Bintang Zaman

A.R. Fachruddin (5): Kisah Perantauan Anak Lurah

A.R.  Fachruddin lahir di Purwanggan, Yogyakarta, pada 14 Februari 1916. Empat tahun setelah Muhammadiyah berdiri (1912). Nama lengkapnya adalah Abdur Rozak Fachruddin. Ayahnya, Fachruddin, pernah menjabat lurah naib Pakualaman, Yogyakarta. Masa kecilnya pernah di lalui di Kota Jogja. Tetapi kemudian mengikuti orangtuanya ke pindah ke desa di Kabupaten Kulon Progo, sekitar 50 kilometer ke arah barat dari Kota Yogyakarta.

Sosok A.R. Fachruddin boleh dibilang sosok yang lekas matang. Pendidikannya di Standard School Muhammadiyah di Bausasran, Yogyakarta, hanya sampai kelas dua. Kemudian ia pindah ke tingkat sekolah yang sama di Kota Gede hingga tamat pada tahun 1928.

Sembari belajar di sekolah umum, A.R. Fachruddin juga belajar agama di Madrasah Muallimin Muhammadiyah, sambil merangkap di malam hari di Madrasah Wustho Muhammadiyah. Lalu ia juga sekolah di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah di Sewugalur, Brosot, Kulon Progo.

Ketika duduk di kelas dua Madrasah Darul Ulum, A.R. Fachruddin diminta menemani gurunya, Dawam Rozi, untuk bertugas ke Sumatera. Tepatnya di Talang Balai, Tanjung Raja, Ogan Kemering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, pada tahun 1935. Di sana ia diminta mengajar di SD Muhammadiyah dan Wustho (tingkat menengah)  Muallimin Muhammadiyah.

Sebenarnya mengajar di luar Jawa merupakan tugas yang diemban oleh Dawam Rozi, yang sebagai tamatan Muallimin wajib mengabdkan ilmunya beberapa lama di pelosok daerah. Sebagai anak orang kaya, Dawam Rozi enggan memenuhi tugas itu. Namun, pihak Madrasah Muallimin tidak pandang bulu, Dawam Rozi  akhirnya harus berangkat. Ia mengajukan syarat, minta ditemani muridnya yang bernama A.R. Fachruddin. Sang murid yang merasa belum cukup ilmu, maklum masih duduk di kelas dua, semula keberatan. “Sudahlah, nanti aku yang ajari kamu secara khusus sebelum kamu bantu aku mengajar,” pinta Dawam Rozi.

Benar saja. Di Sumatera Selatan itu A.R. Fachruddin langsung terjun mengajar. Namun, beberapa saat sebelum memberi materi pelajaran ia diajar dulu oleh gurunya di ruang tersendiri. Barulah A.R. Fachruddin masuk kelas. Begitu terus berlalu. Namun, baru enam bulan berjalan ternyata Dawam Rozi sudah merasa cukup melakukan tugasnya dan dia pun kembali ke Jawa. Sementara A.R. Fachruddin tetap tinggal di sana.

Sebagai seorang guru sekolah dasar di Sumatera Selatan semenjak ditinggal gurunya, pemuda A.R. Fachruddin benar-benar harus mandiri. Kemandirian dan ketekunannya pun diuji. Ketika di pelosok tersebut buku-buku untuk keperluan pengembangan dalam mengajar sulit di dapat, ia berinisiatif langsung memesan dari penerbitnya. Tak jarang ia harus bersusah-payah mengirim wesel kepada penerbit di Surabaya atau Jakarta demi mendapatkan buku-buku itu.

Selama  10 tahun di perantauan, ia sempat beberapa kali berpindah tempat mengajar. Setelah tiga tahun mengajar di Talang Balai, ia menjadi guru di tingkat pendidikan yang sama di Sekayu, Palembang, pada tahun 1941. Kemudian pada zaman pendudukan Jepang  ia mengajar di HIS Muhammadiyah Sungai Gerong, Palembang, pada 1942. Pada akhir pengembaraannya itu, ia pindah mengajar di Muara Meranjat, Tanjung Raja, OKI, sampai tahun 1944.

Sepulang ke Jawa A.R. Fachruddin mengajar selama dua tahun Sekolah Muhammadiyah Brosot, Kulon Progo. Pada saat inilah ia mulai bergiat di organisasi. Ia bergabung dengan pasukan Hizbullah Yon 39  di bawah komandan gurunya sendiri, Dawam Rozi, untuk menghadapi agresi militer Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Selain itu, ia mulai aktif di kepengurusan Muhammadiyah.

Pada  tahun 1938, saat masih di perantauan, A.R. Fachruddin menikah dengan seorang gadis bernama Siti Qomariyah. Mungkin lantaran kesibukannya baru enam tahun kemudan (1944), ia beroleh anak pertama yang diberinya nama Siti Walsilah. Putri sulung ini kelak bersuamikan Sutrisno Muchdam, aktivis pemuda Muhammadiyah yang kemudian menjadi anggota PP Muhammadiyah.

Kehidupan keluarga A.R. Fachruddin makin semarak lantaran hampir setiap dua tahun anaknya lahir hingga berjumlah tujuh  orang. Anak kedua, seorang laki-laki yaitu M. Sukriyanto, dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang juga aktif di PP Muhammadiyah (tahun 1998 menjabat bendahara,  dan kini menjadi pegiat seni dan budaya di persyarikatan, ed). Anak ketiga hingga anak ketujuh berturut-turut Zahanah, Lutfi, Farchan, Fazuzi, Fauzi dan Wastiyah.        

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat,  16 September 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda