Hamka

Buya Hamka tentang Aliran Kebatinan

Written by Panji Masyarakat

Kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia. Gerakan semacam ini banyak sekali terutama tumbuh di Jawa Tengah dan ada juga di daerah-daerah lain. Menurut catatan resmi PAKEM (Pengawas Aluran Kebatinan Masyarakat), di Jawa Tengah saja tak kurang dari 103 gerakan kebatinan yang tercatat, dan di Sumatera Timur tidak kurang dari 96. Ada yang menamakan diri Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Agama Kuring (Sunda), Islam Waktu Telu (NTB). Dan ada pula yang sampai meluas ke luar negeri di antaranya kebatinan Subud, potongan (akronim) dari Susila Budi Darma, yang dipimpin gurunya yang terkenal dengan sebutan Pak Subuh.

Orang dari luar negeri, baik dari universitas-universitas ataupun dari Zending dan Missi, dan kaum orientalis banyak yang datang ke Tanah Air kita mengadakan riset tentang kebatinan.

Sebutlah Wongsonegoro, SH. Dia adalah salah seorang yang amat terkemuka dalam gerakan kebatinan ini. Pada tahun 1951 pernah beliau mengadakan Maleman Purnama Sidi, yang dibiasakan tiap-tiap pertengahan bulan Qomariah, ketika bulan purnama, atau tanggal 14 hitungan bulan. Pada malam itu diadakan ceramah-ceramah soal kebatinan dari segala aliran. Pertemuan itu biasanya ditutup dengan mengadakan “renungan” beberapa menit mengheningkan cipta.

Saya (Hamka) pernah diundang dua kali dalam Purnama Sidi untuk mengadalan ceramah kebatinan, dan saya kabulkan permintaan itu. Lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Al-Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab mereka yaitu Ihya Ulumiddin dan Madarijus Salikin. Wongsonegoro tertarik dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya.

Menurut Kiai H.A. Wahid Hasyim (ayah Gus Dur, red), sepatutnya kita pihak Islam memasukinya dan memberi tasawuf Islam Sunni dalam ceramah-ceramahnya, supaya kaum “abangan” pun tahu dan dapat menilai kebatinan kita. Namun kemudian pengaruh politik pun masuk ke sana. Beberapa gerakan kebatinan yang dipengaruhi Komunis menyelusup ke dalamnya. Dan karena saya “orang muslim” rupanya dipandang berbahayalah kalau saya dipanggil juga buat mengadakan ceramah . Akhirnya malam-malam Purnama Sidi itu pun kian lama kian berkurang dan berhenti, dan diteruskan dengan cara lain.

Bersambung.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka; Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (1990)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda