Mutiara

Membebaskan Jutaan Anak dari Buta Alquran

Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai As’ad Humam, pengarang buku saku Iqro yang dibaca jutaan orang sampai ke Amerika, disebut pahlawan penjaga kelestarian Alquran. Dari mana ia memperoleh metode pembelajaran Alquran? 

Siapa yang tidak kenal  Iqro? Ini buku  metode belajar membaca Alquran. Hampir dipastikan buku  ukuran saku ini yang yang paling populer di antara buku sejenis. Tidak hanya di Indonesia, metode Iqro ini juga populer di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Arab Saudi, bahkan Amerika. Lembaga pengajian yang menggunakan metode Iqra ini dikenal dengan nama TPA (Taman Pendidikan Alquran).  Penyusunnya adalah KH As’ad Humam yang fotonya menjadi latar belakang gambar sampul belakang.  Ia juga perintis pembentukan Badan Koordinasi Pengajian Anak-Anak (BAKOPA). Ia, seperti dikatakan Menteri Agama Tarmizi Taher  saat itu, adalah pahlawan penjaga kelestarian Alquran dan pahlawan yang telah membebaskan jutaan anak Indonesia dari buta Alquran. “Berkat hasil karyanya ini jutaan anak muslim Indonesia dengan mudah belajar membaca  Alquran,” katanya.

As’ad Humam mulai mengembangkan metode Iqra sejak akhir tahun 1953. Saat itu ia mendirikan Persatuan Pengajaran Anak-anak Kotagede dan sekitarnya (PPKS).  Kemudian pada tahun 1963,  ia mulai menjalin hubungan dengan aktivis pengajian anak-anak di Kotamadya Yogyakarta dan sekitarnya di Badan Koordinasi Pengajian Anak-anak (BAKOPA).

Pada  tahun 1973 As’ad Humam bertemu dengan K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, rekan bisnis ayahnya yang membuka praktik pijat. Kebetulan K.H. As’ad Humam pun gemar dengan pemijatan. Dari perkenalan dengan ini ia mengenal metode belajar Alquran dengan nama qiroati. Tahun 1975, K.H. As’ad Humam menggunakan metode qiroati yang disusun K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang untuk mengajar membaca Alquran.

Kemudian metode qiroati ini dicoba untuk dikembangkan oleh K.H. As’ad Humam supaya lebih mudah dalam  mengajar cara membaca Alquran Metode hasil pengembangannya ini dia terapkan sebagai eksprimen dalam mengajar membaca Alquran. Hasil eksperimen tersebut ia catat kemudian dan menyertakankannya dalam usulan yang diajukan kepada K.H. Dachlan Zarkasyi untuk pengembangan metode qiroati.

KH. As’ad Humam

Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, karena menurutnya qiroati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah membuat mereka berdua berselisih paham. Pada tahun 1983, K.H. As’ad Humam bertemu dengan beberapa pemuda yang peduli dan menaruh perhatian mengajar membaca Alquran di berbagai pengajian anak-anak. Anak-anak muda tersebut berhimpun dalam satu wadah yang diberi nama Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Tim Tadarus AMM). Kemudian K.H. As’ad Humam merumuskan metode belajar Alquran sendiri yang dia bernama Iqro.

Pada  28 Oktober 1990 ia mendirikan  sebuah lembaga yang mengkoordinasi gerakan TKA-TPA dengan nama Badan Koordinasi TKA-TPA (BADKO TKA-TPA) Propinsi DIY yang mewadahi seluruh TKA – TPA dan MDA (Madrasah Diniyah Alquran) di Propinsi DIY. Perkembangan ini menggairahkan umat Islam untuk mengembangkan metode belajar membaca Alquran di Indonesia. Dari data pada Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Lembaga Pengajaran Tartil Quran (LPTQ) Nasional di Yogyakarta, tercatat pada tahun 1995 di seluruh Indonesia kurang lebih telah tumbuh unit-unit TKA-TPA sebanyak 30.000 unit dengan santri mencapai enam juta anak.

As’ad sendiri mulai belajar membaca Alquran kepada ayahnya, H. Humam Siradji. Ketika remaja, As’ad Humam belajar Alquran beserta tajwid dan dasar-dasar ilmu agama pada kakak iparnya, Kiai Su’aman Habib Ia juga belajar agama di lembaga pendidikan seperti di Masjid Syuhada Yogyakarta, Masjid Besar Kauman, serta di beberapa pondok pesantren. Perjalanan dari rumahnya dari Kotagede ke tempat pengajian di Gedongkiwo, sekitar tujuh kilometer. Dengan sepeda motor kecil ia berangkat dari rumahnya sebelum subuh untuk ikut mengaji Alquran  setelah shalat subuh. Selepas mengaji, ia menumpang mandi di masjid, kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolahnya di Sekolah Guru bagian Agama (SGA),  Muhammadiyah, Gedongkiwo Yogyakarta. Di sekolah ini ia tidak tamat, karena terserang penyakit pengapuran tulang belakang. Ia harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, selama satu setengah tahun. Ia juga pernah menjadi santri kalong (santri yang tidak bermukim di pondok) di Pesantren Al-Munawir, Krapyak, Yogyakarta yang didirikan oleh K.H. Munawir. 

Ia terdorong menyusun buku metode membaca Alquran antara lain  karena persentase generasi muda Islam yang tidak mampu membaca Alquran meningkat; lembaga pengajaran Alquran belum mampu mengatasi masalah tersbut; dan metode pengajaran membaca Alquran yang selama ini diterapkan di Indonesia, khususnya metode Juz Amma (Qowaidul Baghdadiyah), sudah saatnya disempurnakan.

Pada  2 Februari 1996 sang penemu metode Iqro wafat dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dishalatkan di Masjid Baiturahman Selokraman Kotagede Yogya tempat ia mengabdi.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka