Bintang Zaman

Syah Waliyullah (2): Masuk Tarekat dan Belajar di Tanah Suci

Written by Panji Masyarakat

Selain menjalani kehidupan tasawuf, Syah Waliyullah secara intensif mempelajari pengetahuan agama, baik di Delhi maupun ketika bermukim di Mekah dan Madinah selama 14 bulan. Di kampung halaman ia berkontemplasi di kuburan ayahnya, sedangkan di Tanah Suci ia melakukan perenungandi Ka’bah dan makam Rasulullah.

Syah Waliyullah lahir di Delhi, India, pada 1703. Menurut pengakuannya, dari garis ayahnya ia masih terhitung keturunan Umar ibn Khattab, sedangkan dari jalur ibu, ia termasuk dalam garis keturunan Ali ibn Abi Thalib, sahabat dan menantu Nabi s.a.w.

Ayahnya, Syah Abdul Rahim, adalah seorang ahli fikih dan sufi yang mengikuti berbagai tarekat. Menjelang usia tujuh tahun, Walyullah  telah menamatkan Alquran. Menjelang umur 10 tahun ia telah mampu menelaah sendiri buku-buku dalam bahasa Arab dan Persia. Pada usia 15 tahun ia telah mengkaji, sebagian atau sepenuhnya, semua bacaan wajib dalam hadis, tafsir, fikih ilmu kalam, tata bahasa Arab, tasawuf, kedokteran, dan matematika yang diajarkan di madrasah pada waktu itu. Abdul Rahim kemudian memasukkannya ke dalam aliran tarekat Naqsyabandiyah, tetapi segera setelah itu dia wafat.

Setelah itu, Syah Waliyullah mengabdikan waktunya, kurang lebih 12 tahun, untuk melakukan studi intensif tentang pengetahuan agama dan umum, serta membentuk sendiri pemikirannya. Pada saat yang sama dia menjalani kehidupan tasawuf (suluk) dan berkontemplasi di kuburan ayahnya hingga, seperti pengakuannya sendiri, pitu tauhid dibukakan untuknya, dan ide-ide mulai tertuang di dalam hatinya.

Pada 1730, dalam usia 27 tahun, Waliyullah berangkat menunaikan ibadah haji. Kemudian ia  menghabiskan waktu selama 14 bulan di Mekah dan Madinah untuk melakukan studi intensif tentang kitab-kitab hadis antara lain Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Turmudzi, Sunan Ibn Majah, Muwaththa’ Imam Malik, MusnadAhmadibn Hanbal, Risalah Asy-Syafi’i, Jami’ul Kabir, Al-Adab al-Mufrad, Musnad Darami, dan bebeapa bagian dari kita Syifa’. Dia juga menjalankan meditasi di Baitullah Ka’bah dan makam Nabi s.a.w. Ide-ide yang datang kepadanya melalui meditasi ini dia rekam dalam sebuah buku, Fuyud al-Haramain (Pancaran Dua Kota Suci).

Di antara guru-gurunya di Hijaz tang terkenal keulamaannya, tersebut Syekh Abu Tahir al-Kurani, yang salah seorang muridnya menjadi guru Muhammad ibn Abdil Wahab. Abu Tahir al-Kurani dan ayahnya Ibrahim al-Kurani adalah dua ulama Haramain yang reputasinya tersohor di mata para pelajar dari Nusantara. Tidak kurang dari Abdul Rauf Sinkel (wafat pada 1693) dan Muhammad Yusuf al-Maqassari yang namanya meleganda sampai Afrika Selatan itu (wafat 1699), dua tokoh neosifisme Nusantara pada abad ke-18, berguru kepada Ibrahim al-Kurani.     

Bersambung

Penulis: Irfan Abubakar,  dosen Fakultas Adab dan Humaniora uin Syarif Hidayatullah Jakarta, direktur Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Sumber: Panji Masyarakat, 30 September 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka