Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (6): Setapak-setapak Akhirnya ke Puncak

Menjadi Pegawai Negeri

Cita-cita A.R. Fachruddin memang tidak muluk-muluk: menjadi guru. Namun, di balik cita-citanya yang sederhana itu  muncul jiwa ketokohannya. Kalau bukan karena ketokohannya yang luar biasa, bisakah seorang guru SD, yang bahkan belum sempat menyelesaikan pendidikan gurunya,  sampai ke puncak kepemimpinan sebuah organisasi besar seperti Muhammadiyah?

Karier A.R. Fachruddin sebagai guru SD berangsur-angsur meningkat. Apalagi setelah kemerdekaan ia diangkat sebagai pegawai negeri dengan jabatan awal kamituwo Kelurahan Banaran, Galur, Kulon Progo (1946). Setahun kemudian ia menjadi ajun penghulu Kabupaten Adikarto di Wates, Kulon Progo.

Ibarat menaiki tangga ia tapaki pekerjaannya sebagai pegawai setapak demi setapak. A.R. Fachruddin lalu menjadi kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Selanjutnya ia ditarik  ke pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Kantor Kepatihan sebagai pegawai Jawatan Agama Provinsi DIY, dari tahun 1950-1959.

Sebagai pegawai negeri A.R. Fachruddin juga pernah ditempatkan  di Semarang sebagai kepala Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Di tengah kesibukannya sebagai pegawai, ia berniat menambah ilmu dan memperluas wawasannya dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Universitas Sultan Agung (Unisula), Semarang. Namun tidak diterima, dan malah ditawari mengajar. Jadilah ia dosen luar biasa untuk bidang studi Islamologi di Unisula. Belakangan lalu datang permintaan mengajar dari IKIP Semarang (waktu itu FKIP Undip). Sampai tahun 1964 A.R. Fachruddin tinggal di Semarang, sampai akhirnya dipindahkan kembali ke Yogyakarta dengan jabatan yang sama. Sampai masa akhir kerjanya alias pensiun pada tahun 1972.

Aktif di Muhammadiyah

Di luar statusnya sebagai pegawai pemerintah, ternyata aktivitas Pak AR di bidang politik dan organisasi kemasyarakatan lebih berwarna, penuh dinamika. Selain di Muhammadiyah, sebagai ketua pimpinan daerah Kodya Yogyakarta, ia juga aktif di Partai Masyumi. Bahkan ia sempat menjadi ketua fraksi Masyumi di DPRD DIY. Selama aktif di Masyumi ia pernah menggerakkan massa karena jabatannya sebagai ketua KAPU (Komite Aksi Pemilihan Umum) menjelang pemilu pertama tahun 1955.

Karier kepemimpinan Pak AR di Muhammadiyah dimulai dengan menjabat keetua Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PMD) Kodya Yogyakarta (1950-1951). Dinilai sukses memimpin Muhammadiyah di tingkat daerah, ia diserahi mandat sebagai ketua di tingkat pimpinan wilayah, PMW DIY (1952-1953). Selepas dari jabatan ini Pak AR terus melaju masuk ke jajaan Pimpinan Pusat (PP) sebagai anggota . kemudian ia menjadi wakil ketua pada 1956, ketika PP Muhammadiyah diketuai Buya Sutan Mansur.  kemudian ia menjadi wakil ketua pada 1956, ketika PP Muhammadiyah diketuai Buya Sutan Mansur. . kemudian ia menjadi wakil ketua pada 1956, ketika PP Muhammadiyah diketuai Buya Sutan Mansur. Ada tiga pimpinan pucuk Muhammadiyah yaitu KH M. Yunus Anis, KH Achmad Badawi, dan KH Faqih Usman. Yang terakhir ini wafat pada tahun 1968, hanya beberapa hari setelah ia terpilih sebagai ketua PP. Pak AR pun di-fait accompli untuk menggantikan Kiai Faqih Usman. Setelah itu Pak AR berturut-turut selalu  terpilih sebagai ketua. Terakhir ia dipilih pada muktamar ke-41 di Surakarta tahun 1985.

Pada usianya yang ke-74 Pak AR melepaskan jabatannya sebagai keua PP Muhammadiyah melalui muktamar ke-42 di Yogyakarta pada 1990. Meskipun, pada waktu itu banyak pimpinan Muhammadiyah di pelbagai daerah yang menghendakinya agar tetap memimpin Muhamadiyah.

Kepemimpinannya kemudian diteruskan oleh KH Azhar Basyir. Namun, dua tahun kemudian, pada 1992, Azhar Basyir wafat mendahului Pak AR. Pada saat itu banyak pula yang menghendaki Pak AR tampil lagi memimpin Muhammadiyah. Tetapi Pak AR tidak bersedia. Waktu itu di PP Muhammadiyah tidak ada figur kiai atau ulama yang bisa ditampilkan. Yang lebih menonjol di persyarikatan  adalah cendekiawan atau akademisi seperti Amien Rais dan Syafii Maarif. Ya boleh dibilang, sampai sekarang PP Muhammadiyah tidak lagi dipimpin oleh ulama.

Komplikasi penyakit vertigo, pembengkakan jantung, dan leukimia menyebabkan Pak AR untuk sekian kali harus terbaring di rumah sakit, sebelum akhirnya pada 17 Maret 1995 dia wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Pak AR wafat dalam usia hampir 80 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta. KH A.R. Fachruddin meninggalkan tujuh anak dan 21 cucu serta jutaan umatnya. Seorang aktivis sepuh Muhammadiyah di Yogyakarta berkelakar, jika di kalangan nahdiyin alias jamaah NU, pastilah Pak AR dianggap wali.         

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda