boleh jadi bersamaan, sebagaimana firman-Nya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa),” (QS. An Nisa’: 86).

Bagaimana bila tetangga atau teman yang kita beri ucapan salam tidak membalas seperti pertanyaan di atas? Ini memang dilema  dalam kehidupan nyata. Jawabannya tidak bisa dipukul rata. Kalau yang kita hadapi anak-anak, mungkin lebih mudah mengajarinya. Namun terhadap orang dewasa, tentu harus bijaksana. Tetapi yang paling mudah adalah sabar dan jangan bosan untuk selalu menyapa lebih dulu serta memberi salam. Sekaligus mendoakan pula agar yang bersangkutan diberi hidayah.

Kanjeng Nabi saw. bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuan saudaranya itu mustajab. Di atas kepala orang itu ada malaikat yang mencatatnya (malakun muwakkal). Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat tersebut mengucapkan amin (semoga Allah mengabulkan) dan untukmu juga seperti itu,”(HR Muslim)

Ini sekaligus menjawab keluhan kedua, tentang salam dan doa melalui media sosial yang kurang direspon teman. Ini pun sebuah dilema. Penulis misalkan,  diajak oleh sejumlah sahabat untuk ikut dalam lebih 50 grup Whats App. Sudah keluar diundang lagi, diundang lagi. Tentu saja tidak mungkin bisa membaca semua pesan yang dalam sehari kadang-kadang bisa sampai belasan ribu, yang berdampak pada beban memori ponsel. Akibatnya lebih banyak dihapus daripada dibaca, apalagi dibalas.

Repotnya pula, ada orang-orang yang rajin mengirim pesan membangunkan salat tahajud, ucapan salam dan sejenisnya, yang tak jarang berupa share atau copy paste  video dan gambar dari orang lain, yang juga pasti akan membebani memori hape, dan tidak secara orisinal dibuat sendiri khusus untuk yang dituju. Bahkan mungkin ucapan tersebut dikirim secara mesin dan dikirim massal ke seluruh nomer kontak yang dimiliki.

Di situ terjadi pilihan sulit. Maksud hati memeluk gunung dengan membalasnya, namun apa daya tangan tak sampai. Membaca seluruh kiriman pesan pun tak mampu. Benarkah kita sungguh tidak dapat membaca dan membalas semua kiriman salam dan doa. Seluruh pesan digital? Jawabannya tergantung pada diri kita sendiri.

Untuk hal yang seperti itu, sebaiknya kita mawas diri, mencoba menempatkan diri baik sebagai pengirim ataupun penerima. Apa niat melakukan itu. Apakah agar orang lain mengetahui kita salat tahajud, mengetahui kita orang yang peduli terhadap sesamanya? Jika ini yang terbersit dalam hati, maka berarti ujub-riya, sehingga jangan dilakukan. Ataukah kita ingin mengajarkan agar orang lain melakukan seperti itu. Ini pun mesti dikaji lebih dalam. Tepatkah cara dan orang yang kita tuju? Jangan-jangan bagai mengajari ustadz belajar mengaji. Yang jelas, penulis tidak menganjurkannya, namun lebih memilih mendoakan diam-diam dalam rangkaian doa sesudah salat wajib, minimal sehabis salat subuh, atau kapan saja teringat sahabat-sahabat kita.

Sahabatku, Rasulullah saw dalam buku Fikih Sunnah  karya ulama fikih terkenal dari Mesir Sayyid Sabiq berkata, ”Sesungguhnya Allah mengampuni umatku dari dosa yang dilakukan karena kesalahan, kelupaan, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.”

Kita sendiri yang secara jujur tahu, apakah kita sungguh tidak mampu membalas, abai, sombong, tidak menganggap ada manfaat doa orang lain atau bagaimana. Sebenarnya amat sayang salam dan  doa yang dikirim kepada kita, baik secara khusus, serius atau pun sekedar basa-basi era milenial, tidak kita aminkan, tidak kita sahut dengan doa agar dikabulkan Allah, dan tidak kita balas dengan mendoakannya kembali. Maka menurut hemat penulis kembali pada hal ketakberdayaan tadi.

Namun selama kita masih tetap bisa berkomunikasi, baik langsung maupun hanya sekedar melalui media sosial, tentu ada pertimbangan akal sehat dan kemampuan kita mengelola komunikasi, misalkan jaringan pribadi atau dalam grup-grup kecil yang terbatas dan ditulis secara khusus. Untuk yang seperti ini penulis berusaha tidak menyia-nyiakan hadiah ucapan salam serta doa dari sahabat. Terlalu sayang doa buat kita dibiarkan mubazir, sia-sia tidak kita syukuri dengan mengaminkannya. Terlalu sayang pula kesempatan membuat pahala dengan membalas mendoakannya, tidak kita pergunakan.

Mendoakan ampunan, rahmat dan kebaikan bagi sesama muslim merupakan hal yang sangat penting; bahkan sebagian besar ulama mengajarkannya menjadi adab dalam berdoa. Bila seorang mukmin berlaku demikian terhadap saudaranya, maka Allah SWT pun akan menjadikan saudaranya turut mendoakannya. Dan seorang Muslim mendapatkan manfaat dengan doa saudaranya yang muslim, baik ia masih hidup maupun telah meninggal.

Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda