Hamka

Hamka, dari Adat Minang hingga Budaya Siri’ Bugis-Makassar

Sebagai seorang ulama, pemikir, pengarang dan penulis, karya almarhum Buya Hamka telah banyak diulas dan dianilisis . Tulisan berikut di bawah ini hanya ingin menulis sisi features atau hal yang menyentuh dan bersifat humant interest. Pada tulisan sebelumnya dicoba memaparkan beberapa pengalaman hidup Buya Hamka yang menarik dan menegangkan.

Masih ada beberapa kisah lain Buya Hamka yang berkesan untuk diketahui. Dari pengalaman tersebut kita bisa melihat bahwa Buya sejak mudanya telah memiliki karakter yang energik, punya motivasi tinggi, punya idealisme, punya tanggung jawab besar, pengabdian terhadap Islam, dan tentu saja beliau orang cerdas.

Buya dalam usia 15 tahun sudah diangkat menjadi penghulu dan bergelar Datuk. Penghulu yaitu pemimpin dalam perkauman atau suku. Dengan gelar tersebut menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang dan dinilai punya kehormatan yang tinggi.

Namun demikian, Buya Hamka bukanlah seorang yang bersikap fanatik buta terhadap adat Minangkabau. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Islam dan Adat Minangkabau banyak kritik yang dilakukan Buya Hamka terhadap adat Minangkabau. Sistem matrilineal, yaitu garis keturunan yang mengikuti garis ibu menunjukkan lemahnya peran kaum laki-laki dalam mengendalikan  kehidupan. Segala kebijakan termasuk penguasaan harta dan waris dikuasai oleh pihak suku kaum ibu. Kondisi ini telah menimbulkan efek dalam  masyarakat antara lain munculnya poligami, terabaikannya anak, isteri dan terdorongnya masyarakat pergi merantau meninggalkan kampung halaman.

Selanjutnya, dalam sistem adat Minangkabau yang dianggap kuat berpegang pada adat, tata krama dan sopan santun sangat dijaga. Sehingga sangatlah aib kalau orang berperilaku tidak sopan dan sembrono.

Dalam hal ini ada sebuah kisah yang diakui sendiri oleh Hamka sebagai kesalahannya. Buya waktu itu mengakui karena dirinya masih muda dan kurang teliti.

Pada tahun 1928, kala itu usia Hamka 20 tahun, dan baru pulang nenunaikan ibadah haji. Oleh beberapa sahabatnya ia diajak menggerakkan dakwah yang dirasakan rada lesu. Bertempat di Sumatera Thawalib ,Jembatan Besi, Padang Panjang, diadakan rapat umum dengan pembicara tunggal Buya Hamka. Penguasa setempat datang ingin mendengarkan, utusannya Engku Idris menjabat sebagai Menteri Polisi dengan dua orang resersir (reserse, detektif) . Mereka minta disediakan kursi dan meja khusus. Buya Hamka dengan tegas menolak, dan menyatakan bahwa tempat duduk buat wakil pemerintah tidak perlu. Sebab, ini bukan rapat umum (openbare vergadering). Terjadilah pertengkaran agak panas, namun akhirnya disediakan juga tempat duduk, tetapi agak kurang layak. Dengan muka masam Menteri Polisi itu menghadiri rapat sampai selesai.

Namun, Buya rupanya dapat buah dari tindakannya itu. Besoknya, sekitar jam 9.00. seorang opas dari Kantor Tuan Luhak (Asisten Residen) datang menyampaikan panggilan agar saat itu juga Haji Abdul Malik segera datang menghadap Tuan Luhak.

Buya Hamka sampai di Kantor Tuan Luhak, diiringi opas yang menyampaikan panggilan. Buya menunggu lebih dari satu jam barulah dipanggil masuk. Dan, tidak dipersilahkan duduk.

Menurut Hamka, Tuan Luhak Van deur Meulen langsung marah dan mengatakan bahwa Buya tidak punya adab, mungkin seorang komunis. ” Mengapa tadi malam tidak kasi kursi kepada wakil-wakil saya, yang saya suruh perhatikan gerak gerik “awak” (kamu -pen ) dalam rapat itu? Apakah awak mau dikirim ke Digul?

Menurut Hamka, tanpa diberi kesempatan  untuk menjawab, Buya sudah diusir pergi.

Pengalaman Buya kedua, masih tahun 1928 ia diutus Muhammadiyah cabang Padang  Panjang ke Lakitan bersama anggota pengurus lainnya menghadap Tuan Kontroleur di Balai Salasa. Tujuannya, untuk memberitahukan kehadiran Muhammadiyah di Lakitan.

Buya yang berjalan paling depan, ketika masuk ruangan tanpa memperkenalkan diri langsung duduk di muka kursi Tuan Kontroleur. Rupanya, perilaku seperti ini dianggap tidak sopan dan tidak beradat. Menrut Buya, kontan saat itu Tuan Kontroleur marah dan menegurnya. ” Kamu ini siapa,”. Buya menjawab, ” Bukankah kursi ini disediakan buat orang yang datang menghadap?” Dengan kasar kontroleur menjawab,” Di mana kamu belajar adat istiadat, duduk saja di kursi orang dengan tidak berkenalan lebih dahulu. Siapa nama awak. Siapa gelar?”

Buya menjawab,” Nama saya Haji Abdul Malik , gelar saya Datuk Indomo!”.Dengan ketus kontroleur menjawab”, Hai, awak Haji , memangku gelar adat , terapi tidak tahu adat!”.

Dalam insiden tersebut Buya merasa dirinya bersalah, ia pun berdiri kembali. Setelah dipersilahkan duduk baru Buya menjelaskan maksud kedatangannya yaitu memberitahukan bahwa Muhammadiyah telah berdiri di Lakitan.

Insiden yang ketiga ,Buya Hamka pernah diturunkan ketika sedang berbicara. Peristiwanya terjadi tahun 1935 kala Hamka baru pulang dari Sulawesi Selatan sebagai mubaligh Muhammadiyah. Ketika itu Buya didaulat untuk menjadi pembicara dalam acara Rapat Umum Muhammadiyah di Gedung Bioskop Cinema Theater di Pasar Usang,Padang Panjang. Pengunjungnya ramai dan padat.

Sebagaimana biasa suasana penjajahan, dalam setiap rapat umum hadir wakil pemerintah dan beberapa orang reserse untuk mematai-matai dan mengawasi. Pejabatnya, atau wakil.pemerintah yaitu Tuanku Demang Palin, pejabat bumi putera tertinggi.waktu itu.

Insiden itu terjadi ketika Hamka bercerita tentang kemelut kekuasaan di Ethiopia yang diserbu tentara Italia. Dalam ceramahnya itu Buya menyebut seorang raja yang diikat oleh raja yang mengkup kekuasaannya. Menurut Hamka, meskipun raja yang dinilai bijaksana itu diikat dan dibelenggu, pastilah ia akan berjuang untuk melepaskan belenggunya dan berjuang untuk merdeka.

Kata-kata merdeka dan perjuangan melepaskan diri dari belenggu itulah yang diprotes wakil pemetintah. “Stop! Dan pembicara saya perintahkan segera  turun!,” .Sekali lagi saya perintahkan turun,” kata Tuan Demang Palin.

Tentu tidak ada pilihan lain, sambil membereskan kertas konsep bahan ceramahnya Buya terpaksa turun dari mimbar dan diganti pembicara lainnya.

Dari tiga kasus yang dialami Buya Hamka di atas yang disesalinya adalah bahwa sikapnya tersebut menyulitkan posisi Muhammadiyah di mata pemerintah. Tetapi, kalau ditelaah dari sudut perasaan kebangsaan,sebenarnya sikap Hamka di atas tidak bisa dianggap menyalahi adat atau sopan santun, karena bisa dimengerti bahwa perilakunya itu  boleh jadi menggambarkan sikapnya yang anti penjajahan. Dan itu malah perlu diapresiasi bahwa dalam usia yang masih muda ia sudah punya spirit untuk merdeka melawan kolonial atau penjajah Belanda.

Masih terkait dengan masalah adat ini  pada tahun 1926 terjadi kekisruhan antara kaum adat dan tokoh agama atau ulama yang sedang mengembangkan Muhamadiyah di Minangkabau, khususnya di Maninjau di mana Hamka termasuk salah seorang aktivis Muhammadiyah.

Pangkal keributan hanya masalah sederhana. Tahun 1925 Muhammadiyah berdiri di Sungaibatang Tanjungsani,Maninjau (pen). Pada tahun 1926 diputuskan dalam sebuah musyawarah mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasatul Muballighin. Lalu disebarkan undangan dan pengumuman ke seluruh wilayah Maninjau dan daerah sekitarnya seperti Lubuk Basung, Tiku, Matur, Lawang dan lainnya. Bunyi pengumumuman dan himbauan, diserukan kepada sekalian angku-angku, cerdik pandai, ninik mamak dan orang terkemuka untuk mengirim anak mudanya belajar di Madrasatul Mubalighin.

Rupanya kata Sekalian dalam pengumuman itu dinilai sangat kasar. Kata itu disamakan dengan Kalian yang hanya digunakan orang tua kepada anak-anak yang belum bergelar. Atau perkataan orang tua kepada anaknya.Sebab itu,   maka pengumuman yang memanggil angku-angku, ninik mamak dengan kata Sekalian, sangat melanggar adat. Karena riuh dan menimbulkan kehebohan itu para angku atau penghulu dan ninik mamak minta pengumuman yang sudah tersebar segera dicabut dan yang masih ada supaya dibakar.

Untuk itu para ninik mamak yang berkeberatan dengan pengumuman ini minta diadakan rapat di Balairung Sungaibatang, dan yang melanggar ini diberikan sanksi atau hukuman.

Jika terbukti bersalah sanksinya ada dua macam. Jika dianggap tidak terlalu berat cukup dengan meminta maaf di muka umum, tapi jika dinilai berat harus minta maaf di muka umum dan memotong seekor kambing. Istilahnya waktu itu Ta-kambiang.

Rapat adat untuk menyidang tokoh-tokoh Muhammadiyah inipun terjadi, semua ninik mamak hadir dengan lengkap. Sedangkan pihak Muhammadiyah diwakili Engku M.Amin Datuk Penghulu Basa, Haji Yusuf Amrullah (adik dari ayah Buya Hamka, atau  Pak Cik atau bapak kecil Buya Hamka), dan kalangan muda Makmur Salim dan Buya Hamka sendiri. Rapat dipimpin Engku Kepala Nagari Datuk Tumanggung Putih.

Menurut Hamka, agak susah juga memberi pengertian bahwa kata-kata sekalian tidaklah sama artinya dengan kalian. Dengan tambahan “se” penghinaan atau merendahkan tidak ada lagi. Dalam bahasa Arab kata ” sekalian” sama dengan jami’, sedang kata kalian sama dengan antum.

Hamka menjelaskan, penghulu tidak mau mengerti. Sembilan puluh persen di antara mereka bura huruf. Bahkan, Datu Sati Pandan, yang terkenal disegani dan berani sangat marah mendengar H. Yusuf Amrullah menerangkan perbandingan arti dalam bahasa Arab itu. Dan marah beliau tidak tertahankan lagi setelah H.Yusuf Amrullah, Kadhi Nagari Sungaibatang ini mengatakan bahwa orang Melayu di Tanah Deli kata kalian itu adalah tanda hormat yang tinggi. ” Semacam Engku-engku ini , Ninik-mamak ini kalau misalnya berjalan-jalan ke kota Medan, akan ditegur oleh orang muda di sana,” Bila kalian datang,” ceritanya.

Belum habis perkataan beliau ,Engku Datuk Sati tidak dapat mengendalikan diri lagi. Dia bangun dari duduknya, lalu tanpa disadarinya menghentakkan kakinya ke lantai sambil berkata,” itu orang tidak beradat!”.

Biasanya kalau beliau telah marah, tidak ada penghulu yang berani menyatajan keberatan. Datuk Sati waktu mudanya sangat ditakuti orang. Tetapi, Hamka waktu iti yang masih berusia 18 tahun, telah menyusun jarinya dan bertanya kepada Engku Kepala yang memimpin rapat . ” Buliah batanyo seketek, engku,” pintanya. (Boleh bertanya sedikit Engku).

“Silahkan”,kata Engku Kepala.

Semua mata tertuju kepada Buya, apa yang akan dikemukakannya pada tokoh yang ditakuti itu.

“Apakah menghentakkan kaki di hadapan seorang anak buah yang diakui sebagai Ulama-Hukama dalan nagari ini, patutkah menurut adat?”.

Pertanyaan Buya ini mengagetkan peserta rapat, mengandung kritik yang sangat tajam pada seorang tokoh adat, datuk dan penghulu. Tentu saja membuat marah Engku Datuk Sati.

Waden nak tahu! Paja kaciak dari ma nan salancang nantun mangecek di muko urang tuo?” (Anak kecil dari mana ini, yang begitu lancang bercakap di hadapan orang tua?”).

Kemudian di antara peserta rapat mulai ada yang berani membantah. ” Kalau lah lakek gala di kuduaknyo, indak paja kaciak lai tio lai”, ujar Datuk Badaro nan Tinggi, seorang penghulu suku Tanjung.( Kalau sudah pakai gelar , bukan anak kecil lagi namanya”.

Melihat suasana agak panas, berbicaralah Datuk Rajo Endah, seorang penghulu yang dinilai agak tenang. Ia meminta Buya Hamka memohon  maaf dan menyalami Datuk Sati. Tapi, Buya menolak berdiri, dan hanya menghaturkan sembah dengan menyusun jari dari tempat duduknya. Bapak kecil Buya Hamka, H.Yusuf Amrullah, gembira dan senang melihat sikap anak abangnya ini, rupanya beliau mendapat jalan baru sehingga rapat ini bisa lebih singkat. Beliau mengaku bahwa cara pengumuman itu memang terburu-buru, sehingga tidak tahu ada yang bakal tersinggung.

Itulah sebagian dari pengalaman Buya Hamka berhadapan dengan kaum adat, yang dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau banyak kritiknya yang sangat tajam terhadap adat Minangkabau, yang sesungguhnya memasuki masyarakat yang sedang berubah sulit seluruh adat itu dipertahankan, dan akhirnya  digerus oleh waktu.

Mengangkut masalah adat ini Buya Hamka punya pengalaman ketika bertugas sebagai mubaligh utusan Pimpinan Pusat Muhamadiyah di Makassar. Selama 2 tahun (1932-1934) di Sulawesi Selatan, Buya selain sebagai mubaligh dan guru , juga aktivis Muhammadiyah, ia bertugas mempersiapkan muktamar Muhammadiyah. Selama di Makassar ia hampir mengunjungi semua daerah, termasuk Donggala di Sulawesi Tengah. Sedangkan di Sulsel Buya sempat berdakwah di Palopo, Majene (sekarang masuk Sulawesi Barat), Sidrap,Gowa, Jeneponto, Takalar, Bulukumba dan Bantaeng.

Sebagai seorang penulis dan pengarang pastilah Buya berusaha memahami budaya dan adat Bugis-Makassar, bahkan salah satu novelnya yang terkenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wiyk diilhami dan ditulis ketika tinggal di Makassar, meskipun baru terbit tahun l938 di Jakarta. Juga Buya melakukan beberapa terjemahan karya sastra yang berbahasa Arab disela tugasnya menjadi guru dan berdakwah.

Satu hal budaya Bugis-Makassar yang pasti dipahaminya adalah budaya Siri’,yaitu rasa harga diri dan martabat diri. Tahun 1977 Buya menulis makalah Pandangan Islam terhadap Siri yang disampaikab dalam seminar Masalah Siri’ di Sulawesi Selatan.

Berikut ini kita kutip pengalaman menarik Buya Hamka mengenai nilai budaya siri’ yang diambil dari disertasi doktor Dr. H.M. Laica Marzuki,SH, Siri’, Bagian Kesadaran Hukum Rakyat-Makassar (Sebuah Telaah Filsafat Hukum).

Hamka mengisahkan kematian Hambali, seorang guru sekolah Muhammadiyah Makassar, asal Bantaeng, di masa tahun 1934. Hamka bertugas sebagai guru yang sama dengan Hambali.

Pada suatu hari, sekitar jam 11.00. siang, saat jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba datang Mansyur Yamani, seorang pengurus Muhammadiyah, afdeling Makassar. Ia datang tergopoh-gopoh seraya memerintahkan para guru segera menyiapkan laporan kas keuangan sekolah karena ia mendapat laporan, para guru tidak menyetorkan uang sekolah kepada pengurus sebagaimana mestinya. Timbul perdebatan antara para guru dengan Mansyur Yamani. Hamka menjelaskan, pemasukan uang sekolah tidak lancar, bahkan para guru tidak lagi menerima gaji dalam jumlah yang sepatutnya.

Hambali, salah seorang guru , merasa sangat malu dengan sikap Mansyur Yamani yang seakan-akan menuduh para guru melakukan penggelapan. “Tuduhan Tuan Mansyur kepada kami, amatlah berat. Ini siri’, tuan! “, kata Hambali, disertai linangan air mata kepedihan.Mansyur Ramli menjawab”, Tuan-tuan boleh menampar muka saya dengan terompah tuan-tuan , tetapi anggota pengurus lain tidak berani mengatakan hal ini kepada tuan-tuan”.

Hamka bersama para guru lain menyaksikan betapa, rekan mereka masih diliputi kesedihan yang dalam di kala Mansyur Yamani berlalu meninggalkan tempat. ” Jika tidak kuat iman saya kepada Allah, niscaya saya telah melakukan pembalasan kepada tuan Mansyur”, kata Hambali seraya menghapus air mata.

Saat magrib, para guru berkumpul.kembali di rumah sekolah.Seusai salat berjamaah, diadakan rapat kilat bersama Mansyur Yamani. Mereka melanjutkan pembicaraan sehubungan dengan kas keuangan sekolah. Hambali tidak hadir. Sehabis shalat isya, ssdianya berlanjut kembali dengan rapat bersama beberapa pengurus Muhammadiyah Afdeling Makassar guna mendengar verslag Mansyur Yamani.

Tiba-tiba, sebelum rapat dibuka, datang seorang anak mengabarkan bahwa Hambali meninggal dunia, sekitar lima menit yang lalu. Mereka segera melayat ke rumah duka.Hamka mendapati bagian dada jenazah masih terasa panas. Salah seorang saudara perempuan  Hambali menceritakan, bahwa sekembali almarhum dari sekolah di siang hari, almarhum menangis tersedu, dan ketika ditanyakan mengapa ia menangis , ia tidak.menjawab. ” Kami semuanya termenung menyaksikan kejadian ini. Dan saya teringat kembali  akan perkataannya tadi siang. ” Ini siri” tuan!”, kenang Hamka.

Demikian pengalaman hidup Buya Hamka. Sesuai kata bijak orang tua Minang,” banyak berjalan banyak yang dilihat, banyak hidup banyak yang dirasakan”.

Buya Hamka telah membuktikan tamsil tersebut, generasi belakang tinggal memetik hikmah dan kearifannya

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda