Pengalaman Religius

Shahnaz Haque (3): Sekolah Pertama Adalah Keluarga

Written by Asih Arimurti

Katanya, kalau ibu yang sedang hamil, baik mendengarkan musik klasik, apa juga tidak sebaiknya kalau menyimak alunan bacaan ayat-ayat suci Alquran? Jadi kenapa kita tidak  balancing, seimbangkan, untuk itu.

Berubah Setelah Menikah

Pernikahan saya tanpa pesta. Hanya akad nikah di Masjid Sunda Kelapa (Menteng, Jakarta Pusat). Itulah masjid tempat Ibu disembahyangi. Selain itu, ibu kami senang sekali salat Jumat ke situ. Masjid Sunda Kelapa memang menyediakan tempat bagi perempuan untuk mengikuti salat Jumat. Jadi, Allah kasih rezeki untuk Ibu, meninggal di hari Jumat juga. Semua jamaah mau mengusung kerandanya. Itu  pelajaran buat saya, bahwa yang ditanam, itu yang dipetik.

Apakah hidup saya berubah setelah menikah? Oh, ya. Jauh. Saya rajin salat, sembahyang berusaha untuk lengkap, lima kali sehari. Namun hati ini masih suka jahat. Itu pada saat saya sebelum menikah. Contohnya, saya tidak mudah memaafkan jika seseorang berbuat jahat. Terus di-inget-inget sampai terbalas benar perbuatannya. Sampai terasa puas. Jadi, dalam diri saya itu ada banyak niatan untuk balas dendam.

Setelah menikah, Gilang-lah yang mengajarkan saya untuk bagaimana memaafkan orang. Padahal Gilang itu salatnya bolong-bolong, sehari bisa cuma satu kali. Tetapi, ternyata hatinya lebih islami dari saya. Sehingga dengan pernikahan kami itu, kami merasakan upaya saling melengkapi. Saya mengajarkan Gilang untuk lebih dekat dengan Allah SWT dengan tata cara yang memang Allah suruh. Seperti, lengkapilah salat kamu, berpuasalah yang benar, mengajilah, ini itu segala macam.

Shahnaz Haque dan tiga putrinya (foto : Instagram)

Sedangkan Gilang mengajari esensi yang lebih jauh lagi di balik itu. Seperti, belajarlah memaafkan orang. Jadi, misalnya saya marah sama orang, Gilang selalu mengatakan bahwa hidup ini tidak ada apa-apanya. Kalau mati, kita hanya bawa kain dua potong, sudah selesai. Tidak ada urusan, tidak ada apa-apanya. Lama-lama di-omongin seperti itu, lumer juga hati saya. Jadi, jelas bahwa perkawinan membawa perubahan. Saya tidak tahu, apakah perubahan itu menjadi lebih bauk apa tidak. Tetapi, paling tidak membuat saya lebih tenang, lebih nyaman. Apalagi ditambah dengan kehamilan saya waktu itu.

Saya bukan orang yang gemar salat malam. Paling setahun sekali. Dan, bukan orang rajin ngaji setiap hari. Tetapi ketika saya hamil, saya berusaha untu salat malam lebih sering. Juga mengaji setiap hari. Niatnya hanyalah, “Tuhan, saya itu tidak bisa menjadi polisi untuk anak-anak saya 24 jam. Tidak bisa. Jadi, kalau anak saya kepeleset, ya kepeleset saja, jangan sampai kejeblos.” Jadi, saya mohon kepada Tuhan di slat malam saya, saat ngaji saya, tolong anak saya dijaga dengan Alquran. Tolong anak saya dijaga dengan ibadah saya waktu saya salat malam. Begitu terus sampai sembilan bulan.

Nah, sesudah melahirkan ada rasa janggal kalau tidak melakukan seperti itu. Ada rasa aneh, ada rasa yang hilang. Oh, ternyata rutinitas yang dilakukan selama sembilan bulan tidak dilakukan setelah melahirkan.

Sekarang saya tengah hamil tujuh bulan (hamil anak kedua pada tahun 2002, ed.) kehadiran anak memberi pesan agar kami menjaga perkawinan supaya baik. Sampai saya bilang ke suami, “Kamu, kalau mau punya dua anak, yang benar ya. Karena kita itu menjadi model. Percuma anak umur tujuh tahun di-pukulin kalau orangtuanya sendiri tidak sembahyang. Anak itu kan plagiator yang luar biasa. Jadi kita mesti kasih contoh dulu. Samailah Gilang mengaji setiap hari. Katanya, kalau ibu yang sedang hamil, baik mendengarkan musik klasik, apa juga tidak sebaiknya kalau menyimak alunan bacaan ayat-ayat suci Alquran? Jadi kenapa kita tidak  balancing, seimbangkan, untuk itu. Dan kami berpendapat bahwa sekolah yang pertama itu ada di kita, keluarga, bukan di tangan guru. Kalau kita mendidik anak, ya didiklah dari pangkuan bundanya. Cek dulu ibunya, sibuk tidak. Kalau sibuk, pantas saja, banyak anak-anak yang bandel.       

Bersambung Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 13-25 Desember 2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda