Adab Rasul

Tak Membalas Kezaliman dengan Kezaliman

Rasulullah bahkan mendoakan kebaikan kepada yang menzalimi.

Dalam memandang kesuksesan seseorang, banyak di antara kita yang hanya melihat sisi terang atau bagian senangnya saja, tak melihat sisa gelap atau dukalara kehidupannya sebelum mencapai sukses. Padahal peribahasa mengajarkan, berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Demikian pula riwayat perjuangan seorang hamba Allah, utusan Allah, Nabi yang butahuruf, junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Kisah dakwah Rasulullah ke Ta’if pada tahun kesepuluh kenabiannya misalkan, beliau yang datang menemui tokoh-tokoh masyarakat, bukannya disambut sebagaimana layaknya seorang tamu, melainkan diusir dan dilempari batu sehingga sendirian tertatih-tatih penuh luka dan berlumuran darah, berlindung di kebun anggur Utba dan Syaiba.

Dalam keadaan seperti itulah Baginda Rasul berserahdiri bermunajat yang kemudian dikenal sebagai doa Ta’if, antara lain:                                                                                     

“….kepada siapa hendak Paduka serahkan diri hamba?          

 Kepada orang yang jauhkah, yang berwajah masam kepada hamba? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai diri hamba?

Asalkan Paduka tidak murka kepada hamba, hamba tidak peduli. Sebab sungguh luas kenikmatan yang telah, sedang dan akan Paduka limpahkan kepada hamba.

Hamba berlindung dari kemurkaan Paduka, kepada nur wajah Paduka yang akan Paduka tumpahkan kepada hamba.

Nur yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawa kebaikan……”

Begitu sedih dan menyayat hati, sehingga Gusti Allah mengutus Jibril menyapa Kanjeng Nabi, serta menawarkan bantuan dengan menugaskan malaikat penjaga gunung untuk membantu Rasulullah, dengan mematuhi perintahnya. Kepada Nabi Saw. Malaikat Gunung berkata, “Apapun yang kau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapa pun yang tinggal di antara keduanya akan hancur binasa. Jika tidak, apapun hukuman yang kau inginkan, aku siap melaksanakan.”

Jika kita yang bersembunyi di kerimbunan kebun anggur, teraniaya penuh luka ditanya seperti itu, kemungkinan besar akan mengangguk. Kapan lagi akan membalas penderitaan ini? Tetapi Baginda Rasul tidak aji mumpung. Beliau yang hidup penuh penderitaan sebagai anak yatim piatu semenjak kecil, adalah orang sabar yang berhati mulai dan penuh cinta kasih terhadap sesamanya. Karena itu jawabnya, “Aku hanya berharap kepada Allah, andaikan saat ini mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan keturunan mereka kelak akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah.”

Ulama India tersohor, Syehkhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi (1357H/1939M), dalam bukunya “Fadhail A’mal”  mengambil faedah dari peristiwa tersebut dengan menyatakan, “demikianlah akhlak mulia Nabi. Kita mengaku sebagai pengikutnya, namun ketika ditimpa sedikit kesulitan atau celaan saja , langsung marah, bahkan menuntut balas seumur hidup kita. Kezaliman dibalas kezaliman, sambil terus mengaku sebagai umat Nabi Saw. Padahal dengan pengakuan itu, seharusnya segala tingkah laku kita mengikuti beliau. Nabi apa bila mendapat kesulitan dari orang lain, tidak pernah mendoakan keburukan dan tidak pernah ingin menuntut balas.”

Sikap pemaaf dan bukan pendendam, ditunjukkan oleh Kanjeng Nabi dalam banyak kesempatan, meski pernah juga sekali sempat beliau lakukan, menolak memberi maaf terhadap seorang pemuda, pembongkar kuburan untuk mencuri kain kafan. Pemuda ini mendatangi Rasulullah didampingi Umar bin Khattab, dengan  menangis keras,  menghiba-hiba, mengadu kepadanya, seraya memohon ampunan Allah lantaran telah menyetubuhi di dalam liang lahat, mayat seorang gadis yang telanjang setelah kain kafannya dia ambil.

Mendengar perbuatan yang menjijikkan dan pengakuan dosa pemuda itu, Rasulullah sampai terkejut, meloncat dan mengusirnya. Maka datanglah malaikat Jibril yang setelah memberi salam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, Allah berfirman kepadamu, apakah engkau telah menciptakan para makhluk?“                                                       

Beliau menjawab, “Dia yang menciptakan aku dan menciptakan mereka.”                                                                                     

Kata Jibril, “Allah Swt berfirman, apakah kamu memberi rezeki kepada mereka para hamba Allah?”                                         

“Bahkan Dia yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadaku,” sahut Nabi.                                                                       

Tanya Jibril kembali, Allah Swt berfirman, apakah kamu yang menerima taubat mereka?”

Jawab Rasulullah, “Dia yang menerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampuni semua kejahatannya.”

Selanjutnya malaikat Jibril menyampaikan teguran Allah atas sikap nabi menolak permintaan maaf sang pemuda pemerkosa mayat tadi. Nabi kemudian mengutus orang-orang untuk mencari pemuda tersebut, yang diketemukan di padang pasir dengan kondisi sangat lemah, karena setelah tujuh hari semenjak diusir Rasulullah, perasaannya sangat menderita sampai tidak mau makan dan minum.

Sesudah diterima Kanjeng Nabi dan kemudian diajak salat maghrib bersama, pemuda ini jatuh tersungkur dan meninggal tatkala Rasulullah tengah membaca ayat dua surat At-Takaatsur, “Hattaa zurtumul maqabir (hingga kamu masuk ke dalam kubur)”.

Kisah-kisah menarik yang menggambarkan sikap pemaaf Baginda Rasul, antara lain adalah tatkala menghadapi ancaman Umar bin Khattab, salah seorang tokoh besar Quraisy sebelum masuk Islam, yang dihadapi dengan doa, “Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.” Bukan mendoakan keburukan bagi mereka.

Demikianlah beberapa hari kemudian sewaktu Umar bin Khatthab yang keras wataknya itu dengan menyandang pedang mau menjumpai Rasulullah, sehingga  para sahabat pun sudah siap siaga dengan pedangnya menghadapi kemungkinan terburuk, Rasulullah menyambutnya sendiri seraya berkata, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut riwayat dia adalah orang ke-40 yang masuk Islam.

Sikap mulia penuh cinta kasih, tidak pendendam bahkan pemaaf digelar Rasulullah dalam berbagai kesempatan pada hari-hari ketika umat Islam berhasil masuk dan menguasai Makkah dengan gemilang. Satu persatu musuh-musuhnya yang terkenal kejam, yang mengancam jiwa Rasulullah dan para sahabat dimaafkan, seperti Abu Sufyan, Hindun yang memakan hati Hamzah – paman Nabi dalam perang Uhud, Safwan, Ikrimah, Suhail dan sejumlah tokoh kejam lainnya yang telah membunuh banyak kaum musliman,  bahkan beliau menolak saran Ali dan Fatimah – putrinya, agar beberapa di antara musuh mereka dihukum mati.

Dalam ajaran Jawa perilaku pemaaf seperti itu diajarkan dengan ungkapan, “Dosa lara diapuro dosa pati diuripi,” maafkanlah kesalahan orang yang membuat kita menderita atau sakit,  dan maafkan serta berikanlah kesempatan hidup kepada orang yang telah menyebabkan kematian di keluarga atau sahabat kita. Jangan sakit balas sakit, jiwa balas jiwa. Tidak membalas kezaliman dengan kezaliman.

Mengamalkan masalah berat ini memang tidak semudah mengucapkannya, namun tetap harus diniatkan dan dilatih. Semoga dengan ridho, rahmat dan berkah-Nya, kita bisa meneladani Kanjeng Nabi Saw. “Allahumma sholli’alaa sayyidinaa Muhammadin abdika wanabiyyika wa Rosuulika Nabil Ummy wa a’laa alihi wa shohbihi wasallam”.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda