Muzakarah

Dikubur Ala Agama Lain

Saudara Moses Gatutkaca, demonstran yang mati tertembak di Yogyakarta, dulunya seorang Kristen , tetapi kemudian masuk Islam. Dari media massa yang saya baca, keluarganya tetap menggelar serangkaian upacara kematian menurut agama Kristen. Ia ditempatkan di dalam peti, memakai jas dan dasi, lalu dikubur di pemakaman Kristen. Tetapi sebelum dikubur, penduduk setempat ramai-ramai menyalatinya karena mereka tahu Moses seorang mualaf. Pertanyaan saya, sudah gugurkah fardhu kifayah dari penduduk setempat,  dengan hanya menyalatinya? Apakah makamnya harus digali lagi?

Suroto (Solo, Jawa Tengah)   

Jawaban K.H Ali Yafie:  

Persoalan ini, Saudara Suroto, patut mendapat perhatian karena sudah dua kali saya mendengarnya. Yang pertama, dua tahun lalu (terhitung dari Juni 1998. Beberapa tahun lalu kasus serupa juga terjadi ketika seorang artis perempuan wafat dan diperebutkan oleh keluarganya agar jenazahnya diurus secara Kristen,  karena mereka meyakini dia belum pindah agama. Padahal almarhumah  telah mengikuti agama suaminya yang muslim, red).

Mayat seorang muslim memang harus dimandikan, dikafani (dengan pakaian atau kain putih yang menutup seluruh tubuhnya), disalati,  dan dikuburkan di kompleks pemakaman muslim, dengan wajah menghadap kiblat. Sebaiknya ia ditidurkan begitu saja di atas tanah, tanpa peti, kecuali jika tanahnya berair.

Rasulullah s.a.w. selalu melakukan rangkaian upacara itu sehingga para ulama menyepakati kewajibannya. Lebh tepat lagi, ke-fardhu kfayah-annya. Ada banyak sabda Nabi yang dijadikan landasan dalil. Antara lain: “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara (biar wangi, red) dan kafanilah ia dengan dua pakaiannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Ini beliau ucapkan ketika seorang muslim jatuh dari unta, lalu meninggal. Perintah beliau untuk menyalati jenazah dan mengantarnya sampai kuburan cukup kuat dan banyak. “Tidaklah seorang mayat yang disalati oleh sekelompok muslim yang mencapai 100 orang, dan semuanya memintakan ampun, kecuali ia dan mayat itu) diampuni Allah.” (HR Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan Tirmidzi). “Menyuruh kami Rasulullah,’ kata sahabat Al-Barra, “agar mengantar jenazah (hingga dikubur), menjenguk orang sakit… “(HR Bukari, Muslim, dll).

Bagi Islam, kematian bukanlah akhir,  Saudara Suroto, tetapi awal. Seorang yang mati itu sedang menempuh sebuah perjalanan yang abadi, menuju dunia yang sebenarnya. Menjadi kewajiban orang yang masih hidup untuk menghormati – seperti layaknya orang hidup – mendandani, dan menyiapkan segala persiapan lalu mengantarnya. Tak ubahnya melepas orang yang hendak melakukan perjalanan jauh, yang adung. Bahkan, Rasulullah s.a.w. memerintahkan kita untuk mengafaninya dengan pakaian atau kain yang baik, dan rapi pula. Sabda beliau, ‘Jika salah seorang dari kalian mengafani saudaranya maka hendaklah ia mengafani dengan baik.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud). Namun tidak dengan yang mahal kaena pakaian itu toh akan musnah. Mubazir.

Kalau ada yang tahu, kita kembali ke soal Moses, dan yakin mendiang tidak keluar dari Islam hingga akhir hayatnya, menjadi kewajiban penduduk setempat untuk melakukan rangkaian upacara Islam secara keseluruhan, secara tuntas. Kalau telanjur dikubur secara Kristen, mayat itu mesti diambil, digali kembali kuburnya. Dalam fikih Islam, bahkan kalau ada mayat muslim yang telanjur dikubur sebelum dimandikan, kuburannya harus digali untuk dimandikan. Kalau mayat Moses masih utuh, ia harus dimandikan, dikafani, disalati, lalu dikuburkan dengan menghadap kiblat di kompleks pemakaman muslim. Kalau mayatnya sudah rusak, itu darurat namanya. Cukup dipindahkan ke kompleks pemakaman muslim.

Tentu, karena ini negara hukum, tidak mungkin mereka melakukan itu secara sepihak. Mereka harus memberi tahu keluarganya akan keberatan mereka dan menjelaskan duduk masalahnya. Jika mereka menolak, penduduk mesti melakukan upaya hukum, mengajukan perkara itu ke pengadilan.

Keyakinan orang kan harus dilindungi oleh hukum. Ini bukan hanya berlaku buat bekas kristiani yang masuk Islam, tetapi juga mantan muslim yang masuk Kristen.

Ahasil, menyalati saja tidak cukup. Fadhu kifayah belum gugur dari penduduk lingkungan Moses. Mereka pun tetap berdosa karena membiarkan upacara pemakaman secara Kristen terjadi dan tidak menggugat ke pengadilan.

Moses sendiri tidak menanggung dosa apa pun, tentu saja. Karena dia tidak tahu akan diperlakukan seperti apa. Dan sudah tidak mukallaf  (memikul kewajiban) lagi. Lagi pula, ini perlu digarisbawahi, pengurusan secara Islam itu hak buat dia, bukan kewajiban. Dengan atau tanpa wasiat, ia berhak mendapatkannya.       

*Prof. KH Ali Yafie,  Ketua Dewan Penasihat Panji Masyarakat. Pernah menjabat Ketua MUI Pusat (1990-2000), pejabat sementara Rais Aam PBNU (1991-1992), setelah sebelumnya menjabat wakil Rais Aam dari tahun 1989. Sumber: Panji Masyarakat, 10 Juni 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda