Tafsir

Tafsir Tematik: Memecahkan Perpecahan (4)

Written by Panji Masyarakat

Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah anugerah Allah kepada kamu ketika kamu satu sama lain musuh, maka Allah merangkai hati kamu dan jadilah kamu berkat karunia-Nya sesama saudara. Sedangkan kamu berada di tubir lubang neraka, maka Ia pun mengentaskanmu darinya. Demikian Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu menambil  petunjuk. (Q. 3: 103).

Dinding Identitas

Adapun yang lebih cocok untuk pembicaraan tentang aliran-aliran di atas kiranya Q. 30: 31-32:  “… dan jangalah kamu termasuk mereka yan musyrik – mereka yang memecah-mecah agama mereka lalu menjadi  bersyi’ah-syi;ah (syi’ah: kelompok pengikut); setiap kelompok membanggakan apa yang ada pada mereka.” Dengan kata lain, mereka menjadikan agama mereka berbagai agama (Thanthawi: XV: 75). Maka, kalaupun ayat “tali Allah” hendak dilihat dari jurusan ayat “bersyiah-syi’ah” ini, memang, seruan i’tisham (berpegang kuat ) pada ‘tali Allah’ itu berarti seruan kepada Alquran, atau jamaah, tanpa mengingat batas-batas pinggir yang sudah mereka tegakkan demi identitas.

Tiba-tiba di situ orang bertanya: tidakkah predikat syi’ah pada Islam Syi’ah (buku Thabathaba’i: The Shite Islam) bukan dinding identitas yang dengan sadar dibikin untuk membangun (bahkan meneguhkan, selalu harus meneguhkan) “sesuatu yang lain”, yang akan menghalangi setiap kemungkinan menyatu, meski itu hanya kemungkinan teoretis. Bahkan juga doktrin kelompok-kelompok keagamaan kita: ‘Aswaja’,  misalnya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah versi NU, kalau bukan juga “Kemuhammadiyahan’.

“Memecah agama menjadi agama-agama “ ialah, kita pahami, memberi wadah perbedaan pandangan, yang memang sah, dalam sebuah organisasi yang juga sah, tapi kemudian mengekalkannya dengan semen teologis, dan meneguhkannya dengan egoisme kolektif. Perubahan menjadi hampir tidak mungkin: dinding identitas adalah perwujudan dari yang dalam ayat disebut “apa yang ada pada mereka”, yang mereka banggakan, dan yang karenanya tidak boleh hilang.

Itu  sama dengan bila kita mengulang-ulang mantra “Kebudayaan Indonesia yang luhur” – dan mengaku ingin tetap memeliharanya, walaupun banyak bagiannya sudah tidak laku. Sekiranya kenyataan lapangan misalnya menunjukkan gerak mendekat di dalam agama, ke arah hablullah, ‘tali Allah’ yang satu, dengan meninggalkan semangat bersyi’ah-syi’ah lebih dari sekadar organisasi, bukankah dinding-dinding itu lalu menempati posisinya yang absurd? Ini hanya sebuah pertanyaan laten, yang bisa kiranya, dengan sabar, dibiarkan sekadar melintas, dan melintas, dan melintas dalam pikiran. Selanjutnya Wallahul Muaffiq.

Adapun kalau ayat ‘tali  Allah’ akan dibwa ke konteks di luar masa turunnya, yang bisa dipakai dari Abduh adalah sinyalemennya tentang perselisihan dalam perkara muamalah – yang dalam situasi aktual bisa lebih mencuat, dan lebih berbahaya, daripada perbeda-bedaan doktrinal keagamaan yang sering hanya dianggap “hanya akademis”. Abduh tentu saja benar waktu mengatakan bahwa termasuk ke dalam pengertian ‘muamalah’ adalah masalah-masalah politik dan kenegaraan. (Lih. Rasyid, IV: 25). Dan itu sebuah diskusi yang lain.[]           

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 24 Juni 1998      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka