Jejak Islam

Mahkota Raja-Raja: Petuah Pemerintahan dari Bukhari Al-Jauhari

Written by Panji Masyarakat

Indonesia adalah segabung besar wilayah, yang sebagiannya – di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, juga pulau-pulau yang lebih kecil, bahkan lebih kecil – mempunyai masa lampau dengan riwayat kerajaan dan peradaban yang tinggi. Aceh adalah salah satunya. Bukan hanya satu-dua pujangga pernah hidup di sini – bukan hanya Hamzah Fansuri atau Nuruddin Ar-Raniri. Berikut ini Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. menuturkan kepada Anda salah satu pengarang yang lain, yang judul karyanya justru lebih masyhur dibanding nama penulisnya, dan yang berhubungan dengan kekuasaan setempat sebagaimana Al-Mawrdi, pengarang fikih pemerintahan klasik, berhubungan dengan sultan dan pemerintahan di zaman Bagdad.

Tajus Salain (‘Mahkota Raja-Raja’ atau ‘Mahkota Para Sultan’) adalah salah satu karya Melayu Islam terpenting berkenaan dengan adab (sastra). Karya ini unik dalam banyak hal. Ia ditulis oleh Bukhari Al-Jauhari di Aceh pada tahun 1603 M., sebagai hadiah kepada Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1589-1604) yang bergelar Sayyid Al-Mukammil. Sebelum naik tahta, sultan ini adalah seorang saudagar tua yang kaya raya. Ia dipilih menjadi raja melalui sebuah musyawarah orang-orang kaya dan para ulama, ketika negeri itu mengalami krisis politik berkepanjangan dan tidak ada lagi raja yang bisa memimpin negara. Alauddin begitu menyukai ilmu tasawuf dan mendirikan banyak lembaga pendidikan Islam yang membawa kemajuan besar bagi negeri Aceh.

Buku ini unik karena pengarangnya kurang dikenal dibandingkan judul bukunya. (Kemasyhuran buku ini antara lain ditandai dengan penerjemahan ke dalam bahasa Jawa, dengan judul yang sama. (baca: Menelusuri Lorong Keislaman Keraton Yogyakarta, red). Ada yang berpendapat bahwa Bukhari Al-Jauhari adalah saudagar batu permata dari Bukhara (sekarang masuk wilayah Uzbekistan) dan pernah tinggal lama di Johor (Malaysia). Pendapat ini cukup kuat, karena pada abad ke-16 M. kegiatan budaya Islam Sunni berpindah dari Persia, yang sudah dikuasai mazhab Syi’ah, ke Samarkand dan Bukhara. Pada masa ini banyak sekali ulama dan cendekiawan dari Bukhara pindah ke negeri Islam di sebelah timurnya, yaitu India Mughal dan Sumatera. Di Sumatera mereka sangat dihormati karena menguasai bahasa Arab, Persia, dan Melayu. Bahasa Melayu mereka pelajari di Gujarat sebelum tiba di Nusantara. Sebagian besar cendekiawan asal Bukhara ini, menurut Braginisky (1993), datang dari kalangan pedagang dan pengrajin batu permata.

Sampai abad ke-19, Tajus Salatin merupakan bacaan populer di kalangan raja-raja serta pembesar Melayu dan Jawa. Mengingat pentingnya buku ini dan pengaruhnya yang besar dalam pemikiran bangsa Melayu, Roorda van Eysinga (1827) menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda dan mengkajinya secara mendalam. Pada tahun 1878 orientalis lain, A. Marre, menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis.

Wrendly, sarjana Belanda awal abad ke-19, mengatakan dalam bukunya Maleisch Spraakkunst bahwa, “Tajus Salatin berisi ajaran moral dalam bentuk cerita dan dikarang dalam bahasa Melayu yang bagus dan menarik.” Gaya bahasanya merupakan turunan langsung dari gaya bahsa sastrawan Persia seerti Sa’di. Inilah yang membuat buku ini unik, karena gaya serupa tidak dijumpai dalam kitab Melayu yang lain. Gaya bahasa kitab Melayu yang lain pada umumnya merupakan turunan langsung dari gaya pengarang-pengarang Arab.

Bersambung

Penulis, Prof. Dr. Abdul Hadi WM., penyair, kritikus sastra, dan dosen estetika dan sejarah kebudayaan Islam di Universitas Paramadina, Jakarta. Sumber: Majalah Panjmas, 09-22 Januari 2003.            

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda