Tasawuf

Majma’al Bahrain

“Apakah keberadaanmu adalah suatu kepastian atau sekadar kemungkinan?” tanya Kyai Anom yang ikut bergabung di gotha’an setelah menemui Mbah Sirra.

Kehadirannya yang hampir selalu mendadak, ditambah dengan kebiasaan untuk langsung menodong dengan pertanyaan yang tidak jelas asbabul wurudnya; membuat kami tak pernah sempat menyiapkan kuda-kuda untuk menyikapinya.

“Karena sudah wujud, maka keberadaannya adalah kepastian. Bukan kemungkinan,” jawab Kang Sam setelah agak lama kami hanya diam dan saling berpandangan.

“Sekarang mari kita lihat dari sisi lain,” sambung Kyai Anom sambil menyelonjorkan kaki.

“Salah satu contohnya adalah ini: menurut ilmu biologi, dalam sekali ejakulasi sedikitnya ada 40 juta sperma yang dilepas oleh lelaki. 40 juta sperma ini harus beradu cepat agar dapat membuahi sel telur, karena pada akhirnya hanya 1 yang akan berhasil membuahi; sementara lainnya harus rela terbuang.”

Seperti biasa, pernyataan-pernyataan Kyai Anom selalu terkesan disengaja menggantung. Berhenti tidak pada titik, tapi hampir selalu hanya sampai koma. Demikian juga pernyataannya kali ini.

“Maksudnya?” tanya Lik Jum tidak sabar.

Bukannya menjawab, Kyai Anom malah tampak sibuk membolak-balik kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah yang ditemukannya tergeletak di gotha’an.

“Hai, ini kitab siapa?” seru Kyai Anom sambil mengacungkan kitab yang ditemukannya, “ilmu kok ditaruh di sembarang tempat!”

“Punya saya Yai…” jawab Giman sambil mengambil kitab dari tangan Kyai Anom dengan setengah ketakutan.

Gotha’an kembali hening. Pak Amal tampak suntuk membaca kitab, Kyai Anom asyik menikmati rokok kreteknya; sementara kami termangu-mangu menanti penjelasan lebih lanjut dari percakapan Kyai Anom.

“Kami masih bingung kaitan 1 dibanding 40 juta dengan masalah kepastian dan kemungkinan, Yai,” ungkap Kang Sam memberanikan diri.

Sekali lagi, bukannya menjawab, Kyai Anom malah melamun dan seolah tak mendengar pertanyaan Kang Sam. Matanya memandang kejauhan, sambil sesekali menyedot rokoknya dalam-dalam. Melihat situasi ini, Pak Amal berinisiatif memecah keheningan.

“Sekilas ini memang bisa terlihat sebagai masalah sudut pandang. Yang satu tentang kepastian, yang lainnya tentang kemungkinan,” jelas Pak Amal membuka kembali pembicaraan.

“Kalau kita lihat secara lahiriah; karena hanya ada 1 diantara sekurang-kurangnya 40 juta sperma yang berhasil membuahi sel telur, maka akan kita katakan bahwa yang terjadi adalah kemungkinan. Kita anggap 40 juta sperma tersebut punya peluang yang sama untuk membuahi. Dari sisi ini, kita akan melihat ada 40 juta sperma yang harus bersaing ketat dan beradu cepat; dan hanya yang tercepatlah yang akan jadi pemenangnya. Artinya, secara umum boleh dibilang bahwa yang 1 itu adalah hasil dari proses yang bersifat acak. Bisa yang mana saja diantara yang 40 juta,” lanjut Pak Amal.

“Baru di lihat dari satu sisi saja, yakni sisi keberadaan sperma; kemungkinannya sudah demikian banyak. Apalagi bila faktor-faktor lain; seperti kondisi sel telur dan kondisi penunjang lainnya misalnya, juga ikut dimasukkan dalam perhitungan; maka kemungkinannya akan jauh lebih rumit untuk diperkirakan. Tak mengherankan, bila untuk memahaminya para ilmuwan paling jauh hanya mampu meraba-raba polanya saja.”

“Sementara dari sisi yang lain, sebut saja sisi ruhaniyah, yang terlihat justru kepastian, bukan kemungkinan. Sejak awal yang 1 itulah yang memang sudah terpilih untuk membuahi, hanya dalam prosesnya ia memang harus berada dalam kumpulan 40 juta sperma lain. Apa yang dari kacamata kemungkinan dilihat sebagai sesuatu yang bersifat acak, berupa persaingan dan adu kecepatan dengan pola-pola tertentu misalnya; dari kacamata kepastian hanya terlihat sebagai bagian dari proses yang harus dilalui untuk mengantar yang 1 ke tujuannya, yaitu terjadinya pembuahan. Dari sudut pandang ini sejak awal memang hanya ada kepastian; kemungkinan hanya citraan akal manusia yang muncul karena melihat prosesnya.”

Pak Amal sekilas memandangi kami sambil mengatur ulang kenyamanan duduknya.

“Kepastian itu sisi Allah, yang hanya bisa didekati dengan keyakinan. Sementara kemungkinan itu sisi manusia, yang harus disikapi dengan kehati-hatian. Meski tidak sesederhana ini, dan tidak bisa begitu saja dipertentangkan; namun bisalah dikatakan bahwa yang satu muncul dari keimanan, yang lainnya muncul dari ilmu dan pengetahuan. Yang satu seharusnya menurunkan ketawakalan, yang lainnya seharusnya melahirkan ketaqwaan,” lanjut Pak Amal.

“Mari perlahan-lahan kita coba urai ulang. Bagi umumnya manusia, segala sesuatu bersifat kemungkinan sampai ia mewujud menjadi kenyataan, atau setidaknya dianggap mewujud menjadi kenyataan. Saat ia mewujud menjadi kenyataan, barulah ia disebut sebagai kepastian. Kepastian selalu dikaitkan dengan yang sudah mewujud, yang sudah menjadi kenyataan; karena itu ilmu dan pengetahuan manusia selalu dibangun oleh apa yang sudah mewujud, sudah menjadi kenyataan, yang sudah berlaku. Meski tetap dengan catatan: ini  pun tidak otomatis meniadakan semua yang sebelumnya disebut sebagai kemungkinan. Munculnya apa yang kemudian disebut sebagai tafsir pada dasarnya adalah bentuk lain dari beroperasinya sudut pandang kemungkinan dalam pikiran manusia.”

“Ini adalah pola dasar cara berpikir manusia. Bagi yang belum mewujud, ia masih tetap tampak sebagai kemungkinan, meski bisa diperkecil tapi tetap saja tak pernah bisa dipastikan. Sementara bagi yang sudah mewujud, dengan memperkecil ruang kemungkinannya bagi tafsir, bisa dibangun pemikiran tentang adanya kepastian. Tak ada perdebatan tentang ini. Tanpa pemikiran tentang adanya kepastian, tak akan ada pengetahuan apalagi ilmu; dalam fisika dan juga matematika misalnya, ini disebut sebagai konstanta. Bedanya, yang dibangun berdasar keimanan, kepastian diposisikan sebelum dan sekaligus bersama kemungkinan; sementara yang dibangun berdasar ilmu, kepastian diposisikan setelah kemungkinan.”

“Karena itu untuk apa pun yang belum mewujud, kita diajari untuk selalu mengucapkan insya Allah untuk kemungkinan yang baik, dan audzubillahi min dzalik untuk kemungkinan yang buruk…” celetuk Kyai Anom.

Sekali lagi kami menunggu kelanjutan penjelasan Kyai Anom, tapi seperti biasa dia kembali sibuk dengan rokok dan kopinya, seolah tak melihat bahwa kami menunggu kelanjutan pendapatnya.

“Selalu melihat kemungkinan adalah bawaan cara pandang manusia, karena itu persoalannya adalah: bagaimana menyikapinya?” Ujar Pak Amal memecah keheningan.

“Untuk menyegarkan ingatan, mari kita coba pahami pernyataan Khidhir terhadap Nabi Musa seperti terekam di surat Al Kahfi ayat 68: bagaimana kamu bisa bersabar terhadap sesuatu yang belum kamu ketahui? Dan kemudian terbukti, Nabi Musa tidak sabar menghadapi kenyataan-kenyataan yang dipertunjukkan Khidhir, karena ia memang tak punya pengetahuan yang cukup tentangnya. Mulai dari membocori kapal, membunuh anak kecil sampai memperbaiki bangunan yang nyaris roboh.”

“Kalau boleh disederhanakan: dari satu sisi bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan Khidhir terkait dengan sesuatu yang belum terjadi; sementara pemahaman Nabi Musa terkait dengan yang sudah terjadi. Artinya, pertemuan mereka adalah pertemuan antara ‘yang akan datang’ dengan ‘yang lampau’, antara yang diketahui dengan yang tidak diketahui, antara kepastian dengan kemungkinan, antara yang tak terbatas dengan yang terbatas, antara yang abadi dengan yang sementara. Dan inilah salah satu alasan kenapa pertemuan mereka terjadi di tempat yang disebut sebagai majma’al bahrain, pertemuan dua samudra.”

“Begini,” lanjut Pak Amal setelah agak lama berdiam diri, “kalau kita pakai ungkapan Khidhir terhadap Nabi Musa, kita bisa mengatakan bahwa kesabaran muncul dari pengetahuan; dan karena pengetahuan manusia terhadap ilmu itu bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis, maka kesabaran mereka pun akan bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis pula.”

“Itu yang pertama. Yang kedua, apa yang dilakukan oleh Khidhir: membocori kapal milik orang miskin, membunuh anak kecil yang tidak berdosa dan sukarela memperbaiki bangunan yang hampir roboh; secara ekstrim mempertunjukkan adanya kenyataan yang memang tak terpahami oleh ilmu mana pun yang diketahui manusia, termasuk oleh sosok sekelas Nabi Musa sekali pun. Ia hanya diketahui bila Allah sendiri yang memberitahukannya.”

“Ketiga, karena pada umumnya pengetahuan dan ilmu yang disusun darinya, tak pernah bisa mengantar manusia untuk memastikan apa yang belum terjadi, belum mewujud; maka pada dasarnya ia tak sepenuhnya bisa menjadi landasan manusia untuk memiliki kesabaran dalam menghadapi masa depannya. Untuk itu ia butuh sesuatu yang lain, yaitu: keyakinan.”

“Keyakinan sendiri bisa dibangun setidaknya lewat dua landasan. Yang pertama, berlandas adanya campur tangan Allah; yang kedua sebaliknya, menganggap tak adanya campur tangan Allah. Seperti tadi sudah disinggung, keyakinan yang berlandas adanya campur tangan Allah, melihat kepastian sudah ada sebelum dan selama menggejalanya kemungkinan. Sementara yang menganggap tak adanya campur tangan Allah, melihat kepastian sebagai hasil acak dari menggejalanya kemungkinan. Meski sama-sama berdasar keyakinan, namun konsekuensi yang dihasilkannya sangat jauh berbeda.”

“Contoh awal yang disebut Kyai Anom tadi pada dasarnya dipilih karena secara dramatik mempertegas perbedaan kedua pendekatan tersebut; dan karena itu bisa menjadi simulasi model penyikapan dalam menjalani kehidupan. Bukankah dalam kehidupan kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit dan membingungkan tanpa pernah tahu secara persis hasil akhirnya? Bukankah selalu ada waktunya manusia harus berhadapan dengan keadaan-keadaan tertentu yang menggoyahkan seluruh bangunan pengetahuan dan pemahamannya terhadap kehidupan?”

“Dalam menyikapi keadaan demikian, orang yang yakin adanya campur tangan Allah akan yakin pula bahwa hanya kepastian Allah-lah yang akan mewujud; sehingga ia tetap memperoleh ketenangan meski di tengah apa yang dalam prosesnya terlihat sebagai sesuatu yang acak dan tidak pasti. Dalam situasi macam ini, dampak guncangan bagi mereka  akan jauh lebih kecil, karena setidaknya mereka masih memiliki harapan tentang sesuatu yang tidak atau belum diketahuinya. Inilah yang menjadi sumber kesabarannya. Dan dengan adanya kesabaran, ia juga akan memperoleh ketenangan dalam menjalaninya.”

“Sementara sebaliknya, mereka yang menganggap tidak adanya campur tangan Allah; akan cenderung untuk selalu dalam kondisi tidak tenang, tidak aman dan kebingungan karena yang dilihatnya hanyalah ketidak-pastian dari situasi yang dianggapnya acak. Kebingungan yang bisa mengantar mereka pada keputus-asaan atau tindakan ngawur tanpa perhitungan, yang akibatnya justru membuat mereka makin terpuruk.”

“Masalahnya, banyak yang katanya beriman, yang sehari semalam setidaknya 17 belas kali memohon: ihdinas shiratal mustaqim, tapi kenyataannya tidak juga yakin terhadap campur tangan Allah…” celetuk Kyai Anom.

Meski sejauh pengetahuan kami celetukan Kyai Anom sangat mungkin tak berlanjut, namun kami tetap diam menunggu; sekadar memberi jeda kalau-kalau ada keajaiban yang membuatnya sudi memberi penjelasan lebih banyak. Tapi, seperti biasa, lagi-lagi tak ada kalimat lanjutan bagi pernyataannya tersebut.

“Menarik,” ujar Pak Amal, “Di surat An Nahl ayat 76 disebutkan bahwa ‘Dia berada di atas shiratal mustaqim’? Dari sini kita bisa mengatakan bahwa shiratal mustaqim adalah jalan kepastian, jalan yang pasti, yaitu jalanNya. Yang juga harus diingat, kata shirat dalam Al Qur’an selalu digunakan dalam bentuk tunggal, setidaknya ini menegaskan bahwa kepastian memang selalu tunggal.”

“Sementara dalam redaksi ihdinas shiratal mustaqim terkandung pengakuan bahwa ilmu dan pengetahuan kita terbatas, dan itu pun hanya mengandalkan kemungkinan; sehingga tak mungkin merengkuh kepastian dari ilmu Allah yang tak terbatas. Karena itu kita selalu butuh petunjuk, pertama setidaknya agar tepat dalam menerapkan ilmu dan pengetahuan yang sudah kita miliki, sehingga tidak menghasilkan mudharat. Kedua, agar sabar dan tepat dalam bersikap menghadapi sesuatu yang kita tidak atau belum punya ilmu tentangnya.”

 “Shiratal mustaqim disebutkan sebagai jalan mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah. Dalam kaitan ini bisa dihubungkan dengan mereka yang yakin adanya campur tangan Allah sehingga menemukan ketenangan dalam menghadapi kehidupan.”

 “Secara sekaligus kita juga memohon dijauhkan dari jalan mereka yang terkutuk dan mereka yang tersesat. Ini adalah dua sikap yang berpotensi muncul dari mereka yang menganggap tak adanya campur tangan Allah dalam kenyataan. Seperti tadi sudah kita sebut, mereka berpotensi untuk putus asa, yang bisa dikategorikan sebagai golongan yang terkutuk; atau bisa pula ngawur, yang bisa dikategorikan sebagai golongan yang tersesat.”

“Nah, dari sudut pandang ini, shiratal mustaqim bisa juga disebut sebagai semacam barzakh, garis batas dari majma’al bahrain, pertemuan dua samudra; yakni samudra kemungkinan manusia dan samudra kepastian Allah…” celetuk Kyai Anom sekali lagi.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda