Tasawuf

Melihat Rahasia – Rahasia Tuhan

Written by A.Suryana Sudrajat

Sebagaimana telah disebutkan dalam tulisan terdahulu (Saat Cinta Bergelora di Hati Sufi), orang-orang yang telah membersihkan dirinya melalui serangkaian ibadat akan melewati berbagai stasiun-stasiun guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Stasiun pertama untuk membersihkan diri adalah tobat (taubah). Sampai akhirnya ia mencapai stasiun yang lebih tinggi yaitu mahabbah. 

Salah seorang tokoh sufi yang terkenal dengan munajat cintanya  kepada  Tuhan adalah Rabi’ah Al-Adawiyah. Ia mengatakan, “Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang  kepada-Mu. Engkau harapanku, kebahagiaan dari kesenanganku. Hatiku telah engga mencintai selain Engkau.”

Begitulah, setelah cintanya yang tulus itu kepada Tuhan, Rabi’ah pun sampai ke stasiun berikutnya setelah mahabbah. Yakni ma’rifah atau makrifat, sebagaimana tergambar dalam syairnya berikut ini:

Kucintai Engkau dengan dua cinta,

Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu

Cinta karena diriku,

Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu

Cinta kepada diri-Mu,

Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab

Tiada puji bagiku untuk ini dan itu

Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua

Jika mahabbah menggambarkan hubungan yang rapat dengan Tuhan dalam bentuk cinta, ma’rifah menggambarkan hubungan dalam bentuk gnosis, bagaimana sang sufi melihat atau mengetahui Tuhan dengan mata hatinya. Ma’rifah secara etimologi berarti pengetahuan. Sedangkan dalam istilah tasawuf ia merupakan pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. Pengetahuan ini lazim disebut “ilmu laduni” (‘ilm ladunni). Ma’rifah berbeda dengan ‘ilm atau pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal.     

Seperti dikatakan Harun Nasution, seorang sufi berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan, bukan melalui akal yang berpusat di kepala, melainkan qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Kalbu mempunyai tiga daya. Pertama, daya untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb: Kedua daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. Kata Pak Harun, sirr merupakan daya terpeka dari kalbu. Daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. “Dalam bahasa sufi, jiwa tak ubahnya sebagai kaca, yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Demkian juga jiwa, makin lama dia disucikan dengan ibadat yang banyak, makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya, sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan.”

Melihat rahasia-rahasia Tuhan, dan mengetahui peraturan-peraturan tentang segala yang ada, itulah yang disebut Imam Al-Ghazali sebagai makrifat. Tidak jauh berbeda, Al-Qusyairi menyebut ma’rifah sebagai sifat dari orang-orang yang mengenal  Allah, melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, berlaku tulus kepada Allah dalam muamalatnya, kemudian menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah dan cacat, memutus segala kotoran jiwanya, dan tidak mencondongkan pikirannya kepada apa pun selain Allah.  Ia juga senantiasa abadi dalam sukacita bersama Allah dalam munajatnya.

Kata Dzun Nun Al-Mishri, seseorang yang memperoleh ma’rifah, itu tak lain berkat kemurahan Tuhan. Sekiranya Tuan tidak membukakan tabir dari mata hatinya, maka ia tidak akan  dapat melihat Tuhan. “Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan, dan sekiraya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan,” kata Dzun Nun, ketika ditanya bagaimana ia memperoleh makrifat.

“Sufi berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan dari bawah, dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Atau , makrifat datang ketika cinta sufi kepada Tuhan dari bawah dibalas Tuhan dari atas.” Yang ini kata almarhum Harun Nasution, yang semasa hidupnya gencar mempromosikan rasionalisme Muktazilah di lingkungan perguruan tinggi Islam, dan di akhir hayatnya menjadi pengikut tarekatnya Abah Anom Suryalaya, Tasikmalaya.      

 Bersambung   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka