Adab Rasul

Hikmah Kisah Sisa Air Wudu Rasulullah

Written by B.Wiwoho

Mahatma Gandhi : “Bukan pedang yang membuat Islam berjaya, tapi kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan diri, kesetiaan yang luar biasa kepada janji, kasih sayang yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberanian yang tak mengenal rasa takut, serta  keyakinan yang mutlak kepada Tuhan dan misinya”.

Pada suatu ketika, Rasulullah sedang mengambil air wudu.  Tiba-tiba para sahabat datang saling berebut menampung air bekas wudu beliau yang mengucur dari sela-sela jari tangannya, lalu memanfaatkan untuk membasuh wajah masing-masing. Tentu saja Nabi heran menyaksikan para sahabatnya berlaku aneh dan jorok macam itu.  Air musta’mal sisa-sisa nabi berwudu malah dipakai untuk mencuci muka mereka yang bersih.

Maka Baginda Rasul bertanya penuh rasa ingin tahu, “Wahai para sahabatku, apa yang sedang kalian lakukan ini?  Mengapa air kotor bekasku berwudu kalian pergunakan untuk membasuh muka?”

Salah seorang sahabat menjawab, “Kami sedang menunjukkan rasa cinta kami kepadamu, ya Rasulullah. Jangankan sekadar air bekas wudumu, kalau perlu lumpur bernajis bekas kauinjak dengan kakimu pun akan kami lumur­kan ke wajah kami pertanda kami amat cinta kepadamu”.

Kanjeng Nabi menggeleng dan bersabda, “Tidak, para sahabatku tercinta.  Bukan seperti itu cara kalian membuktikan cinta kepadaku.  Kalau memang kalian benar-benar cinta kepa­daku, patuhilah ajaranku, dan kerjakanlah sunahku”. Lalu Nabi pun bersabda, “Barang siapa mencintai sunahku, berarti dia mencintai aku.  Dan barang siapa mencintaiku, pasti akan ber­sama dengan aku dalam surga”.

Cerita menarik yang penuh hikmah ini ditulis dengan indah oleh K.H.Abdurrahman Arroisi dalam dalam buku ketujuh seri “30 Kisah Teladan”  (Penerbit PT Remaja Rosdakarya – Bandung)

Sahabat pembaca, dari peristiwa ini kita bisa mengambil hikmah bagaimana seharusnya kita mencintai Rasulullah, yakni dengan mematuhi ajarannya, mengerjakan sunahnya termasuk  segala adab dan perilaku beliau, bukan semata-mata kepada pribadinya.

Ajaran dan sunah Rasul tersebut dapat diketahui dari berbagai perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifatnya, yang selama ini kita kenal sebagai hadis dan sunah Rasul. Baik hadis maupun sunah, pada umumnya dijumpai secara bersamaan, saling melengkapi satu sama lain. Ulama hadis memandang sunah adalah segala kebiasaan Nabi Muhammad Saw, baik yang berkaitan dengan hukum syara’ maupun tidak. Dengan kata lain, sunah sama dengan hadis.

Sedangkan ulama ushul fiqih memandang sunah sebagai segala perkataan, perbuatan, ketetapan yang bersumber pada Nabi Muhammad Saw, akan tetapi hanya yang berhubungan dengan hukum syara’, yaitu seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia, yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.

Tulisan ini tak hendak membahas perbedaan tersebut. Kita membatasi pada upaya meneladani adab, perilaku dan sifat mulia Baginda Rasul, yang bisa kita ketahui dari baik yang disebut hadis maupun sunah, yang berasal dari kumpulan-kumpulan hadis terutama hadis sahih, serta riwayat  dan sejarah Nabi yang disusun atau bersumber dari para sahabat dan tabi’in.

Tentang hadis, dua penghimpun hadis yang paling diakui kesahihannya serta kelengkapannya adalah Bukhari dan Muslim. Bukhari telah membukukan lebih 7.000 hadis, sedangkan Muslim 7.500. Meskipun demikian Imam Bukhari menyatakan, ia masih hafal sekitar 100.000 hadis sahih lagi dan 200.000 yang tidak sahih. Periwayat lain yang hadisnya dinilai termasuk sahih antara lain  Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim al-Naisaburi, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi.

Di samping hadis dan riwayat yang bersumber dari para sahabat dan tabi’in, berkembang menjadi sejarah dan riwayat hidup Kanjeng Nabi. Ada yang tetap berpegang pada sumber tersebut, tapi banyak juga yang diolah menjadi versi para orientalis yang berusaha mencari dan menafsirkan secara negatif.  Meskipun demikian, ada pula penulis Barat yang cukup obyektif misalkan mantan biarawati dan penulis Inggris termasyhur Karen Armstrong, yang menulis buku Muhammad Prophet For Our Time.

Dalam alinea penutup bukunya, Karen Amstrong memperingatkan: ”Jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama serta tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada ’Islam’, yang berarti perdamaian dan kerukunan.”

Peringatan Karen Amstrong itu pada hemat penulis sangat dan lebih tepat, terutama ditujukan kepada bangsa Indonesia saat ini, yang hawa panas pembelahan terhadap sesama anak bangsanya sedang sangat terasa, dan tentu saja amat  mengkhawatirkan bagi persatuan dan kesatuan nasional.

Kepada sahabat-sahabat muslim, dalam menyikapi situasi seperti itu, marilah kita berpegang teguh serta meneladani junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad, yang oleh tokoh dunia Mahatma Gandhi digambarkan sebagai berikut:

“Saya takjub, manusia  seperti apakah yang hingga hari ini menawan hati jutaan manusia. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang membuat Islam berjaya. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan diri, kesetiaan yang luar biasa kepada janji, kasih sayang yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberanian yang tak mengenal rasa takut, serta  keyakinan yang mutlak kepada Tuhan dan misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung. (MajalahYoung India , 1928, Volume X).

Demikianlah, kebesaran Islam memang bukan terbangun dari  gemuruh lagu-lagu pujaan, melainkan pada kesadaran  dan kepatuhan umat akan keislamannya. 

Subhanallah walhamdulillah. Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda