Jejak Islam

Menelusuri Lorong Keislaman Keraton Yogyakarta (5)

Written by Abdul Rahman Mamun

Mengentaskan yang Sudah Lapuk

Lebih dari satu abad lima naskah-naskah  Babad Demak, Mingsiling Kitab, Tajussalatin, Kitab Ambiya Jawi, dan Kadis Ngabdul Kadir Jaelani  disimpan di perpustakaan keraton Kesultanan Yogyakarta. Siapa pun, kecuali petugas khusus, tak boleh menjamah, apalagi membawa ke luar kelima naskah itu. Kondisi naskah-naskah asli berbahasa Jawa itu begitu rapuh. Beberapa lembar Babad Demak malah sudah hilang.

Namun, kini Anda sudah bisa menikmatinya, meski dalam bentuk duplikat. Hebatnya lagi, Anda tak perlu pula mengerti huruf dan bahasa Jawa. Semuanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini berkat rangkaian penelitian terhadap khazanah sastra Jawa Kraton Kesultanan Yogyakarta, yang dipraarsai Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia (YKII) sejak tahun 1997.

Menurut Suharyanto, salah seorang pencetus ide, proses penerjemahan (baca: penelitian) melalui lima tahap. Pertama, mutrani, atau penyalinan dari naskah asli. “Ini perlu dilakukan karena naskah aslinya sudah sangat rapuh untuk dibuka lembar demi lembar,” kata kepala bagian Museum  dan Kepurbakalaan (Muskala) Kanwil Depdikbud Daerah Istimewa Yogyakarta (kini, setelah era otonomi daerah menjadi bagian dari Dinas Kebudayaan DIY, ed). Kedua,alih aksara dari huruf Jawa ke huruf latin. Ketiga, penerjemahan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Keempat,  pemaparan dari bait-bait menjadi uraian yang lebih bersifat prosa. “Hal ini mengingat hampir seluruh naskah berbentuk tembang-tembang Jawa,” tutur Damami, salah seorang peneliti. Upaya terakhir adalah membahas dan menganalisis isi naskah dengan berbagai pendekatan. Dalam penelitian ini terlibat banyak peneliti seperti Prof. Dr. Simuh, pakar tasawuf dan kejawen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, ahli sejarah keislaman Indonesia, Dr. Djoko Suryo, ahli sejarah pedesaan. Dua yang terakhir dari Universitas Gadjah Mada. Hasil penelitian dari kelima naskah itu telah dibahas dalam sebuah seminar (akhir Maret 1998). Ini salah satu upaya untuk mengangkat kekayaan keraton, khususnya khazanah sastra Jawa bernafaskan Islam.

Diperlukan satu tahun untuk menyelesaikan penerjemahan dan penelitian ini. Bandingkan dengan penulisan naskah-naskah itu sendiri, yang  masing-masing panjangnya 300-500 halaman, yang memakan waktu puluhan tahun. Contoh naskah Tajussalatin mulai ditulis pada 1831 dan dirampungkan pada 10 April 1852. Padahal, si penulis hanya menerjemahkan karya berbahasa Melayu (aksara Arab pegon) dengan judul sama  dari karya Bukhari Al-Jauhari (1603M).

Tapi, penulis memang tidak sekadar menyalin. Kata para peneliti, itu karya gubahan karena bentuk penyajiannya tidak sepenuhnya menggambarkan pengalihan bahasa saja, tapi juga pengolahan atau penggubahan bahasa dan substansi dari karya aslinya. “Secara hermeneutik, yaitu dari segi interpretasi dan pemaknaan kandungan teks ke dalam teks baru, di sana-sini banyak terjadi pergeseran makna,” tulis mereka. Ada proses penjawaan dalam proses pemaknaan dan interpretsi sehingga terjadi penambahan dan pengurangan substansi. Selain itu, pengubahan substansi Tajussalatin asli ke dalam bentuk-bentuk macapat merupakan bentuk kreativitas yang menghendaki kemampuan interpretasi dan pemaknaan yang tinggi. Ada kalanya pula penulis tidak mengerti beberapa lafal, lalu ditinggalkan. Itu sebabnya diperlukan waktu panjang.

Dua naskah yang lain juga karya salin: Kitab Ambiya Jawi I dari Serat Ambiya yang ditulis di masa Kerajaan Kartasura; Kadis Ngabdul Kadir Jaelani dari teks-teks Ngabdul Kadir Jaelani yang lain. Sedangkan Mingsiling Kitab, sebuah naskah yang sangat penting bagi kerabat keraton sebagai kitab ajar dan pedoman hidup, merupakan rangkuman dari berbagai kitab , plus isi khutbah yang pernah didengar. Ini sesuai dengan judulnya yang oleh penulis diterjemahkan “misil saking dalil kitab”  yang terjemahannya kira-kira “beberapa petikan berfaedah yang diambil dari beberapa kitab (agama)”. Mungkin hanya Babad Demak yang bisa dibilang karya asli. Yang pasti, semuanya naskah-naskah bernilai sejarah  dan sastra nan tinggi.        

Sumber  Majalah Panji Masyarakat, 29 Juli 1998.

About the author

Abdul Rahman Mamun

Direktur Utama panjimasyarakat.com, CEO Magnitude Indonesia, Ketua dan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI 2009-2013, pernah menjadi jurnalis & producer di Metro TV dan ANTV. Menyelesaikan studi Teknik Sipil UGM, jurusan Tafsir-Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan menempuh studi Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda