Tafsir

Tafsir Tematik: Memecahkan Perpecahan (2)

Written by Panji Masyarakat

Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah anugerah Allah kepada kamu ketika kamu satu sama lain musuh, maka Allah merangkai hati kamu dan jadilah kamu berkat karunia-Nya sesama saudara. Sedangkan kamu berada di tubir lubang neraka, maka Ia pun mengentaskanmu darinya. Demikian Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengambil  petunjuk. (Q. 3: 103).

Jangan bercerai-berai

Adapun kaa kunci kedua, yakni ungkapan ‘jangan bercerai-berai’ di dalam ayat, menunjuk kepada larangan berpecah belah dalam perkara agama seperti yang dilakukan oleh seorang Yahudi dan Nasrani dalam agama masing-masing. Itu pengertian dari antara lain ibn Mas’ud r.a. Meski begitu, demikian Alquran, itu bukan dalil diharamkannya perselisihan pendapat dalam masalah furu’ (“ranting”,  khususnya di bidang hukum). Para sahabat Nabi sendiri berbeda dalam soal-soal (fikih) yang muncul, sementara mereka tetap harmonis. Adapun yang dilarang adalah perselisihan yang merupakan sebab bencana (Qurthubi, IV: 159)/

Yaitu yang digerakkan nafsu. Tetapi, seperti ditunjukkan Muhammad Abduh, kedua-duanya bisa menjadi satu: perselisihan agama itu menjadi perselisihan karena peranan nafsu. Keterangannya:

Ada dua macam perselisihan atau, “ketidaksepakatan”. Pertama, yang mutlak merupakan bagian hidup manusia. Di sini larangan, sebagai ajara yang dibebankan (taklif), tidak akan bisa dipikul – dan memang tidak dikehendaki ayat ini. Kedua, perselisihan yang memang dimaksudkan ayat, yakni yang bisa dihindari.

Yang pertama itu adalah ketidaksepakatan dalam pandangan dan pendapat. Dengan bagus tokoh reformis ini berkata, “Keseragaman manusia dalam pikiran dan pendirian adalah hal yang tidak akan bisa dicapai dan tidak bisa diinginkan.” (Rasyid Ridha, IV: 23). Termasuk ketidaksepakatan dalam masalah furu’ seperti disebut Qurthubi. Tapi juga, tentunya, perpecahan agama di kalangan Yahudi dan Nasrani seperti disebut Ibn Mas’ud – yang mestinya juga tidak bisa dihindari.

Hanya, memang, penyebutan dua kalangan itu oleh Ibn Mas’ud dimaksudkan sebagai contoh yang sendirinya mengandung penilaian. Dan kalau begitu, yang terjadi pada Yahudi dan Nasrani – menurut judgement tersebut – ialah bercampurnya ketidaksepakatan jenis pertama itu dengan yang menurut Abduh merupakan jenis kedua. Yakni, “perpecahan yang disebabkan oleh hawa nafsu dalam hal agama dan hukum-hukum”. Yang kedua ini, dikatakannya, berbahaya karena ia “menghapuskan lambang-lambang penunjuk” yang sedianya menjadi tempat kembali kapan saja orang berusaha “mengikis segi-segi negatif yang (secara potensial juga) berada dalam ketidaksepakatan jenis pertama”.

Abduh memberi contoh dari kalangan umat Islam sendiri, khususnya di masa hidupnya di peralihan abad-abad ke 19-20: sementara para imam fikih saling berbeda pendapat dengan santai, wajar, dan rukun, umat di belakang hari menyandarkan diri pada nukilan-nukilan dari mazhab masing-masing – tetapi bukan jalan hidup mereka. Di situ  hawa nafsu menjadi hakim dalam agama, dan fanatisme antarmazhab menyeruak. “Lambang-lamang penunjuk” sudah terhapus leh nafsu.

Karena itu Abduh menggariskan sikap   ini: “Sepanjang seorang muslim tidak mengabaikan nas-nas Kitabullah dan penghormatan kepada Rasul s.a.w., dia berada dalam keislamannya, tidak kafir, dan tidak keluar dari jamaah muslimin. Tetapi bila hawa nafsu menjadi hakim, lalu saling mengutuk dan mengkafirkan, maka siapa yang melontarkan tuduhan akan pulang dengan tuduhannya kepada dirinya, seperti disebut di dalam hadis.” (Lihat Rasyid Ridha, IV: 23-25).    

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 24 Juni 1998      

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • hamka