Pengalaman Religius

Shahnaz Haque (5): Masuk Surga Sebelum Mati

Written by Asih Arimurti

Kalau mau masuk surga sebelum meninggal, kamu mesti memiliki hati yang bersyukur. Karena dengan hati yang bersyukur, kamu bisa memasuki surga Allah sebelum kamu mati.

Orangtua saya [Allen Haque dan Mieke Haque, red] selalu mengajarkan agama dengan sederhana tapi banyak seginya. Pertama, harus dekat dengan Tuhan. Kedua, harus dekat dengan dan berpihak kepada orang-orang miskin, sekarang saya mengerti, mengapa saya harus berpihak kepada orang-orang miskin. Pengalaman menjadi aktivis LSM mungkin adalah salah satu buahnya. Berpihak bukanlah hanya menyantuni, mengasih infak memberi sedekah, lalu selesai. Bukan itu. Tapi kita ada di dunia mereka. Untuk apa? Menurut saya untuk keseimbangan supaya saya tidak besar kepala.

Dari anjuran-anjuran orangtua pula, saya diajarkan supaya tidak banyak mengeluh kepada Tuhan. Malu, kalau kita mengeluh. Bagaimana saya mau bilang, “Aduh Tuhan, gimana nih, gila, cicilan mobil belum lunas-lunas.” Sementara, saya tahu sendiri ada sebuah keluarga dengan lima anak hidup di dalam satu rumah petak berukuran 2×3 meter. Bisa dibayangkan, mau tidak mau, mereka mengetahui aktivitas seksual orangtua mereka, misalnya. Itu kan luar biasa.

Mungkin perasaan seperti itu adalah refleksi sikap beragama juga. Buat saya, ap yang Alah SWT berikan, lebih dari seribu kali dibanding mereka. kenapa saya bisa selamat dari kanker tahun 1991 ditambah saya menikah. Atau selamat tidak menjadi berandalan.

Lalu Allah SWT memanggil kedua orangtua saya. Semua itu kan cobaan. Dan itu, suka-sukanya Tuhan-lah. Karena Tuhan yang sesunguhnya pemilik ibu dan bapak saya, lalu Dia panggil meskipun saya masih membutuhkan mereka. Tuhan yang punya angota tubuh saya. Tuhan yang mau ambil, ya, suka-sukanya Tuhan.

Jadi, kalau dikasih ini atau itu, ya, sudahlah. Memang Alah kasih jalannya begini. Paling Cuma menangis sebentar. Tidak lama. Setelah itu, ya sudah, jalani lagi. Kalau hati ikhlas, perasaan tidak enaknya itu tidak lama. Langsung dikasih jalan keluar.

Sekarang, permintaan saya kepada Allah hanya  satu. Ingin masuk surga. Setiap berdoa saya bilang, “Allah saya mau masuk surga.” Sekarang mau apa lagi? Ada. Anak punya. Rumah, pakaian, mobil, semua sudah ada. Mau minta lagi, minta lagi, sepertinya kurang ajar. Dan sejak saya belajar tasawuf, saya diajarkan bahwa, “Naz, kalau mau masuk surga sebelum meninggal, kamu mesti memiliki hati yang bersyukur. Karena dengan hati yang bersyukur, kamu bisa memasuki surga Allah sebelum kamu mati.”

Dalam hatiku, benar juga tuh. Bersyukurlah dengan dua mata yang tidak buta. Bersyukurlah dengan dua kaki yang tidak diamputasi. Bersykurlah dengan ini, bersyukurlah dengan itu. Dengan adanya rasa syukur ini, saya merasa hidup saya sangat nyaman. Penuh kedamaian. Dan bukanah itu surga? Tidak ada ambisi mesti begini, dan harus begitu.

*Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 13-25 Desmber 2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566