Tasawuf

Jihad Agar Tidak Diperbudak Nafsu

Written by A.Suryana Sudrajat

Adapun orang yang gentar di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa, maka sorgalah tempat tinggalnya. (Q. 79: 40-41).

Rasulullah  s.a.w. menggambarkan perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jihad. Ini dikatakannya setelah pulang dari Perang Badar melawan musyrikin Quraisy yang dimenangkan kaum muslimin. “Kita kembali dari jihad kecil menghadap jihad besar?”

            “Apa yang dimaksud dengan jihad akan kita hadapi itu?”

            “Berjihad melawan hawa nafsu.”

Dan berikut resep dari Ibnul Qaiyim AL-Jauziyah agar kita bisa membebaskan diri dari jeratan hawa nafsu:

  • Memiliki kesabaran dalam setiap menghadapi kepahitan.  Sebaik-baik hidup ialah jika seseorang mengetahui hidup itu dengan kesabarannya.
  • Berpikir bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu. Tetapi untuk urusan yang besar, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan menentang nafsunya.
  • Mempertimbangkan akibat nafsu, sehngga dia tahu  seberapa nafsu  itu meloloskannya kepada ketaatan dan mendatangkan kehinaan. 
  • Mempertimbangkan hak orang lain dengan sebenar-benarnya, kemudian menggambarkan jika kedudukannya seperti orang lain.
  • Menghinakan diri sendiri karena tunduk kepada hawa nafsu. Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya.
  • Ingatlah sabda Nabi: Orang yang kuat itu bukan karena dengan bergulat, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat menguasai dirinya tatakala sedang marah.

Yang dimaksud perang melawan hawa nafsu sebagaimana digambarkan di atas adalah perlawanan terhadap nafsu tercela (madzmumah). Sebab, selain nafsu tercela, ada juga nafsu terpuji (mahmudah). Yang pertama, nafsu yang mendorong kita kepada kehendak-kehendak jahat. Yang kedua, nafsu yang mengarahkan kita kepada hal-hal kebaikan, seperti mencari penghidupan yang halal, menambah ilmu dan meningkatkan keterampilan.

Dzun Nun Al-Mishri, seorag sufi asal Mesir (796-859 M), mengatakan, “Kunci ibadah adalah tafakur. Tanda tercapai tujuannya adalah perlawanan terhadap hawa nafsu dengan meninggalkan keinginan-keinginan atau dorongan-dorongannya.” Sayangnya, banyak hal yang kita ucapkan atau kita perbuat, yang tidak luput dari dorongan atau mengikuti keinginan hawa nafsu. Keserakahan, ketamakan, kerakusan,  pada harta dan atau kekuasaan serta kemasyhuran adalah tiga di antaranya yang paling menonjol sekarang ini. Dan jadilah manusia diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka