Pengalaman Religius

Shahnaz Haque (2): Doa Meminta Tanda

Written by Asih Arimurti

Diajak Gilang Menikah

Di depan Multazam (pintu Ka’bah, red), saya berdoa, “Allah,  kalau memang benar ini jodoh saya,  maka permudahkanlah, ya Allah. Berilah saya tanda, dengan berikan saya anak.”

Ketika Ayah meninggal, saya patah hati. Saya bilang ke kakak-kakak,  kayak-nya saya mesti ke Baitullah nih. “Oh ya sudah, naik haji saja sekalian,” kata mereka. “Mumpung masih muda, pergi saja, deh.” Okey. Saya pergi sendiri. Ini memang ada kaitannya dengan kehadiran Gilang dalam kehidupan saya. Dia mengajak saya menikah. “Okey kita akan menkah. Tapi, izinkan saya pergi naik haji dulu. Karena ini sudah jadi niat saya sejak Ayah meninggal.”

Sebelumnya, meski saya tahu namanya, tapi tak kenal siapa dia sebenarnya. Dia datang dan mengajak menikah. Jadi, saya harus bertanya. Hanya, saya harus bertanya kepada siapa? Katanya, kalau punya orangtua, mata orangtua lebih awas. Tapi orangtua kan sudah tidak ada. Harus bertanya kepada siapa lagi? Kepada kakak-kakak? Ah, mereka demokratis, paling-paling mereka akan bilang, terserah kamu sajalah. Ya, sudah, kalau memang okey, saya akan tanya ke Tuhan saja. Saya nanya Tuhan betul-betul dari hati. Saya memohon kepada Allah supaya dikasih tanda-tanda.

Ternyata Allah menjawab doa saya. Maret 2001 saya pulang haji, bulan Mei kami menikah, bulan Juni langsung saya hamil. Nah, di situlah saya mulai takut kepada Allah. Takut dalam pengertian begini: doa saya betul-betul dia jawab, maka saya tidak boleh main-main dalam hidup ini.

Saya menikah dengan Gilang Ramadhan pada tanggal 5 mei 2001. Perkenalan kami singkat. Satu minggu terakhir sebelum malam takbiran, tahun sebelumnya (2000), Gilang menghubungi saya via telepon. Telepon-teleponan selama tiga hari, hari keempatnya kami bertemu. Dan, saat itu kami kenalan. Saya tahu Gilang tapi tidak kenal. Tahu kalau dia pemusik, dia sahabat kakak-kakak ipar saya yang juga pemusik (Ikang Fawzi, suami Marissa Haque, Eki Sukarno, suami Soraya Haque, red). Tetapi saya tidak bermain sama dia karena saya bukan pemusik atau penyanyi. Dunia kami berbeda. Lalu saya tanya kakak-kakak, “Ini orang, siapa?” Jawab mereka, “Kayaknya okey Naz. Tetapi, orangnya juga tidak jelas, siapa.” Memang, meski mereka berteman sudah 15 tahun, kalau mengasihkan adiknya begitu saja, sepertinya kan serem juga. Ha ha ha.

Tetapi setelah saya lihat lingkungan pergaulan keluarganya,banyak kemiripan yang saya alami. Misalnya, cara orangtuanya mendidik, bagaimana seorang Ramadhan KH mengajarkan segi-segi kehidupan kepada anak laki-lakinya, termasuk Gilang. Saya pikir, wah antene-nya sama, nih. Sama dengan keluarga saya. Itu juga yang mempercepat saya bisa dekat dengan Gilang. Itu betul-betul diskusi yang luar biasa. Sampai suatu hari Gilang juga menceritakan bagaimana nasib ibunya yang juga terkena kanker, yang selama 30 tahun mencoba bertahan. Dalam hati saya bilang, wah ini, kenapa sama? Dalam arti, ini bukan orang yang baru yang mesti saya ajarkan lagi mengenai kehidupan saya, tentang perjuangan perempuan yang mempunyai penyakit ini. Kami beradadalam lingkungan keluarga dan didikan yang mirip. Keluarga yang mengajarkan sesuatu dengan cinta, yang tidak takut miskin, yang mau berubah menjadi lebih baik. Itu ‘kan karunia luar biasa yang Allah kasih.

Shahnaz Haque dengan kakak dan ipar-iparnya

Dan Allah memang sudah membuktikan kekuasaan-Nya, dengan memberi saya tanda. Saya hanya bilang bahwa pernikahan saya itu bukan kesenangan yang luar biasa. Tetapi kesedihan. Kenapa? Karena saya anak yatim piatu. Wah, nangis terus saya. Begitu juga dengan Gilang, dia piatu. Jadi saya bukan yang hip-hip hura-hura, menikah begitu. Ada yang ngilu di hati saya. Saya cuma bilang kepada Allah, izinkan orangtua saya melihat ini. Itu saja yang saya minta saat pernikahan dilangsungkan.       

Bersambung Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 13-25 Desmber 2002

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda