Pengalaman Religius

Shahnaz Haque (4): Mengurus Korban Narkoba dan HIV/AIDS

Written by Asih Arimurti

Berpihak kepada orang-orang miskin, bukan hanyalah menyantuni, mengasih infak, mengasih sedekah, lalu selesai. Bukan itu. Tapi, kita ada di dunia itu. Untuk apa? Untuk keseimbangan supaya kita tidak besar kepala.

Waktu muda, saya berteman dengan orang yang baik sampai yang jahat. Itu sebabnya mengapa saya giat di LSM, mengurus anak-anak korban narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba). Saya mau jadi penyuluh masyarakat dan mentor untuk anak-anak korban narkoba karena saya tahu dunia itu seperti apa. Saya pernah punya teman dari lingkungan berbahaya seperti itu. Untungnya, saya tidak pernah menjadi korban. Jadi, kalau orang bekerja di LSM untuk mengurusi anak-anak korban narkoba, untuk mengurusi anak-anak yang terkena HIV/AIDS, harus berada di dalamnya. Tidak hanya berteori.

Ada satu kepuasaan pada diri sya. Allah memberi kebaikan kepada saya, tapi juga Allah juga minta, “kamu bantu hamba-Nya yang lain.” Misalnya membantu pengidap AIDS yang sedang sekarat, saya ikut menolongnya agar ia tenang saat menghadapi kematian.

Dari dulu saya memang aktif di LSM. Saya ini anak NGO. Kebetulan kuliah saya di Teknik Sipil (UI) dengan programnya Teknik Penyehatan dan Lingkungan.  Kemudian saya masuk ke LSM lingkungan hidup . Nah, karena anak-anak yang terkena narkoba dan HIV/AIDS itu berada di sebuah lingkungan , akhirnya saya belajar dan masuk lagi ke dunia anak-anak korban narkoba dan HIV/AIDS. Saya pelajari itu sampai saya sekolah ke Penang, Malaysia, yang terdapat tempat spesial untuk mengurus masalah narkoba .Waku pulang ke Indonesia benar-benar kami mengurusi anak-anak seperti itu. Lambat-laun, setelah saya jalani, ada satu kepuasaan yang terasa sangat berbeda. Bukan kepuasaan mendapat uang dan muncul di televisi saat berada di lingkungan seperti itu.

Dan itu tidak bisa dibayar dengan uang, sehingga saya tidak memiliki target waktu, sampai kapan saya beraktivitas di sini. Mungkin, sampai saya mati saya mengurusi orang-orang itu. LSM ini kemanusiaan sifatnya. Dan, buat saya, ini sebagai balancing. Jadi, pada saat saya kaya-raya dalam segala hal, seperti hidup nyaman, dikasih anak, dikasih kemudahan-kemudahan, bisa makan tiga kali sehari, pada akhirnya tiba-tiba saya dimasukkan ke dalam sebuah wadah di mana saya melihat orang untuk bernapas saja harus mengorek-ngorek tong sampah, misalnya.

Dulu, waktu saya bekerja di ILO,PBB, saya mengurus anak-anak yang bekerja di bawah usia standar yang dibolehkan. Saya melihat anak-anak pemulung yang akan dari sisa-sisa makanan kaleng yang dipanaskan kembali. Tingkat hygienis-nya sudah pasti tidak aa sama sekali. Sementara, ketika saya pulang ke rumah, waduh, memang berasa seperti di istana. Itu, balancing loh buat saya. Kalau tidak, bisa gede kepala saya.

Orangtua saya selalu mengajarkan agama dengan sederhana tapi banyak seginya. Pertama, harus dekat dengan Tuhan. Kedua, harus dekat dan berpihak dengan orang-orang miskin. Sekarang, saya mengerti, mengapa saya harus berpihak kepada orang-orang miskin. Pengalam menjadi aktivis LSM mungkin adalah salah satu buahnya. Berpihak bukan hanyalah menyantuni, mengasih infak, mengasih sedekah, lalu selesai. Bukan itu. Tapi, kita ada di dunia itu. Untuk apa? Menurut saya untuk keseimbangan supaya saya tidak besar kepala.

Bersambung

Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 13-25 Desmber 2002/   

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda