Adab Rasul

Mengambil Hikmah dan Peluang Dikabulkannya Doa Ketika Dizalimi

Written by B.Wiwoho

Siapa yang tidak sakit hati bila dizalimi apalagi ditambah penganiayaan fisik? Hampir semua kita pasti seperti itu. Betapa besar penderitaan orang yang dizalimi, dan sebaliknya betapa kejamnya kezaliman, sampai Allah Yang Mahaadil, membuka tabir hijab-Nya kepada orang yang dizalimi, memberikan peluang besar sehingga doanya akan dikabulkan.

Karena itu Kanjeng Nabi Muhammad saw. mengingatkan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas,  “Takutlah kalian terhadap doa orang yang didzalimi, karena tidak ada hijab antara dia dengan Allah,” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa : 148,  “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (terzalimi).”

Meskipun tiada tabir pembatas antara orang yang sedang terzalimi dengan Allah, Rasulullah dan para sahabat tidak serta merta memanfaatkan peluang emas tersebut untuk membalas dendam.  Dalam tulisan yang lalu yang berjudul, “Tak Membalas Dendam Kezaliman Dengan Kezaliman,” dikisahkan Rasulullah bahkan sebaliknya, memaafkan serta  mendoakan kebaikan kepada orang-orang  yang menzalimi beliau.

Imam Ghazali dalam kitab Al Muhazab min Ihya Ulumuddin  mengajak kita bersabar dengan mengingat, menghayati dan mengamalkan keteladanan  Rasulullah, yang juga menolak ketika diminta mendoakan sebuah keburukan orang lain. Beliau tidak menuruti permintaan  tersebut, tapi  justru mengganti dengan mendoakan kebaikan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Baginda Rasul seperti itu, bagaimana pula dengan para sahabatnya?  Bilal bin Rabah adalah budak hitam asal Ethiopia milik Umayyah bin Khalaf yang sangat memusuhi Islam.

Mengetahui budaknya mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan memeluk Islam, Umayyah marah bukan kepalang dan sering sekali menyiksa Bilal serta menyuruhnya untuk meninggalkan Islam. Berbagai siksaan terhadapnya yang tak terperikan pedihnya, banyak dikisahkan para sahabat yang melihat dengan mata kepala sendiri. Salah satu bentuk penyiksaan adalah membaringkan Bilal di atas padang pasir yang bagaikan bara api di bawah terik mentari musim panas, seraya meletakkan tumpukan batu besar di dadanya. Meskipun demikian Bilal tidak menyerah dan tetap teguh dengan keislamannya.

Penyiksaan-penyiksaan itu didengar  Abu Bakar yang kemudian menebus dan membebaskannya. Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul saw. pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah termasuk tidak pernah absen mendampingi dalam peperangan.

Bilal yang dikenal sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan,  juga  setia meneladani serta mematuhi ajaran Kanjeng Nabi, dan menjadi orang yang sabar lagi pemaaf.  Karena itu pula, para sahabat sangat menghormati dan memuliakan Bilal sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah saw.

Sahabat lain pemeluk Islam keenam, yakni Khabab bin Al-Arat,  seorang budak ahli pembuat pedang, juga mengalami penyiksaan nan luar biasa seperti Bilal. Jika bilal ditindih batu, Khabab dipaksa mengenakan baju besi, sementara besi panas ditusuk-tusukkan ke kepalanya.

Khabbab adalah orang yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Fathimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika mereka dipergoki oleh Umar bin Khatthab, abang dari Fathimah, yang datang dengan pedang di pinggang untuk membuat perhitungan, begitu memperoleh informasi dari Nu’aim bin Abdullah perihal kegiatan  tersebut. Tetapi demi dibacanya ayat-ayat Al-Qur’an yang termaktub pada lembaran yang dipergunakan oleh Khabbab untuk mengajar, ia pun berseru dengan bergemetar: “Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad saw…..”

Dan ketika Khabbab mendengar ucapan Umar itu, ia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya, seraya berkata, “Wahai Umar! Demi Allah, saya berharap kiranya kamulah yang telah dipilih oleh Allah dalam memperkenankan permohonan Nabi-Nya saw. Karena kemarin saya dengar ia memohon, “Ya Allah, kuatkanlah agama Islam dengan salah seorang di antara dua lelaki yang lebih Paduka sukai, yaitu Umar bin Khattab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam”.

Tatkala Umar menjabat sebagai Khalifah, ia merindukan masa-masa awal Islam di Makah, dan meminta Khabbab menceritakan kembali penderitaannya. Khabbab menanggapi dengan membuka pakaiannya, “Lihatlah punggungku ini.” Umar terpana melihat bekas luka bakar yang luar biasa, yang baru sekali itu dilihatnya. Khabbab menjelaskan, “ini lantaran aku diseret di atas timbunan bara api yang menyala, sampai lemak dan darah yang mengalir dari punggungku memadamkan apinya.”

Seperti halnya Bilal, Khabbab pun senantiasa mendampingi Rasulullah dalam setiap pertempuran, serta teguh menaatinya. Ketika baitulmal melimpah ruah dengan harta kekayaan di masa pemerintahan Umar dan Utsman, Khabbab beroleh gaji besar, karena termasuk golongan Muhajirin yang mula pertama masuk Islam. Namun harta benda itu di simpannya di tempat yang semua sahabat-sahabatnya mengetahui, serta bisa setiap saat mengambil apabila memerlukan, sementara itu Khabbab tetap hidup sangat sederhana.

Sahabat-sahabat Rasulullah mengamalkan asma Allah, Rahman dan Rahim, dalam bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap sesamanya. Banyak dalil yang memerintahkan kita agar saling menyayangi satu sama lain, bahkan menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri, sebagai  tanda kesempurnaan iman. Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha Ilahi.

Sebaliknya tidak sedikit dalil yang mengecam segala bentuk kezaliman. Walau demikian Rasulullah dan para sahabat tidak membalas kezaliman dengan kezaliman, juga tidak mau mendoakan keburukan meski terhadap orang yang menzalimi, sebab itu berarti kita pun menjadi ikut berbuat keburukan.

Tentang firman Allah perihal doa orang yang dizalimi sebagaimana di awal tulisan ini, Ibnu Abbas menjelaskan makna ayat,  “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan)”,  adalah Allah tidak menyukai doa buruk seseorang atas orang lain, kecuali bagi yang terzalimi. Sejatinya orang yang terzalimi telah diberi ganjaran, sehingga boleh mendoakan keburukan orang yang telah menzaliminya, tetapi jika ia bersabar maka itu lebih baik baginya.(Tafsir Ibnu Katsir).

Ulama zuhud Hasan Basri yang lahir pada 21 H (642 M – 728M) dan murid dari para sahabat antara lain Utsman bin Affan, Abdullah ibn Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar mengatakan, “Jangan mendoakan keburukan kepada orang yang menzalimi kita, tapi katakanlah ‘Ya Allah tolonglah aku atasnya’ atau ‘Keluarkan hakku darinya’. Dalam riwayat lain disebutkan, memang orang yang dizalimi dibolehkan mendoakan keburukan pada orang yang menzalimi selama tidak melampaui batas atau tidak berlebihan.(Tafsir Ibnu Katsir).

Akan tetapi sebagaimana dicontohkan oleh junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad, memaafkan serta berdoa memohon kebaikan bagi diri kita sendiri (yang dizalimi) selagi tiada tabir yang menghalangi dengan Allah, dan Allah akan mengabulkan doa orang yang dizalimi, tentulah akan lebih bermanfaat.

Bahasa terangnya, marilah kita mengambil hikmah dengan memanfaatkan peluang dikabulkannya doa kita (yang terbuka karena kita dizalimi), bagi kebaikan dan keberkahan kita dalam perjalanan hidup selanjutnya, dunia maupun akhirat. Semoga. Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda