Tafsir

Tafsir Tematik: Memecahkan Perpecahan (1)

Written by Panji Masyarakat

Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah anugerah Allah kepada kamu ketika kamu satu sama lain musuh, maka Allah merangkai hati kamu dan jadilah kamu berkat karunia-Nya sesama saudara. Sedangkan kamu berada di tubirlubang neraka, maka Ia punmengentaskanmu darinya. Demikian Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengambil  petunjuk. (Q. 3: 103).

Ini ayat kedua untuk “trilogi” takwa, ersatuan, misi. “Bila ayat yang lalu (lihat Takwa yang Bagaimana https://panjimasyarakat.com/2020/08/31/tafsir-tematik-takwa-yang-bagaimana-1/) datang untuk hukum perorangan, ayat ini (tentang persatuan) datang untuk hukum jamaah yang berhimpun.” (Thabathaba’i. III: 407).

Ada dua kata kunci di sini. Pertama. ‘tali Allah’. Dan kedua, ‘bercerai-berai’. Mengenai yang pertama, ayat ini adalah salah satu dari dua ayat yang memakai ungkapan “tali (dari) Allah dalam Alquran. Yang sebuah lagi: Q. 3: 112, selang sembIlan ayat setelah ayat di atas. Yakni, “Dikenakan kepada mereka kehinaan di mana pun mereka ditemuan – kecuali dengan tali Allah dan tali manusia… “ Dalam konteks pembicaraan dengan umat Yahudi, ‘tali Allah’ dalam konteks ayat tersebut adalah istilah yang mEnunjuk pada perjanjian  yang mereka terima dari umat Islam: “jaminan Allah” dan “jaminan orang Islam.” Adapun dari jurusan filsafat  ‘Tali Allah dan Tali Manusia’ menjadi istilah untuk Dimensi Vertikal dan Dimensi Horisontal kehidupan, dan ini merupakan sebuah diskusi yang lain.

Sebaliknya, ‘Tali Allah’  di sini tidak punya pasangan – tidak ada ‘Tali Manusia’. Ini karena ia dipakai dalam lingkup internal umat Islam, dengan arti yang menunjuk pada kesatuan. Ibn Abbas r.a. memberi makna ‘Tali Allah’ itu dengan jamah (Qurthubi, IV: 164). Juga Abdullah ibn Mas’ud r.a. jadi ayat ini berarti, “Berpeganglah kamu semua pada jamaah.” Adapun Qatadah r.a., menurut riwayat Sa’id, seperti juga As-Suddi dan Adh-Dhahhak, r.a., menerjemahkannya sebagai Alquran. Itu sama dengan Abu Sa’id Al-Khudri r.a., yang membawakan sabda Nabi s.a.w.: “Kitab Allah – dialah tali yang terulur dari langit ke bumi.”

Sedangkan menurut Ibn Zaid, ‘Tali Allah’ adalah Islam. Tapi Qatadah juga diriwayatkan oleh Ma’mar sebagai mengartikannya dengan perjanjian Allah dan perintah-Nya. Bagi Mujahid: perjanjian Allah. Bagi Athaa’: perjanjian (Thabari, IV: 30-32). Zamakhsyari kemudian meerangkan perjanjian itu sebagai mengenai “iman dan ketaatan” (Zamakhsyari, I: 450). Sedangkan Abul ‘Aliah memilih arti keikhlasan demi Allah semata-mata. Tthabari, IV: 51).

Adapun bagi Thabathaba’i, ‘Tali Allah adalah Alquran – meski ia tetap mengatakan , “Kalau kau mau ‘tali Allah’ adalah Alquran dan Nabi s.a.w.” Pilihannya itu didasarkan pada pengertian Q. 3: 101 dan hadis Nabi riwayat Ibn Mas’ud tersebut. di samping hadis Nabi riwayat Abu Sa’id di atas, atau hadis Nabi riwayat Abu Syuraih Al-Khuza’i (bahwa Quran ini pangkalnya di Tangan Allah dan ujungnya di tangan kita), atau pendapat Imam As-Sajjad bahwa ‘Tali Allah’ memang Alquran. Thabathaba’i juga menukil riwayat dari tafsir ‘Aiyasyi. Di sini Al-Baqir, imam ke-5, dituturkan berkata, “Keluarga  (aal) Muhammad, mereka itulah tali Allah yang diperintahkan-Nya untuk dipegangi.” Itu diperkuat dengan riwayat Thabrani, dari sumber Zaid ibn Arqam r.a., yang menuturkan kata-kata Nabi s.a.w. tentang tsaqalain (dua warisan berharga): Kitab Allah dan keturunan beliau (Thabathaba’i, III: 407, 417-418).

Thabathaba’i benar ketika menyatakan hadis tsaqalain juga dimuat sumber-sumber Ahlu Sunnah. Di samping riwayat Thabrani di atas, ada misalnya riwayat Muslim (lihat Bab Keutamaan Para Sahabat’), hadis dari sumber Zaid ibn Arqam yang baru saja disebut dengan versi lain. Di sini Nabi sa.w. menyebut “Kitab Allah … dan ahli bait-ku”  (kalimat terakhir ini beliau ulang tiga kali). Kemudian keterangan Zaidr.a.: ahli bait Rasulullah mencakup para istri beliau, tetapi yang beliau maksudkan adalah ahli bait yang diharamkan menerima shadaqah (termasuk zakat, tetapi tidak termasuk hadiah; pen). Mereka adalah: keluarga-keluarga Ali, Uqail, Ja’far dan Abbas, r.a.

Ad dua faidah. Pertama, ke dalam ahli bait yang diakui Syi;ah 12 Imam tidak termasuk keluarga Uqail, Ja’far dan Abbas, seperti disebut di atas. Kedua, bahwa Rasulullah berpesan tentang keluarga beliau, disamping tentang Alquran, bagi mereka yang di luar Syi’ah tidak berarti ahli bait menjadi sumber agama seperti Alquran; tidak pula bisa menggantikan Sunnah, atau disetarakan ucapan-ucapan mereka dengan hadis Nabi.

Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 24 Juni 1998       

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda